Istimewa

Pesona Babi Kutil: Sebuah Pengalaman Dalam Suatu Relawan Penelitian

DSCN0708

Menjadi mahasiswi biologi, saya akrab dengan banyak jenis penelitian, meskipun tidak semuanya saya jamah. Namun saya sedikitnya paham setiap kali dihadapkan dengan paper hasil publikasi penelitian ilmiah yang terbilang “asing” bagi masyarakat biasa. Banyak jenis-jenis penelitian yang diketahui dan sudah dipelajari manusia. Banyak dari jenis tersebut diaplikasikan ke banyak jenis-jenis objek kehidupan mulai dari hewan, tumbuhan dan bahkan organisme terkecil sekalipun. Banyak dari jenis tema penelitian tersebut dikombinasikan dengan disiplin ilmu lain, dengan prinsip kinerja suatu atau beberapa metode, dengan konsep penelitian terdahulu atau sekedar percobaan dengan beberapa variable. Mungkin kalau disebutkan satu-satu, cerita saya akan membosankan seperti ruang kuliah. Dari banyaknya tema, satu yang membuat saya tertarik. Saya tertarik mendalami konservasi, khusunya alam liar. Melihat alam sekitar yang ramah dengan ekosistem yang seimbang adalah keinginan saya. Dari situ mulai saya berangkat untuk mempelajari hal yang membuat jantung saya berdegup kencang. Beruntung, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah penelitian, melalui sebuah rekruitmen singkat dari pengelola. Chester zoo tepatnya. Saya direkrut sebagai tenaga volunteer. Mendapatkan posisi ini saja, saya sudah bersyukur. Setidaknya saya diizinkan untuk menimba ilmu bersama para rekan yang sudah expert, apalagi sekelas “Chester zoo”. Sepintas tentang Chester, adalah sebuah kebun binatang yang terletak di London, UK dan memiliki program konservasi serta riset yang mumpuni.

Dengan perasaan girang dan sedikit gugup saya berangkat menuju bogor untuk bertemu peneliti utama. Setelah mendapatkan briefing, kami memulai perjalanan kami menuju ke selatan pulau jawa, yaitu garut. Ada apa di Garut? Lalu apa yang kami lakukan disana? Pertanyaan itu muncul ketika teman-teman saya penasaran dengan apa yang akan saya kerjakan. Dengan santai saya menjawab “survey penelitian Babi Kutil”. “Hah, Babi?” “Terus diapain Babinya?” “Ditangkep?” “Kalo lu nanti diseruduk gimana?” “Lu kan kecil?” “Berapa banyak tim nya?” “Ada cowok nya gak?” Hahah. Ya berbagai macam-macam respon dari teman-teman, dan keluarga menjadi yang paling khawatir diantara mereka. Namun, selain respon tersebut, ada pula yang merespon dengan positif (karena memang kita bekerja dan memiliki passion yang sama), mungkin ada pula yang iri ingin mendapatkan kesempatan ini. Ya saya harus bersyukur. Pun saya juga berharap untuk makin banyak orang yang mendapatkan kesempatan ini untuk belajar.

Yang saya lakukan sebagai volunteer adalah untuk mensurvei keberadaan babi kutil. Mengapa Babi kutil? Karena hewan ini merupakan salah satu jenis yang dikategorikan “endangered” atau terancam keberadaannya di alam oleh IUCN. Sementara Indonesia sendiri belum memberikan status perlindungan terhadap hewan ini, sehingga jenis ini masih banyak diburu. Tentunya juga harus banyak dilakukan dokumentasi pada keberadaan hewan ini di alam. Agar dapat diketahui masih ada atau tidakkah hewan ini di alam. Babi kutil atau yang biasa disebut celeng gonteng oleh masyarakat sekitar memiliki bentuk tubuh yang sedikit berbeda dari babi hutan biasa yang sering disebut bagong. Babi bagong dikenal memiliki bentuk tubuh yang besar sedangkan Babi kutil tubuhny lebih kecil dan lebih pendek, namun tubuhnya cenderung memanjang serta tingginya kira-kira berkisar hingga lutut manusia.

Lokasi penelitian yang digunakan adalah cagar alam sancang, garut. Sedikit cerita mengenai cagar alam ini, merupakan rumah bagi banyak jenis satwa liar, tentu saja termasuk babi kutil, sayangnya untuk data daftar spesies yang hidup di kawasan ini belum terdokumentasi dengan sempurna. Kawasan ini memiliki hutan sekunder dan hutan mangrove serta berbatasan dengan perkebunan karet dan berakhir pada pantai yang menghadap selatan pulau jawa. Selama penelitian, saya tinggal di sebuah kantor cagar alam yang letaknya tidak jauh dari lokasi penelitian, yang juga dekat dengan obyek wisata berupa pantai cijeruk, kampung cibaluk, yang menawarkan pesona pantai yang tak kalah indah dengan pantai indonesia di luar pulau jawa sana. Menyenangkan sekali selama tinggal disana.

Seperti halnya kegiatan penelitian lainnya, pengambilan data sampel dan pemiihan metode harus disesuaikan dengan sifat dan perilaku hewan tersebut dan juga data apa yang akan diambil. Karena Babi Kutil termasuk hewan nocturnal atau hewan yang aktif pada malam hari, maka kami melakukan penelusuran survei pada malam hari di hutan. Sebetulnya kami juga melakukan kegiatan pada siang harinya untuk memasang kamera jebak (camera trap) yang disebar ke beberapa titik lokasi penelitian. Namun kami ke hutan pada siang hari hanya pada hari pemasangan kamera saja, selain itu kami melakukannya semua pada malam hari.

Bekerja menggunakan kamera ini pun adalah hal baru bagi saya. cukup mudah untuk mengoperasikan alat ini. tidak rumit karena tidak perlu menghubungkan dengan program lain, cukup dengan memberinya baterai alkali biasa serta mengecek ketersediannya dan memastikan kartu memori telah tertanam didalam kameranya. Tetapi dibutuhkan kemampuan untuk mengetahui angle yang baik untuk mengambil gambar. Beberapa lokasi dengan keberadaan semak yang tinggi harus dihindari dan juga sebaiknya dijauhkan dari panas. Kami juga harus menyembunyikan kamera tersebut dengan benda sekitar karena ternyata benda-benda seperti ini rawan dicolong warga. Duh orang indonesia.

Tidak mudah untuk melakukan survei mammal dan burung secara nocturnal. hewan-hewan ini justru cenderung takut dan mudah menghindar akan keberadaan manusia, sehingga tidak mudah untuk menemukan kelompok hewan ini. akan tetapi apabila sudah memiliki banyak pengalaman terjun ke lapangan dalam pengamatan secara langsung, maka dapat dipastikan dapat mahir dalam menemukan bahkan mengidentifikasi hewan tersebut.

Selama satu bulan, penuh dengan aktivitas keluar masuk hutan dan juga aktivitas “malam” (tapi bukan clubbing ya), ditemani suara burung dan suara serangga malam hari, dinginnya angin malam serta seberkas cahaya senter berfilter merah yang menerangi kami. Sementara pada siang hari, kami harus bersahabat dengan panas terik matahari yang menyengat kulit, juga hafal bau logam pembungkus, rantai dan gembok kamera yang basah oleh embun, serta beberapa kamera jebak pada punggung dan kamera digital pada tangan (kami perlu membawanya untuk dokumentasi). Kami tidak melakukan kegiatan pada siang hari setiap harinya, tapi setidaknya dalam satu bulan kami harus melakukan itu semua sebanyak 4 kali. Dikarenakan selain pemasangan, kami juga harus melakukan pemindahan kamera-kamera tersebut pada titik lokasi lainnya. Selama pemindahan tersebut kami harus melakukan pengecekan apakah selama benda itu terpasang pada lokasi yang dipilih terdapat babi yang tertangkap kamera? Ataukah hewan jenis lain yang tertangkap? Ada ataupun tidak kami harus tetap mencatatnya. Selain itu juga diperlukan melakukan pengecekan pada baterai dan segera menggantinya dengan yang baru apabila sudah habis dayanya. Tentulah baterai ini menjadi barang yang dibutuhkan.

Mungkin saat ini kamu sedang bermain dengan imajinasimu, membayangkan pada apa yang kami lakukan, atau mungkin bahkan berpikir betapa gilanya kami, betapa lelahnya melakukan itu semua. Lelah itu pasti. Semua jenis pekerjaan pastilah melelahkan. Bahkan untuk seorang model pun yang memiliki tugas hanya dengan berpose, tapi pasti terselip rasa lelah. Akan tetapi rasa lelah itu akan terasa berbeda, bila hasil jeri payah lelah kita memuaskan dan berhasil, pasti terasa menyenangkan. Ditambah dengan keberhasilan hasil kerja tersebut adalah hal yang paling kita sukai, membuatnya berkali-kali lipat nilainya. Itulah yang saya rasakan sebagai tenaga relawan. Meskipun rasa lelah menghampiri, tetapi senang rasanya dapat merasakan dan mengenal lebih dalam seperti apa rasanya jadi peneliti. Kegembiraan saya menjadi maksimal kala melihat hasil tangkapan video oleh kamera jebak yang menampilkan gambar Babi pada beberapa kamera yang saya pasang, meskipun itu belum bisa dipastikan apakah hewan tersebut berjenis babi kutil, dikarenakan posisi babi yang tertangkap tidak memperlihatkan wajahnya pada kamera. Tetapi itu sungguh diluar ekspektasi saya. akan lebih berkali-kali kali lipat hebatnya bila menemukan hewan itu pada saat survei malam. Tapi sayang, yang kami temui saat malam adalah hanya suaranya dan suara semak yang diterjang oleh makhluk tersebut. Hewan itu selalu cepat-cepat kabur menghilangkan diri dari pandangan kami. Setidaknya selama survei, terlihat beberapa ekor musang yang menghibur kami.

Menjadi seorang peneliti memang tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi dan juga prioritas- prioritas yang dikorbankan, jauh dari keluarga misalnya. Tetapi tugas ini adalah mulia. Indonesia sangat butuh tenaga-tenaga mulia macam ini, untuk membenahi dan mengelola lingkungan sekitar. Alam liar dan seisinya juga tentunya. Karena semua jenis-jenis makhluk hidup yang ada pada berbagai macam ekosistem di Indonesia adalah aset negara yang harus dilestarikan untuk masa depan. Tidak semua orang bisa menjadi peneliti dan butuh upaya yang besar pula untuk mencapai posisi tersebut. Untuk itu sekiranya kita dapat menghargai para peneliti yang telah bekerja keras.

 

Istimewa

Wisata murah meriah: Menilik Kawanan Rusa di Kebun Gedung Negara, Cirebon

IMG-20170814-WA0000[1]Sekarang rakyat Cirebon tidak perlu pergi ke Istana Bogor atau Taman Safari untuk melihat Rusa. Ya, hewan ini bisa ditemui di Gedung Negara. Pemandangan sore hari di Gedung Negara ramai dengan barisan pengunjung di luar pagar dengan seikat kangkung dan wortel. Ya, ini adalah pemandangan yang sering dilihat apabila anda melintasi Bunderan Krucuk. Kawanan rusa ini menarik perhatian pengendara roda dua atau lebih yang melintas untuk bertandah di kebun rusa gedung negara. Pengunjung bisa memanfaatkan momen ini untuk bercengkrama dengan rusa sambil memberinya seikat kangkung ataupun wortel atau hanya sekedar mengambil gambar. Rusa-rusa ini sangat menggemaskan dan bersemangat dalam menyantap makanannya. Tidak perlu khawatir akan merogoh kocek anda lebih dalam layaknya tiket masuk kebun binatang yang mahal, cukup hanya dengan 3000 ribu rupiah untuk membeli makanan rusa, anda sudah bisa mengabadikan momen tersebut bersama keluarga, teman, ataupun pacar. Antusiasme warga Cirebon dengan adanya wisata ini sangat besar dan pengunjung yang datang pun terbilang ramai sekali, sampai-sampai pihak pengelola harus membatasi interaksi pengunjung selama 20 menit saja, karena saking banyaknya pengunjung yang datang. Wah, semoga tidak membuat macet jalanan kota Cirebon yah. Anyway, wisata dadakan dan murah ini pun adalah jenis wisata yang kaya akan sarat edukasi. Bagi anda yang memiliki putra atau putri yang masih kecil, tempat ini akan sangat cocok untuk dikunjungi bersama buah hati, anda dapat memanfaatkannya untuk mengajarkan anak mengenal jenis hewan dan menjadi penyayang binatang serta tidak takut pada hewan. Bagi anda yang belum memiliki buah hati, tak perlu risau, anda bisa saja berpartisipasi dengan rusa atau juga mengambil gambar dengan rusa. Selamat mencoba.

Istimewa

Hallo, Saya Maya Damayanti

Ini adalah kutipan pos.

Halo pemuda Indonesia. Ini adalah pos pertama saya. Mulai sekarang saya akan menggunakan platform ini untuk membagikan pengalaman saya terkait latar belakang yang saya punya sebagai biolog. Tidak hanya itu, blog ini akan dipenuhi dengan opini-opini dan pemikiran saya yang mungkin sedikit agak “liar” dalam menyikapi hal yang ada disekitar kita. Eits, saya juga orangnya suka hiburan, jadi saya akan berusaha membagikan sesuatu yang menarik seperti wisata, food atau tips-tips ringan untuk anda. So, hope you will enjoy this meals!

pos

DRAMA TRAVELING

Foto-foto yang ditampilkan seadanya, nggak suka foto saya

Berapa banyak dari kita yang suka jalan-jalan atau traveling atau main? Yakin, pasti banyak. Gak perlu lah saya mensurvei lebih mendalam perihal ini. Yah, cukup melihat dari fenomena melancong beberapa tahun terakhir aja, atau, biar lebih afdhol perlu saya tambahkan data-datanya disini? Dari data yang diperoleh Google si mesin pencari raksasa yang berhasil merekam bahwa penelurusan terkait perjalanan (travel) di Indonesia meningkat 30% sejak 2017. Biasa, orang Indonesia cenderung melakukan googling dulu sebelum memesan tiket dsb. Google juga punya data 10 kota yang menjadi tujuan wisata favorit. Kalian pasti bisa menyebutkan salah satunya. Terlebih lagi, google malah menemukan bahwa aktivitas penelusuran perjalanan wisata ini tidak hanya diminati oleh masyarakat kota besar, malah justru 48% hasil pencarian berasal dari kota-kota sekunder, dibandingkan dari kota-kota besar seperti jakarta yang menyabet 18% saja.

Saya punya spekulasi sendiri (pastinya belum tentu benar) bahwa perilaku “melancong” yang menyebar di masyarakat dipicu salah satunya dari program TV swasta yang sebut saja salah satunya “MY TRIP MY ADVENTURE” dan juga buku terkenal The Naked Traveller by Trinity—yang difilmkan dan termasuk dalam jajaran penjualan buku terbaik. Juga pengaruh film 5 cm yang kemudian bikin orang-orang keranjingan naik gunung. Saya cukup kaget pas searching soal 5 cm ini, sampe-sampe menemukan penelitian skripsi “Pengaruh Menonton Film 5 cm Terhadap Motivasi Kunjungan Wisata ke Gunung” ada juga yang berjudul “Analisis Krisis Ekologis: Pengaruh Film 5 cm Terhadap Kondisi Ekologis Taman Nasional Bromo Tengger Semeru” Mantaplah skripsinya! Saya pernah nonton acara tv dan film itu lho, baca bukunya juga yang 5 cm.

Setelah beberapa hal yang memicu, lalu menjamurlah Travel Agent atau semacamnya. Biasa, buah teknologi. Dahulu cuman pesan tiket travel melalui telepon, antri beli tiket di stasiun atau langsung panas-panasan di terminal bus. Sekarang sudah gampang, tinggal klik udah nyampe. Hal ini tentu dianggap sebuah kemajuan. Bukan hanya teknologi, perilaku melancong ini memberikan manfaat bagi pelaku pariwisata, semacam “kemajuan ekonomi” banyak juga masyarakat lokal yang diuntungkan. Bahkan pemerintah rela mengeluarkan pendanaan untuk promosi, iklan, sponsor hingga membayar influencer, supaya banyak wisatawan berkunjung dan roda berputar. Gak heran banyak tempat wisata baru bermunculan, beberapa diantaranya sengaja baru dibuat. Oh iya, menurutku karena pengaruh Instagram juga jadi orang-orang demen banget melancong dan nongkrong. Berlomba-lomba biar eksis dan keren, siapa tau viral dan dapat endorse.

Oke cukup. Sebenarnya saya di sini mau mengeluh soal traveling. Jangan shyoook dulu. Jadi, saya mau minta maaf dulu buat pembaca, karena tulisan ini mungkin bakal berbeda sudut pandang dengan Anda. Tentunya anda berhak untuk meneruskan membaca ini atau tidak. Sementara saya akan terus mengeluarkan unek-unek di sini.

Saya ini sebenarnya suka berdiam di rumah. Entah karena kebiasaan yang suda dibangun sejak kecil atau saya yang lelah kesana-kemari. Ibu Bapak saya bukan orang berada. Setiap libur sekolah, hampir tidak pernah diajak jalan-jalan ke luar kota (misal ke rumah nenek—orang tinggal satu kota). Mentok saya diajak ikut ke tempat bapak saya bekerja. Jadi, pengalaman melancong saya ya cuma pas study tour, dan mulai berlanconglah saya ketika merantau saat kuliah dan kerja. Dikarenakan saya itu mahasiswa yang gak punya modal cukup, maka saya gemar mencari peluang untuk mengikuti kegiatan magang/volunteer/penelitian di tempat-tempat yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Ide mengenai kerja sambil jalan-jalan memenuhi otak saya kala itu. Entah saya dapatkan itu dari mana, entah lingkungan, bacaan ataupun memang sudah mulai tren. Saya mensyukuri semua itu. Setidaknya saya pernah ke sana. Beberapa pengalaman itu juga memberikan saya pelajaran yang berharga contohnya ini.

Setelah saya lulus dan mendapatkan pekerjaan yang membosankan, saya kehilangan semua itu. Kesempatan bekerja sambil jalan-jalan masih saya dapatkan tetapi tidak dalam porsi yang besar. Ambisi saya mengenai kerja sambil jalan-jalan juga menurun seiring tekanan yang saya dapatkan, dan beginilah saya—yang sudah terbiasa berdiam menyendiri, menikmati waktu sendiri. Tak perlu jauh, tak perlu upaya, dan tak perlu uang.

Lalu, saya terusik. Orang-orang mulai menanyakan saya “Apa yang saya lakukan di rumah?” Ya lengkap dengan tatapan raut muka yang aneh. Saya perempuan single, mungkin di pikiran mereka saya cuma tiduran sepanjang hari menatap layar ponsel dan berbicara pada tembok…lha emang iya ! Mereka-mereka yang bertanya itu gemar kesana-kemari. Akun sosial media mereka dipenuhi postingan bahagia di tempat-tempat menarik ataupun mall-mall megah. Saya pun menawab mereka “baca buku” sontak mereka “Ya ampun, emang anak pinter” Makin merasa SALAH saya diginiiin. Saya ini masih bodoh, banyak di luar sana yang lebih pinter dari saya. Kalau kamu tanya berapa total jumlah belanjaan sayur saya tadi pagi, otak saya juga bakalan lemot jawabnya!

Habis itu mulailah saya berpikir apakah saya terlalu menyendiri? Apakah saya seharusnya menikmati waktu luang seperti mereka? Mulai tuh nge-list tempat untuk dikunjungi. Saya bela-belain keluar tiap weekend supaya tidak dikira gila. Tetapi ternyata… banyak drama yang saya alami. Dari mulai ketinggalan kereta, salah beli tiket kereta, nyasar, disuruh balik lagi sama security karena gak masuk kuota (pandemi), banyak dan panjang deh kalo diceritain. Yaah masalah yang muncul akibat kebodohan saya dan atau emang apes mulu. Otomatis saya langsung bandingkan dengan mereka yang “happy traveling” itu. Kok kayak hepi-hepi aja, ceria terus, enjoy banget, foto-fotonya epic, cantik-cantik dan fashionable pula (saya langsung ngaca di depan pintu kaca stasiun—saya kayak gembel). Tetapi, barangkali memang yang di upload itu yang bagus-bagusnya aja. Cerita-cerita dibalik itu tidak diceritakan. Barangkali saya (netizen) yang salah menyimpulkan.

Seperti itulah perjalanan. Banyak hal menarik, banyak pula hal yang membuat kita belajar. Rasanya hampir tidak mungkin dalam sebuah perjalanan akan terbebas dari rintangan. Ya gak sih? Pasti ada resiko. Tapi pulang-pulang jadi ada cerita ya toh? Yaa keselip lah ceita sial, konyol, haru, bahkan horor pun turut mewarnai. Melakukan perjalanan sendiri melibatkan sebuah tekad untuk mencapai tujuan. Banyak tuh kisah perjalanan yang keren-keren dan banyak diantaranya mengubah pribadi pelaku. Seperti Sun Go Kong yang mencari kitab suci, The Adventures of Tintin, The Alchemist dan lain-lain. sampai 5 cm yang mengajarkan kita untuk yakin dan tidak menyerah pada satu tujuan-itu yang sih yang bisa saya tangkap setelah membaca novelnya ketika booming pas zaman saya di bangku SMA(bukan soal naik gunung aja).

Tapi yakinlah, saya gak bermaksud menjelek-jelekkan para pelancong. Yakinlah, sampai saat ini saya juga masih pengen halan-halan. Cuma jadi mempertanyakan kembali tujuan saya traveling untuk apa? Apakah memang dari hati dan membawa kebaikan untuk saya? Apakah saya cuma #FOMO aja? Nah ini yang salah. Gak perlu dipaksa juga, kalau memang uang kondisi tidak memungkinkan. Gak perlu juga lah merasa lebih keren dari tukang rebahan. Begitupun sebaliknya, tukang rebahan juga gak perlu merasa lebih baik dari traveler. Sama aja, semua SAMA. Sama-sama bisa menikmati waktu dan suasana dengan cara masing-masing.

Ngomongin soal pariwisata itu seperti dua mata pisau. Di satu sisi menguntungkan dan meningkatkan perekonomian (kesejahteraan masyarakat sekitar tempat wisata), tetapi di sisi lain juga berpotensi merusak (sampah, vandalisme, polusi dll). Bingung juga sih. Kini, mulai banyak studi untuk menanggulangi hal ini. Kalau diberhentikan kasian juga penjual sekitar situ. Maka dari itu, yang suka traveling, berlanconglah kalian ke manapun suka dan hidupilah pedagang pop mie ampe mie ayam, bakul souvenir, tukang parkir, penjaga loket dan toilet, cleaning service, sampai petugas pengangkut sampah. Puas-puasin dah tuh.

Dah ah! Saya bacot mulu. Panjang amat saya bikin. Ni lebih baik saya tutup aja akun ini apa ya? Punya blog isinya cuma keluh kesah, gak ada konten menarik. Pembacanya dikit banget pula! Dahlah ya para pembaca, saya gak bermaksud bikin kalian kesel, tapi makasih banget buat yang udah baca, luvvvv.

Penjual Kopi Pengkolan

Dengan tubuh lemas kukayuh sepeda dengan cepat dan sedikit memaksa otot-otot kaki untuk bekerja serta membiarkan lemak-lemak ditubuh menggantikan tugas karbohidrat yang sudah tidak kukonsumsi sejak 12 jam yang lalu. Aku puasa hari ini. Seperti biasa, wajah masam otomatis terpasang dengan jelas sore itu. Cuaca terik pukul 15.00 tadi saja sudah cukup membuatku kesal. Ditambah dengan tutor yang menyebalkan membuatku malas memasang senyum dan menyapa orang-orang sekitar. Aku sedang tidak ingin berpura-pura menjadi gadis periang, seperti yang biasa kulakukan.  

Adzan maghrib berkumandang maka semakin cepat sepedaku melaju. Tentu saja bukan menuju masjid, akan tetapi kuhentikan sepeda ini di sebuah pengkolan dengan beberapa gerobak makanan. Jangan pernah bertanya mengapa kuhentikan sepedaku disana. Aku pun tidak mengerti hingga saat kutulis cerita ini.

Ada tiga gerobak yang terparkir disana. Dua gerobak pentol dengan panci yang mengeluarkan kepulan asap dan satu lagi entah menjajakan apa. Biasanya ada lebih banyak gerobak, mungkin masih terlalu dini. Kudekati gerobak “entah” itu, sepertinya mereka menjual minuman. Aku sedang tidak nafsu dengan pentol-pentol itu, lagipula aku tidak terlalu suka dengan rasanya.

Sekilas seperti gerobak biasa, hanya saja ditambah hiasan rumbai-rumbai dream catcher yang terpasang dengan indah, terlihat lebih bersih dan baru disertai cahaya lampu yang temaram. Kupandangi gerobak itu dengan nafas sedikit terengah efek bersepeda yang kuat tadi. Sebuah papan kecil hitam bertuliskan makanan dan minuman apa saja yang dijajakan tepasang di dinding gerobaknya. Terlalu mewah untuk sebuah warung gerobak dengan papan menu. Tren kedai kopi masa kini. Melihat menunya membuatku terpatung. Kopi Gayo, Kopi Toraja dan jenis kopi-kopian daerah yang sudah terkenal nikmat. Aku tidak bisa minum kopi. Sayang sekali.

Lamunanku terpecah oleh suara seorang pria.

“Cari apa Mbak?”

Eh.

Gerimis mengguyur dengan tiba-tiba seperti perubahan mood seorang wanita. Baru saja aku kesal dengan dengan terik matahari dan kini aku kesal dengan gerimis yang membuat tubuhku basah. Perasaan memang sulit. Karena gerimis ini, percakapanku dan penjual kopi itu jadi berhenti. Penjual kopi itu buru-buru membungkus Teh Andalas pesananku dan bergegas menuntun gerobaknya ke tempat yang lebih teduh. Aku pun segera berlari membaur dengan rintik-rintik air yang jatuh.

. . .

Denting jam berdecak. Berpadu lambat seiring suara tutor kelas yang sudah terdengar samar di telingaku. Pikiranku malayang-layang. Penjual kopi itu sungguh aneh. Rambut terurai sebahu dan raut wajah yang kuat serta kumis tipis menyeringai ketika ia tersenyum. sekilas terlihat seusia denganku.

Ia bertingkah seperti seorang teman. Mungkin agar aku membeli dagangannya. Teh Andalasnya lumayan enak, tetapi harga yang ia jual kurang cocok dikantungku. Ia kerap kali memanggilku dengan berteriak, melambaikan tangan ketika aku melewati pengkolan di sore hari dan memintaku untuk mampir ke warungnya setelah aku selesai kelas.

Bila diperhatikan lagi, Ia orang yang sangat ramah. Sebagai penjual tentu harus begitu. Akhirnya suatu saat kuputuskan untuk singgah sebentar. Agak sedikit malu. Pada sebuah tikar yang dibentangkan diatas rumpur dekat gerobaknya, disitulah kami berbincang. Beberapa temannya yang lain juga duduk disitu. Aku pun berkenalan dengan mereka. Suasana pengkolan sedang ramai, cuaca terang, senyum terkembang, pertanda baik bagi mereka yang berdagang. Angin berhembus sesekali, suasana pengkolan yang mengubahnya menjadi hangat.

Seperti biasa Abang Kopi itu menawarkan minuman dan menanyaiku apakah aku sudah berbuka puasa? Aku mengangguk sudah. Abang, begitulah orang sini memanggilnya. Kemudian, aku mengeluh soal harga minuman yang ia jual dan Ia “Yasudah tidak usah beli, duduk saja disini, besok-besok juga tidak usah beli, mampir saja” dengan gaya santainya yang khas.

Aku memandangi gerobak itu dan mendapati sebuah daftar yang menempel pada salah satu kaca gerobak. Hanya satu daftar yang berhasil kubaca karena cahaya yang minim, yaitu “Karl Marx”. Lalu kutanya Abang itu dan dia menjawab “Oh, aku kan kuliahnya FISIP” Dan ku manggut-manggut. Bukan penjual kopi biasa.

Setelah itu, ia menanyakan perihal Apa saja yang kukerjakan? Rencana kehidupanku (pekerjaan) ke depan? Apa passionku? Kemudian secara natural, aku membagi kegelisahan yang kusimpan sendiri. Abang itu tak banyak berkata. Hanya beberapa kali memberi saran dan semangat. Natural, tidak dibuat-buat. Sudah lama aku tidak berada disituasi seperti ini.

Hey, tunggu! Cerita ini bukan kisah romansa seorang gadis dengan penjual kopi. Kisah ini dibuat hanya berdasarkan kekaguman pada seorang penjual kopi—yang kini sudah kuanggap sebagai teman—yang secara langsung mengajarkanku tentang pertemanan.

Bagi gadis aneh sepertiku, yang kala itu (sekitar 3 tahun yang lalu) tidak pandai bergaul, tidak terlihat seperti seseorang yang mampu menarik perhatian, dan hanya memiliki beberapa teman saja—selebihya yang lain adalah kolega, Abang kopi itu menawarkanku sebuah pertemanan. Kala itu aku yang malu-malu—setengah hati maju mundur karena pengunjung di warung semuanya laki-laki muda, membuatku terkesan sombong dan tidak mau menerima ajakannya. Tetapi setelah mengenalnya dan teman-temannya, aku menjadi terbuka. Ternyata tidak semenyeramkan itu. Si Abang megajarkanku untuk berteman dengan siapa saja. Salut dengan Abang yang sangat people person dan hangat. Sejujurnya pun, sampai sekarang aku masih sulit untuk terbuka dengan orang baru. Tetapi setidaknya Si Abang memberikanku sebuah pandangan baru.

Biasa saja, perasaan kagum ini terasa normal. Hingga pada suatu momen aku mengetahui Ia sudah tidak menjajakan kopi lagi, tetapi memilih berkelana ke pulau-pulau eksotik Indonesia (sungguh bagian ini yang paling ku inginkan darinya). Kemudian kumenyapanya di sosial media dan Ia membalas “Puji Tuhan, bisa traveling, ayo Maya ikut!” Aku tertegun. Aku tidak pernah tahu keyakinannya, karena itu bukan suatu masalah dan untuk apa aku menanyainya hal itu. Lalu Ia bercerita tentang rencana bisnis dari perjalannya dan hidup menetap di salah satu pulau itu. Entah mengapa hal itu bisa sangat menggangguku.

Yakin Candi Prambanan dibangun dalam waktu semalam?

Sebuah struktur bangunan yang disusun dari batu, sebuah saksi bisu “ke-bucin-an” seorang raja yang mencoba memenuhi keinginan pujaan hatinya, berdiri megah berbaris hampir mencapai angkasa. Nahasnya, upaya yang ia lakukan dipatahkan hanya karena suara ayam berkokok. Kisah ini sudah sangat familiar saya dengar sejak remaja, meskipun saya bukan berasal dari Tanah Jawa (re: Jawa Tengah/Timur). Saya hanya penikmat cerita saja kala itu, entah antara percaya atau tidak, saya tidak mengerti. Dewasa ini, saya banyak bertemu dengan orang yang menggeluti bidang kebudayaan (arkeolog), dan kucuran pemikiran yang mereka aliri ke saya secara tidak langsung membuka mata saya mengenai hal ini dan beberapa hal lain.

Percayakah bahwa Candi Prambanan itu dibangun hanya dalam waktu semalam? Saya sulit sekali untuk mempercayai itu. Akal sehat saya memberontak, bagaimana bangunan megah itu dibangun dalam waktu semalam, dengan bantuan demit! Jumlahnya seribu pulak! Dulu saya bisa saja percaya, karena ada kekuatan super “demit” itu! segala sesuatu bisa jadi mungkin di Indonesia. Tetapi arkeolog-arkeolog itu membantah habis-habisan.

Candi dibangun dengan sistem interlocking, artinya tiap komponen terdiri dari batu-batu yang disusun mengunci. Tanpa semen, tanpa bahan penyambung, dan tanpa “telur” (perekat yang dipercayai masyarakat kini sebagai bahan dalam membuat candi). Semuanya dipahat, pembuatan candi bukanlah pekerjaan biasa. Sederhananya, pekerja yang bikin candi itu bukan kuli biasa, mereka pemahat handal.

Dalam sebuah kesempatan, saya mengunjungi Candi Prambanan beberapa waktu lalu (kunjungan ini bersifat pekerjaan). Saya beruntung mendapat penjelasan dari Sang Empu mengenai riwayat candi ini dari ditemukan hingga permasalahan-permasalahan yang ada saat ini.

Candi prambanan ditemukan pertama kali pada masa kolonial yang kala itu Belanda sedang diusir oleh Britania dalam pemerintahan Raffles, meskipun pada akhirnya Belanda juga yang merestorasi candi ini. Jangan berpikir kalau candi ditemukan dalam keadaan utuh menjulang tinggi. NOPE. Penemuan berupa reruntuhan balok batu yang kemudian dilakukan penyelidikan lebih lanjut dengan penggalian, sehingga semua balok batu terkumpul dan disusun ulang hingga menjadi Candi Prambanan yang seperti sekarang dikunjungi wisatawan. Pada saat itu, Belanda berkeyakinan bahwa penyebab runtuhnya Candi Prambanan adalah akibat bencana alam.  Sehingga ketika mereka merekonstruksi ulang, Candi diberi rangka dengan besi dan beton, dengan asumsi hal tersebut akan kuat untuk menahan segala kondisi. Namun seiring berjalannya waktu, besi dan beton ini menunjukkan dampak bagi konstruksi candi. Saya tidak akan berkomentar mengenai kaidah keaslian struktur pada candi tersebut yang sudah dianggap sebagai warisan cagar budaya dunia ini. Saya bukan ahlinya. Sebagian orang pasti berkernyit dahi “yang benar saja, besi dan beton”. Tetapi kita tidak bisa menyalahkan Belanda juga, karena kala itu pemilihan metode tersebut merupakan hal yang dianggap paling baik dalam pemugaran candi pada saat itu.

Jadi apakah candi benar-benar di bangun oleh Bandung Bondowoso? Well, kalau begitu kita telusuri bukti prasastinya. Sebuah bukti tulisan melalui prasasti atau semacamnya telah dipercaya untuk dijadikan sebuah tolak ukur keberadaan dari suatu peninggalan sejarah masa lampau.

Ada Boss! Prasasti Siwagrha yang berangka tahun 778 Saka atau 856 Masehi menuliskan bukti pembangunan Candi Prambanan. Rakai Pikatan adalah Raja yang menginisiasi pembagunan Candi Prambanan yang kemudian dilanjutkan oleh raja-raja Mataram Kuno berikutnya. Relief yang terdapat di candi juga bukan menceritakan “The story of Bandung-Roro ” ya, melainkan kisah Ramayana yang sebagian dari kita tahu kisah itu.

Jadi, enggak ada itu dibangun cuma semalam. Gak ada itu Bandung Bondowoso bucin bikin candi. Gak ada itu Roro Jonggrang. Lho, bentar! Bukannya ada patungnya ya di Prambanan? Terus itu patung siapa dong? Itu patung Durga, istrinya Siwa. Dalam prasasti juga diceritakan bahwa Candi Prambanan dibangun sebagai manifestasi tiga dewa utama dalam Hindu yaitu Siwa, Brahma dan Wisnu. Btw, candinya juga tidak berjumlah seribu ya. Lalu dari mana dan kenapa kisah Bandung-Roro ada? Entahlah, kisah itu sudah beredar begitu saja di masyarakat. Mungkin sengaja dibuat agar Candi Prambanan makin mashyur atau mungkin peringatan untuk menakut-nakuti pria muda supaya tidak bucin atau perempuan muda supaya tidak neko-neko. Hufttt..

Anyway, saya kesana sambil belajar bahwa kita masih kaya dengan peninggalan masa lalu, yang setiap jengkalnya butuh untuk diperhatikan dan dilestarikan ditengah hiruk pikuk—carut marut arus kehidupan masa kini.

Surat Untuk Sahabat: Aku Jatuh Cinta

Aku jatuh cinta. Pada orang yang baru kukenal selama 3 hari. Tidak perlu lama memang. Ajaib! Seperti di FTV.

Aku bertemu dengannya di sebuah hotel di Jakarta. Iya, ketika itu aku bilang padamu tentang sebuah workshop yang akhirnya mengharuskan aku berpindah ke kota lain. Workshopnya berlangsung 3 hari berturut-turut. Duduk dalam satu meja, kami membawa nama komunitas kami masing-masing. Ia memperkenalkan diri dari sebuah NGO besar di Indonesia (kamu pasti tahu). Dari tutur bicaranya sangat jelas terlihat Ia orang sunda, berkacamata dengan mata yang agak sipit. Untuk soal fisik sih, sebetulnya biasa saja.

Lalu apa yang membuatku gembira?

Tingkahnya sangat jenaka dan ramai. Sangat berbeda denganku yang sangat tertutup. Benar-benar jenaka. Kelucuannya mungkin tidak seperti komikus yang pintar, tetapi dia lebih seperti gelo. Tanpa malu bertingkah bodoh seperti seorang komedian Sule. Mirip sekali ketika Ia meragakan video orang kesurupan “Aing Maung” yang pernah diperakan Sule di TV. Tidak ada kata jaim di badannya. Bagaimana tidak? Baru saja kenal denganku dalam sehari, Ia sudah kentut di depanku, dengan sengaja. Dia sangat berbeda dari kebanyakan pria yang kutemui.

Hanya 3 hari memang, tetapi aku senang bisa mengenalnya. Aku jadi sering tertawa ketika bersamanya. Suasana menjadi nyaman dan seru.

Lalu bagaimana kelanjutannya?

Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Tidak, kecuali melihatnya melalui postingan komunitasnya di social media. Meski begitu, aku tetap menghabiskan hari-hariku untuk merindukannya. Entah, mungkin rindu ingin bertemu atau hanya rindu ingin tertawa.

Apakah ada cara? Tentu ada. Aku menyimpan nomor handphonnya, dia sendiri yang menawarkan. Tetapi hingga kini, aku tidak berani sekalipun menekan nomor itu. Entah tidak berani atau entah karena takut.

Takut akan patah hati karena teman sendiri. Dia tertanya menyukai Laras. Iya, Laras teman kita. Saat itu aku yang lebih dulu menyinggung Laras yang pernah magang di tempat kerjanya. Setelah itu, raut wajahnya berubah, obrolan kami menjadi datar dan tidak sehangat sebelumnya. Dari situlah aku mengerti. Untuk apa kulanjutkan kisah ini.

Satu hal lagi. Saat kita berpisah karena workshop selesai, Ia menjabat tanganku dan berkata “Salam untuk Laras ya”.

The End.

April, 2017

Review buku “Karena Gak Semua Pasutri Punya Chemistry”

Buku ini sebenarnya bukan gue banget. Ini kali pertama saya membaca buku bergenre …termasuk dalam genre apa ini namanya ya? Saya bahkan gak tahu jenis genre apa hehehe. Mungkin termasuk dalam genre relationship ya.


Dilihat dari covernya, jujur saja saya yang otaknya lemot bingung ini judulnya yang mana? Pengarangnya siapa? Ada hashtagnya pulak. Setelah baca kutipan pada cover belakang saya sedikit manggut-manggut. Covernya sederhana dengan desain yang sebetulnya kurang menarik (mungkin hanya soal selera saya saja), tetapi saya tetap membeli buku ini karena rekomendasi seorang teman yang katanya ini sangat bagus dan penting. Ternyata buku ini seputar pernikahan, pantas saja hashtagnya #Teronglyf. Mungkin cover tidak terlalu menarik tetapi melihat simbol 18+ yang terpampang, pembaca pasti sudah tahu ya isinya seperti apa.

Berjumlah 304 halaman, buku ini termasuk ringan. Jumlah halaman tersebut tidak akan membuat pembaca merasa berat membaca buku ini. Bahasa yang mudah dicerna akan membuat pembaca mudah memahami maksud yang disampaikan penulis. Ditambah lagi tampilan halaman buku yang warna-warni disertai dengan kutipan-kutipan yang indah cukup membuai dan menyenangkan mata. Tiga ratus halaman itu saya habiskan hanya dalam 2 hari dengan kecepatan membaca yang super lambat (saya termasuk pembaca yang lambat).

Rasa-rasanya tren buku macam ini akan selalu punya peminat. Gimana tidak, budaya orang Indonesia mengharuskan semua pemuda/pemudi yang sudah dewasa dan cukup umur untuk segera menikah, akan membangkitkan gairah siapapun untuk berdiskusi mengenai hal ini. Lalu cerita mengenai pernikahan itu sendiri penuh bumbu suka cita nan romantis, meskipun terdengar hanya di awal pernikahan saja. Seiring berjalannya waktu, pernikahan itu sendiri (seringnya) memunculkan permasalahan-permasalahan yang mungkin cukup membuat depresi. Maka dirasa perlu untuk berbagi tips apa saja mengenai seluk beluk pernikahan itu sendiri sebagai penyelamat prahara rumah tangga ataupun jawaban atas kekhawatiran para lajang yang ragu untuk menikah. Guys2 setia blog ku pasti juga sudah banyak mendengar diskusi semacam ini baik di internet ataupun obrolan secara langsung. Pokoknya dimana ada bahasan soal nikah, disitu semut-semut pada ngumpul.

Well, yang coba saya sampaikan adalah buku ini memuat pengalaman pasutri dalam mengatur rumah tangganya. Informatif, kalau boleh saya tambahkan. Kerenggangan, kurangnya komunikasi, rasa sayang yang memudar kerap mewarnai kehidupan rumah tangga dan disinilah buku ini dibahas. Tentu saja bukan termasuk buku pernikahan yang sukses bila tidak membahas masalah finansial. Coba saja, ketik di google penyebab perceraian paling banyak kalau bukan karena alasan ekonomi. Selain itu, ada juga hal lain yang gak kalah menarik yaitu soal sex.

Jujur saja hal ini saya anggap cukup menarik. Mungkin lebih karena di Indonesia sex education itu masih dianggap tabu ya, jadi kebanyakan dari kita clueless soal ini. Padahal menurut saya, hal-hal seperti ini penting untuk dipelajari. Bukan untuk mengajarkan yang tidak-tidak tetapi lebih kepada menghindarkan hal-hal yang tidak dinginkan. Tidak seperti kebanyakan media yang menjelaskan perihal sex dengan banyak sensor, penulis buku ini benar-benar menuturkan bahasa yang blak-blakan. Jadi gak terlalu bikin orang-orang pada kebingungan. Sex yang dibahas seputar sex selama kehamilan, sex after babies, perubahan tubuh istri, dan masalah-masalah terkait yang ditemukan.

Meskipun menurut saya menarik, saya tetap memiliki keraguan pada buku-buku semacam ini. Mungkin dikarenakan ketertarikan personality saya, dan benar saja beberapa hal dari buku ini membuat saya mengernyitkan dahi. Mari saya bahas ya.

Pertama, seperti yang disebutkan sebelumnya. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi. Problematika didalamnya, ya itu pengalaman sang penulis dengan suaminya. Menurut saya belum tentu masalah-masalah itu akan dialami oleh pasangan lain. Mungkin ada beberapa hal yang tidak bisa disamakan dengan kehidupan kita. Tips-tips yang diberikan pun belum tentu bisa diaplikasikan dalam kehidupan kita, ya namanya juga pengalaman. Tetapi kebanyakan problem yang disajikan memang problem secara umum dalam rumah tangga seperti komunikasi, keuangan dan bahkan kehidupan sex rumah tangga.

Ini merupakan buku keluarga muslim. Karena ini berangkat dari pengalaman dan penulisnya muslim, jadi dalam penyelesaian-penyelesaian masalah dalam rumah tangga itu banyak menggunakan keyakinan mereka. Jadi berkaca pada ritual religi seperti keyakinan akan ikhlas, berdoa dan berserah diri dengan Allah SWT. I think itu bagus, membangun keluarga itu akan lebih bagus dengan fondasi agama juga si, gue yakin itu. Maka buku ini bagus dibaca oleh pembaca muslim, untuk pembaca agama selain muslim mungkin agak kurang cocok (mungkin lho ya). Sebagai orang beragama ya ini bisa banget untuk diaplikasikasikan.

Saya tangkap dalam buku ini, sebenarnya problem-problem didalamnya itu ada dalam diri sendiri si, kebanyakan berakar pada soal pengertian, tujuan dan komitmen, jadi tidak bisa saling membesarkan ego, intinya mah sama seperti relationship-relationship lain (ya ngomong mah gampang, gak tau nanti kalau udah dilaksanain hehehhe). Ada satu hal yang mau saya highlight, disini Mbak penulis masih punya pemikiran kalau istri adalah makmum satu shaft dibelakang suami. Istri selalu menggunakan cara itu dalam penyelesaian masalah. Penulis percaya bahwa istri harus melayani suami, istri akan puas kalau suami puas. Idk menilai hal ini sebagaimana mestinya senetral mungkin, maksudnya dari sudut pandang lainnya bukan hanya dari agama saja. Balik ke diri masing-masing juga. Tapi bukan serta merta suami bisa seenaknya juga sama istri Boss, mereka juga punya perasaan, gitu kata Mbak Penulis. Dijelasin juga bagaimana suami memuaskan istrinya dll, mengurus rumah tangga atau sex. Jadi ada unsur saling mendukung. Adanya keterbukaan, pengertian dll.

Mereka itu keluarga modern, jadi tidak ada sekat seperti mengurus rumah tugas istri dan nafkah hanya tugas suami. Disini juga suami ikut mengerjakan hal remeh temeh seperti tugas rumah. Dibuku ini dibahas mengenai ketersilangan jadi tidak mesti hanya perempuan melakukan tugas-tugas itu tapi suami juga bisa. Yang membuat saya penasaran dari buku ini, mengenai hal ini, yaitu bagaimana pendapat/sudut pandang suami, karena disini yang cerita istrinya sehingga terlihat dari sisi istri yang banyak berusaha. Mungkin si suami juga banyak berusaha dalam memperjuangkan rumah tangga ini tetapi tidak banyak diceritakan dalam buku. Jadi sebenernya gue penasaran sama kalo ada buku versi suami sih. Penikahan dari sisi suami, cara meng-handle istri dll. Sebenernya penasaran aja si kayaknya akan lebih baik kalau ada dua sisi sudut pandang seperti itu, meskipun dibukunya istri suka ngasih bukti chat dari suami dll.

Ulasan ini terdengar seperti saya yang kurang enjoy sama bukunya. Ya mohon maap, biasanya juga baca buku non fiksi, pas disuruh baca ini saya agak geli-geli cringe gitu. Mungkin kalau kamu baca kamu bakal senyum-senyum sendiri membaca keuwu-an mereka. Well, pendapat saya mengenai buku ini emang gak harus disetujui dan didengarkan. Saya bisa saja salah, wong saya juga bilang kalau yang punya buku bisa saja salah yekan. Sebagai seorang single apalagi dengan pengalaman cinta yang begitu-begitu aja, ya tentu pendapat saya kurang bisa dipercaya. Saya cuman mau sharing dengan Guys2 blogku aja kok. Makanya gak usah diikutin juga ndak papa. Kalau mau baca bukunya ya baca saja, siapa tau cocok dengan kamu. Silahkan bukunya bisa dibeli di toko buku seperti Gramedia atau mungkin di toko lain. Anyway, terima kasih sudah baca review ini guys, selamat membaca.

[Review Buku] Filosofi Teras-Henry Manampiring

IMG_20191221_165227

…pada dasarnya semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, persepsi kita. Keduanya saling terkait, dan jika ada emosi negatif, sumbernya ya nalar/rasio kita sendiri (Henry Manampiring-filosofi teras).

Hi millenials, eh jangan pake millenials deng. Hi muda-mudi, tsssahhhh. Saya bawakan buku bagus buat kalian. Taraaaa “Filosofi Teras karya Henry Manampiring” hmm dari judulnya aja keknya berat yah, FILOSOFI. Gak kok.

Saya harus berterima kasih pada seorang teman yang telah merekomendasikan buku ini. Kupikir buku ini semacam buku-buku motivasi biasa, yang seringnya—kurang bisa diaplikasikan (dalam hidupku dan keseharianku) atau biasanya cuman sekedar kata-kata indah saja. Jauh dari ekspektasi, filosofi ini sangat realistis dan relevan dengan kehidupan kita—muda mudi di masa kini.

Terdiri dari 12 Bab dalam 312 halaman, buku ini sukses membuka mata saya dan menuntun saya pada ketenangan jiwa. Seperti menemukan matahari di tengah musim dingin. Saya, yang kala itu sedang menghadapi banyak masalah dan kecemasan yang berat, memutuskan pergi ke toko buku dan bertekad memahami apa itu filosofi teras? Beruntungnya saya menemukan buku ini, saya kini menjadi lebih tenang dan perlahan-lahan mampu mengatasi masalah saya sendiri. Ini asli, jujur dari hati. Saya tidak mencoba mendapatkan keuntungan dari ini. Lagian pembaca gue juga dikit haahahah.

Tapi beneran deh, aku jadi lebih bisa menerima dan tenang ketika dihadapkan pada sebuah masalah atau hal buruk yang menimpa. Padahal aku sendiri adalah orang yang sering ber-negative thinking, dan overthinking juga. Perlu diketahui juga, mengapa om henry manampiring menulis buku ini, karena awalnya beliau didiagnosa menderita Major depressive disorder atau mudahnya kita kenal dengan “depresi”. Dalam perjalanan untuk keluar dari depresinya, Om Piring menemukan sebuah konsep yang membantu beliau pulih dan lepas dari terapi obat psikiater. Kenapa si bisa sehebat itu? Yuk kita kenali yuk.

Apa si Filosofi Teras itu?

Disebut juga dengan Stoisisme atau  filosofi stoa (Om Piring menterjemahkannya dengan filosofi teras), adalah sebuah aliran filsafat yunani-romawi purba yang sudah berusia lebih dari 2000 tahun, tetapi masih relevan dengan kondisi manusia sekarang. Dalam stoisisme  dikenal sebuah konsep dikotomi kendali. Dikotomi kendali mengajarkan kita bahwa dalam hidup ini ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan tidak bisa kita kendalikan. Hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan yaitu cuaca, kekayaan, reputasi, karir, hubungan percintaan atau persahabatan, pandangan orang lain tentang kita dan sebagainya. Sementara hal yang bisa kita kendalikan sendiri yaitu opini, persepsi dan tindakan kita sendiri.

Menurut ajaran filosofi stoa ini, jika kita menaruh harapan atau berusaha mengendalikan hal-hal yang jelas-jelas tidak bisa kita kendalikan maka kita tidak akan merasa bahagia. Kita mungkin bangun tidur, bersemangat untuk mengejar karir. Akan tetapi seberapapun usaha kita untuk bersemangat tetap saja kita tidak bisa mengendalikan faktor-faktor luar seperti bos yang punya sentiment pribadi, subjektivitas soal definisi “kinerja yang baik”, rekan kerja yang dengki, atau peraturan-peraturan yang berubah. Dan kamu yang pernah patah hati, pasti tahu bahwa kita tidak bisa memaksakan rasa sayang pasangan. Kita bisa saja rajin memberi perhatian, kejutan, hal-hal manis, sampai se-bucin apapun, tetapi pada akhirnya perasaan pasangan kita ada dihatinya dan tidak bisa kita kendalikan. Jadi hal yang bisa kita lakukan dalam menghadapi hal-hal tersebut adalah persepsi kita, pikiran kita. Kita bisa memilih dan mengendalikan bagaimana respon dan perilaku kita terhadap hal-hal menyebalkan diatas. Intinya sih filosofi stoa tuh ngajarin kita untuk santuy aja! Emang ada hal diluar kendali kok, dan kita harus mengendalikan diri kita sendiri dengan santuy enggak buru-buru terbawa emosi.

Eits, jangan buru-buru berkesimpulan bahwa filosofi ini mengajarkan kita untuk pasrah. Filosofi stoa mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam. Artinya sebisa mungkin, di setiap situasi hidup, kita tidak kehilangan nalar kita dan berlaku seperti binatang, yang akhirnya berujung kepada ketidak bahagiaan.

Apa yang dirasakan setelah membaca dan sulitkah mempraktekannya?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, saya menjadi lebih tenang jika menghadapi situasi yang tidak enak hati. Lebih mudah merelakan sesuatu yang berjalan tidak sesuai harapan saya. Lebih menyadari bahwa saya cuman manusia biasa yang tidak semua hal bisa saya genggam. Saya menjadi lebih santuy, tidak mudah marah-marah dan baper. Saya menjadi lebih mengenali diri saya sendiri dan tidak sibuk memperhatikan orang lain (tentu saja sampai saat ini saya masih berprogres untuk mengaplikasikan filosofi stoa).

Filosofi stoa ini mengajarkan kita untuk bermental tangguh, cocok banget buat anak muda sekarang. Setiap bangun pagi, cobalah untuk membisikkan kepada diri bahwa hari ini akan ada puluhan, ratusan bahkan ribuan masalah yang datang diluar kendali dan kita harus siap berantisipasi untuk menerima dan merespon itu. Mungkin hari ini mood atasan tidak baik, mungkin rekan kerja berulah lagi, senior yang mengintimidasi, warung langganan makan siang tutup, di social media teman-teman pamer kehidupan mewahnya atau mantan pamer pacar barunya ahh elaaaaah. Semuanya bisa saja terjadi dalam satu hari, dan kita harus bisa mengendalikan diri kita supaya tidak terbawa emosi.

Untuk kamu-kamu yang lagi berusaha keluar dari jeratan masalah atau kecemasan dahsyat, semangat yah! I know it’s hard tapi yakin kamu bisa. Mulai sekarang cobalah untuk bisa mengidentifikasi sumber stresnya, coba tanyakan kenapa? Kalau kita bisa tahu sumbernya, maka kita bisa melawannya. Aku kutip lagi kata-kata diatas “…pada dasarnya semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, persepsi kita. Keduanya saling terkait, dan jika ada emosi negative, sumbernya ya nalar/rasio kita sendiri (Henry Manampiring-filosofi teras)” coba pikir lagi, jangan-jangan kita yang sering mengambil kesimpulan lebih cepat, atau kita yang kurang melihat pada fakta dan berspekulasi berlebihan. Selain itu, cobalah catat kegiatan atau hal-hal apa dalam hidup yang bisa atau pernah membuat kita bahagia. Misalnya ngobrol dengan seseorang, hobi dll. Lalu, lakukan aktivitas yang membahagiakan itu. Kamu bisa banget loh mendalami filosofi teras ini lewat baca bukunya langsung, karena ada banyak hal yang benar-benar relevan dengan kehidupan kita dikupas secara ringan.

Oh iya Dear, filosofi ini hanya sebuah konsep. Mungkin saja ini tidak cocok diaplikasikan ke semua kasus depresi. Saya bukan psikiater atau psikolog, cuman kebetulan baca buku ini aja. Kalau punya masalah yang lebih berat dan tidak bisa diselesaikan dengan bantuan filosofi stoa, please cerita and seek professional help atau kalau mau sekedar cerita ke aku juga bolehh kok.

 

TENTANG BODY POSITIVITY

Potret dari Fashionable Wanita Slang Penawaran

“May, jerawatmu banyak banget sih! jarang cuci muka?”

Komentar diatas adalah komentar yang biasa gue dengar dari sekeliling gue. Ya, muka gue jerawatan! Sebagai seorang yang sering mendengar ujaran tersebut, gue termasuk orang yang udah biasa aja denger kata-kata itu, meskipun gue sebelumnya risih banget dan malu kalau ada orang bilang gitu. Ditambah lagi gue selalu bisa menangkap ekspresi orang yang dihadapan gue ketika pertama kali ketemu, atau udah lama gak ketemu. Tidak semua dari mereka menyebutkan hal itu sih tetapi tetep aja gue bisa lihat gimana kagetnya atau aneh atau mungkin jijiknya mereka ngeliat muka gue.

Well, sebenarnya tidak ada maksud samsek untuk curhat yaa. Tapi disini gue mau ngejelasin kalau betapa kita atau masyarakat kita sangat kurang menghargai body positivity. Sering banget kan, kita para cewek mendapatkan komentar yang seringnya dianggap “guyonan” atau sekedar “basa-basi” tapi makjlebnya minta ampun. Nah yang ngasih komentar tuh kayak gak mikir gitu gimana perasaan orangnya.  Cewek-cewek hayoo kalian ngaku, kalian pasti insecure tiap kali diceletukin komentar semacam diatas kan?

Sebelum gue bahas lebih lanjut gue mau ngejelasin dulu ni Apa sih body positivity? yaitu pengertian bahwa semua tubuh – apapun bentuk, ukuran, warnanya – adalah sama berharganya. Tapi lebih dari itu, kita pulalah yang harus memperjuangkan untuk mencintai dan menghargainya. Jadi intinya adalah sebuah pola pikir yang menunjukkan seseorang mencintai dan menghargai tubuhnya. Kita (enggak cuman perempuan, laki-laki juga) sering banget merasa tidak puas dengan tubuh kita sendiri. Bawaannya kalau ngaca tuh langsung mengoreksi diri dan membandingkan dengan model iklan atau artis yang tubuhnya langsing, atau bahkan membandingkan dengan seseorang terdekat yang kita kenal. Setelah hal itu terjadi, banyak nih yang kemudian muncul rasa benci dengan tubuh kita sendiri. Waduh-waduh, benci dengan diri sendiri itu salah ya gaes.

Emang kenapa sih kalau wajah kita berjerawat? Emang kenapa sih kalau tubuh kita tidak langsing, tinggi, semampai? Apa iya kulit muka kita itu harus glowing? Kata siapa si cewek cantik itu yang tinggi, putih, mulus, langsing? Kata siapa, kata siapa? Hah?

Disini kita suka lupa bahwasannya setiap individu itu diciptakan unik dan berbeda-beda. Bukankah manusia terlahir tidak sempurna? Lu mau banget apa ngeliat semua orang kayak bidadari? Plak. Lagian ya, perempuan cantik menurut kalangan masyarakat kita seperti putih, tinggi, langsing itu termasuk anggapan belaka. Perlu diketahui kalau beauty standard tiap daerah itu berbeda-beda. Contoh di Negara asia (kebanyakan) ya kayak artis-artis korea, jepang gitu. Gak perlu gue jelasin lah ya. Sementara di amerika, model-modelnya kayak Kardashian family yang punya badan semok dan kulit coklat tanned gitu. Well, ada yang lebih mencengangkan juga kalau wanita di Nigeria dianggap cantik ketika mereka memiliki tubuh yang gemuk. Aneh, tapi begini adanya. Coba cek faktanya disini https://psychologyofeating.com/body-image-around-globe/. Artinya, bahwa beauty standard itu sebetulnya hanya asumsi atau anggapan-anggapan kelompok saja yang menentukan bagaimana seseorang dianggap cantik. Tidak ada standar pasti atau penilaian mutlak yang menentukan seseorang itu benar-benar menarik. Seperti yang sudah sering kita dengar bahwa kecantikan itu relatif.

Minggu yang lalu, saya iseng jogging di kampus saya yang dulu bersama teman saya. Kemudian ada seorang perempuan muda yang lebih muda menghampiri kami. Sama sekali tidak ada yang aneh dari dia. Kami saling bercerita, dia kemudian menceritakan alasannya mengapa ia belakangan ini rajin sekali jogging. Jawabannya karena ingin langsing! Teman-temannya atau entah seseorang dalam lingkungannya mengakatan demikian. “Aku gendut banget e Mbak, beratku 60 kg!” what’s in my head waktu itu, dia terlihat baik-baik saja. Dia tidak terlihat gendut yang berlebihan. Maksudku dia terlihat sehat dengan bentuk tubuh yang seperti itu. Kenapa dia harus menurunkan berat badan. Yang penting sehat!

Selain faktor orang-orang sekitar, media juga berperan dalam membentuk body image yang beredar di masyarakat kita. Media (berkali-kali) bikin kita insecure akan keadaan fisik kita, lewat iklan lah dll. Banyak orang jadi ikut-ikutan konsumsi produk-produk yang mungkin berbahaya, diet ekstrim, dan bahkan ada yang bela-belain pake aplikasi macem-macem untuk membuat penampilan lebih ok #plak.  

Gara-gara body image ini banyak orang mengalami depresi, anxious, bahkan memiliki eating disorder seperti anorexia dan bulimia.  Body image  adalah pandangan, kepercayaan dan persepsi seseorang terhadap fisiknya. Selain diri sendiri dan media yang membuat persepsi buruk tentang body image ini, sering kali kita, sebagai manusia atau orang luar juga melakukan body shaming! Ada salah satu teman saya yang mengalami depresi akibat body shaming ini. Sebut saja namanya Aldi (Nama samaran) seorang laki-laki. Kita pernah suatu waktu bercanda dengannya di grup whatsapp. Kemudian, tiba-tiba saja dia left grup. Kita semua tidak ambil pusing, “Ah baperan amat nih si Aldi” Emang kita suka jahat sih L . setelah dibujuk si Aldi mau balik lagi ke grup dan dia menjelaskan bahwa dia tidak suka dengan bercandaan fisik semacam itu. Dia menjelaskan bahwa dia pernah mengalami trauma dan membutuhkan waktu yang lama bagi dia untuk lepas dari traumanya. Barulah kita semua sadar bahwa apa yang kita lakukan itu salah. Padahal sejujurnya si Aldi ini gak bakal malu-maluin kalo dibawa kondangan! Wkwkwk tapi orang seperti itu juga bisa trauma karena body shaming.

Well, ini adalah pengingat bagi kita untuk tidak melakukan body shaming. Gak keren bro, bawa-bawa fisik. Nah, bagi kamu-kamu yang sering mengalami perlakuan diatas, cobalah untuk tidak ambil pusing dan lebih mencintai serta menerima keadaan diri kita. Gak ada yang salah dengan fisik kamu. Lebih baik rawat saja apa yang sudah dimiliki, lebih baik lagi tujuannya untuk kesehatan. Peduli dengan kesehatan seperti menjaga kebiasaan makan, olahraga dan pola hidup itu termasuk kegiatan mencintai diri sendiri atau self love lho! Karena kegiatan-kegiatan tersebut memang dibutuhkan oleh tubuh kita. Jadi cobalah untuk memberikan yang terbaik untuk tubuh sendiri. Soal persepsi orang-orang mengenai body image? Ah sudahlah, itu sudah menjadi sistem yang mengatur persepsi dunia tentang kecantikan. Akan sulit sekali bagi kita untuk mengubah sistem agar orang-orang lebih menghargai body positivity. Hal terbaik yang perlu kita lakukan adalah mencintai diri sendiri. Awalnya gue juga kesel dengan orang-orang. Lama kelamaan sih gue mulai tersadar dan nerima dengan segala keadaan gue. Bodo amat dengan komentar orang. Ini keadaan gue, ini diri gue.

Main ke MUSEUM MACAN

IMG_20191003_163756Holaa blog, lama banget nih tidak menulis… hehehe maklum ya, akhir-akhir ini banyak kesibukan. Banyak hal baru terjadi di hidupku, jadi aku harus menyesuaikan dan tidak sempat buat nge-blog hehehe. Ok, kali ini aku mau bercerita soal kunjungan aku ke Museum Macan nih. Beberapa waktu yang lalu ada urusan pekerjaan yang mengharuskan aku untuk pergi ke depok, Jakarta. Mumpung di Jakarta pula, aku ajak temanku untuk jalan-jalan. Kebetulan aku ada jadwal kosong tapi sudah terlanjur beli tiket, jadi ya harus nunggu sesuai tiket waktu pulangnya. Nah awalnya si, enggak kepikiran buat ke Museum Macan ini, tadinya malah pengen ke Seaworld Ancol. Tapi karena kejauhan dan beberapa hal lain, kita jadinya pergi ke museum macan yang berada di Kebon Jeruk. Ok kita langsung cerita ke detilnya aja. Duh maaf ya kalau tulisannya berantakan, karena sudah lama tidak menulis di blog.

Ok, pertama kali yang harus diketahui tentang Museum Macan ini adalah jangan terkecoh dengan namanya. Kalian pasti berpikir museum macan ini adalah museum yang memiliki koleksi tentang macan (harimau)! Salah sob, museum macan adalah kepanjangan dari Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN). Nah tuh, gitu ya harus diketahui itu dulu sebelum kesana. Jangan sampai nanti menyesal akibat dari ekspektasi yang tidak sesuai.

Namanya saja sudah modern and contemporary art ya jelaslah isinya tentang koleksi benda-benda seni. Kebanyakan koleksi dari museum ini adalah karya dari proyek-proyek besar yang dibuat oleh seorang seniman bernama Xu Bing. Jadi jangan heran kalau masuk kesini ada karya yang menampilkan aksara-aksara tionghoa. Jadi ada sebuah pameran yang memamerkan banyak tulisan kaligrafi aksara tionghoa yang terpampang di tembok dan ada juga yang dipamerkan dalam satu ruangan dengan kertas-kertas bertuliskan aksara tionghoa yang terjejer rapih dan indah. Anehnya, aksara ini bisa dibaca oleh pengunjung yang bahkan tidak bisa berbahasa tionghoa seperti saya.

IMG_20191003_160342

Usut punya usut, Xu Bing mencipkatan “spesies” baru dalam sistem kaligrafi yang menggabungkan kata-kata bahasa inggris dan karakter aksara tionghoa. Dia menuliskan kata dalam bahasa inggris dengan huruf latin biasa, tetapi huruf-huruf tersebut berbentuk seperti aksara tionghoa. Dalam pameran ini, pengunjung diajarkan cara membaca aksara tersebut dan juga mencoba berlatih menulis aksara yang diciptakan Xu Bing menggunakan tinta yang sudah disiapkan. Berikut contoh tulisan inggris dalam aksara tionghoa yang diciptakan Xu Bing.

IMG_20191003_160148

Selain dari pameran square word calligraphy, pada saat memasuki ruang pertama kali kamu akan disuguhi sebuah karya instalasi berupa simulasi karpet kulit harimau berukuran 40 kaki yang terbuat dari 660.000 rokok kelas premium. Mengapa tembakau? Xu Bing percaya bahwa tembakau adalah sebuah objek yang meresap- ia menyebar ke semua ruang, berakhir sebagai abu dan memiliki berbagai hubungan yang berbeda-beda dengan individu dan dunia secara luas- ke dalam bidang ekonomi, ketenagakerjaan, budaya, hokum, moralitas, kesehatan, keimanan, mode dan banyak lagi. Pokoknya gitulah penjelasannya, ada dibuku guide nya, nanti dikasih kok. Kalau dilihat seperti karpet kulit harimau tapi itu terbuat dari rokok-rokok yang disusun sedemikian rupa. Berikut gambarnya, map nyomot dari google karena lupa moto hehehe.

karpet harimau

Selain karya tersebut, ada pula karya sebuah lukisan yang dibentuk dari sampah-sampah yang berantakan, disusun dibalik sebuah kaca dan direfleksikan dengan bantuan lampu LED, hasilnya menjadi sebuah karya lukisan yang menakjubkan. Disini kita juga diberi kesempatan untuk membuat karya yang dapat dipajang pada cermin dan kemudian kita bisa melihat hasil akhirnya sendiri. Seru sih bikin-bikin, dari saya yang awalnya gak kepikiran sama sekali bikin apaa, terus otak-atik aja tuh sampahnya, eh hasilnya lumayan. Karya milik pengunjung lain juga bagus-bagus kok. Berikut lukisan Xu Bing dari sampah itu.

61360655-dffa-4d04-975b-3e9cb00abda0-1569938379

Saya harus memberikan pengakuan. Bahwa saya bukan seseorang yang paham di bidang seni. Saya penikmat seni tetapi saya tidak tahu apakah saya benar-benar menikmati semua koleksi yang ada di museum macan ini. Jadi, sekiranya penjelasan saya—yang sok tahu ini, tidak mudah dipahami, yam monmaap yaa gue juga gak ngerti wkwkwk. Disini aku cuman mau berbagi dan tempat ini recommended banget lho buat dikunjungi, apalagi bagi kamu-kamu yang penyuka seni.

Eits, ada satu bagian yang apiikk banget, yaitu Infinity mirror room-Briliance of the souls (2014). Dikutip dari buku guidenya “merupakan bagian dari seri Infinity mirror room yang pertama kali dibuat oleh seniman asal jepang (Yayoi Kusama), pada tahun 1965. Kusama pindah dari Tokyo ke New York pada tahun 1957, tempat di mana karya-karyanya yang provokati dan eksperimental dalam bentuk performans, film, patung, dan lukisan, mencerminkan semangat masa itu, menentang masyarakat yang konservatif melalui kemerdekaan seksual” ngerti gak?

IMG_20191003_164606

Ketika kembali ke jepang pada 1973, Kusama memilih tinggal di rumah sakit jiwa untuk menjaga agar kondisinya tetap stabil. Heh? Dalam khazanah kekaryaan kusama, pengulangan titik tidak hanya terkait dengan perasaannya yang terdalam, melainkan juga gagasan lainnya-ketidakterhinggaan dan kemusnahan. Keduanya dapat dialami di dalam Infinity mirror room. Hayoh ngerti gak gaes? Maap ya aku  juga kurang ngerti hehe, ini aku nyomot langsung dari buku panduannya. Tapi pokoknya Yayoi Kusama ini termasuk orang yang kondisi jiwanya tidak stabil kemudian dia mencurahkan karya-karyanya yang begitu hebat. Pokoknya gitu dah.

Emang Infinity mirror room kek apa sih? Jadi Infinity mirror room merupakan sebuah ruangan yang terbuat dari kaca (cermin). Selain itu terpasang bola-bola lampu yang warna dan intensitasnya selalu berubah. Cahaya lampu tersebut dipantulkan pada tiap sisi ruangan dan berulang tak terhingga sampai hilang dari pandangan. Biar lebih paham-langsung lihat pada gambar aja yaa!!

 

Ok, segitu aja dari aku!! Terima kasih sudah mau baca!!

Belajar Toleransi dari Pulau Alor

1451466960698

Rasanya sudah basi sih kalau saya ngomongin ini. Sudah 4 atau 3 tahun yang lalu saya alami. Tetapi kemarin salah satu keluarga saya di Alor membuat story di whatsapp, disitu ia memposting foto kami dan keluarga, ingatan saya jadi kembali memutar wajah-wajah dan momen-momen yang telah tercipta pada waktu itu.

Di judul saya sudah sebut Pulau Alor. Iya ini pengalaman saya ketika saya berada di Pulau Alor. Tahu Pulau Alor? Coba cek peta atau google maps nya dulu. Kamu akan dihantarkan pada sebuah pulau cantik nan indah yang masuk dalam propinsi Nusa Tenggara Timur. Sebetulnya mereka itu bukan keluarga saya sih. Saya hanya pendatang yang berharap bisa mengabdikan diri sembari mendapatkan nilai dari kampus hehe, iya ini program KKN dari kampus saya hehe. Jangan salah, meskipun begitu perjalanan ini sungguh memberikan pelajaran berharga yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh saya.

Saya tinggal di sana selama dua bulan, seingat saya sejak pertengahan Bulan Ramadhan tahun 2015. Tim dari kampus kami disebar ke tiga desa yaitu Ala’ang, Aimoli dan Alila. Penduduk Ala’ang mayoritas memeluk Kristen, sementara penduduk Aimoli dan Alila sebagian penduduknya ada yang memeluk Islam. Ketika itu saya ditempatkan di Desa Ala’ang.

Saya seorang muslim dan berjilbab. Selama di sana saya tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari warga dan mereka sangat menghormati saya ketika beribadah. Bahkan nife (ibu) saya di rumah turut membangunkan saya dan menyiapkan makanan untuk sahur. Jadilah saya harus semangat menjalani puasa ditengah teriknya matahari Alor, panasnyaaaaa ya Allah, yang tiap kita lewat ke warung lihat ale-ale dingin aja itu menggoda. Tapi aman-aman aja kok puasanya hihi. Perhatian nife kepada saya dan teman-teman ini memang bikin baper, hih diginiin ama nife aja aku baper, gimana sama kamu #plak.

Sebenernya saya agak enggak enak si ke nife, beliau jadi harus lebih memperhatikan makanan dan hal-hal lain untuk kita yang hidupnya penuh dengan aturan ini. Pernah nife tiba-tiba nyuruh saya buat nyembelih ayam coba (karena kita punya aturan sembelih sendiri), saya enggak berani. Btw, ayamnya milik nife sendiri, jangan tanya soal beli ayam potong di super market! Meskipun sering bedah hewan tapi tetep aja kalau nyembelih dari hidup-hidup saya gak berani. Beraninya bius lewat kloroform atau alkohol aja hih! Jadilah teman saya cowok yang turun tangan. Btw lagi, ada 15 orang di tim kita yang tinggal dengan nife, jadinya beliau kerepotan ngurusin kita. Kasian sih ampe nife kayak kecapekan gitu, ya kita juga bantu-bantu nyiapin juga kok.

Pernah waktu itu ada perayaan kepala desa baru, ya semacam acara penobatan gitu deh. Jadilah satu desa itu sibuk, kaum pria ikut bantu-bantu di bagian luar rumah (dekor dll) sementara kaum wanita ya di dapur. Nife berpesan kepada saya dan teman-teman untuk ikut bantu-bantu masak di bagian kambing. Maksudnya nife si biar kita enggak deket-deket dengan bagian babi. Padahal saya sebenarnya penasaran gimana si babi itu diolah, penasaran lihat ngolahnya aja lho ya… gak ikut makan.

Soal kebaikan nife dan warga Alaang ini masih dibilang biasa aja guys. Hal yang lebih mencengangkan dan membuat saya terharu terjadi ketika hari raya idul fitri. Puasa saya di sana, ya otomatis lebaran juga di sana. Ini adalah kali pertama saya lebaran tidak dengan keluarga, Tetapi merayakan lebaran di Alor juga tidak kalah seru. Karena Ala’ang mayoritas kristen, jadilah kita sholat idul fitri di masjid besar Desa Aimoli. Jalan kaki lah kita ramai-ramai. Yah ibadah itu berjalan seperti sholat ied pada umumnya, hingga tiba waktu khutbah ada yang berbeda. Kan setelah sholat ied itu ada ceramahnya kan, jamaah harus dengerin ceramahnya dong. Tetapi tiba-tiba ada warga kristen yang datang masuk ke masjid bersama dengan satu teman kami yang katolik. Jadi, 15 orang tim kami dari Ala’ang itu semuanya muslim kecuali satu orang teman saya, dia pemeluk katolik. Ketika hari raya itu, teman saya turut serta ikut kami ke Desa Aimoli, tetapi dia hanya diam menunggu di luar masjid. Kemudian datanglah warga kristen dan teman saya ini diajak untuk masuk masjid. Dia bingung dan ragu-ragu “Tapi, Bapa…” kemudian Bapak-bapak itu berkata “Masuk saja, semua ceramah agama itu baik” Wahh, INI BENAR-BENAR LANGKA.

Kami semua pun ikut terkejut ketika teman saya masuk. Setelah bertanya pada imam masjid dan beberapa warga yang menjamu kami setelah sholat, mengatakan bahwa itu memang kebiasaan mereka. Jadi gaess, di Desa Aimoli itu ada dua dusun, Dusun satu memeluk Islam dan dusun satunya lagi memeluk Kristen. Setiap kali ada perayaan agama seperti hari raya idul fitri ini, perwakilan warga kristen selalu diundang untuk datang, begitu pula sebaliknya. Ketika warga kristen merayakan natal atau perayaan lainnya, perwakilan warga muslim juga selalu diundang. Teman saya berceloteh “Wah, gue gak pernah lihat hal kayak gini, bahkan di Jawa” bener juga sih dia bilang, di Jawa banyak orang sibuk berselisih soal agama. Tapi jauh dari hingar bingar kemajuan peradaban, Alor sudah punya contoh kerukunan yang lebih indah.

Tidak hanya alamnya saja yang membuat saya kagum dengan Alor, tetapi persaudaraannya telah memukau saya. Karena inilah saya memutuskan untuk menceritakan kembali kisah ini meskipun sudah bertahun-tahun yang lalu. Melihat carut-marut perselisihan identitas di negeri ini yang memuakkan, apalagi diwarnai dengan politik, HADEEEEEEHHH!!!

Kegiatan kami selama dua bulan itu sih utamanya adalah program KKN yang berorientasi pada produksi perikanan dan pertanian. Di sana (di Desa Ala’ang) pertaniannya cukup subur, banyak jenis sayur tumbuh dan lebih besar ketimbang sayur yang saya temui di Pasar dekat rumah. Jangan dikira di sana susah air. Di Ala’ang sumber air su dekat. Alhamdulillah banget. Selain itu ada program pendidikan, ngajar anak-anak SD. Program kesehatan juga ada, perbaikan beberapa infrastruktur. Duh banyak deh. Sehari-sehari selain program, kegiatan kita main sama anak-anak, ngerumpi dengan mama-mama, bantu-bantu di desa dan gereja. Pernah waktu itu, ada kegiatan kerja bakti memperbaiki barang-barang di gereja. Kami yang perempuan ikut membantu di dapur menyiapkan makanan untuk bapak-bapak yang berkerja di luar, dibantu juga oleh teman-teman saya.

Itu adalah kali pertama saya masuk ke dapur gereja. Saya yang memakai jilbab ini memicu perhatian mereka, mereka melempar senyum kepada saya dan teman-teman lain. Kemudian berkenalan satu persatu dan dengan sigap tangan kami langsung meraih pisau atau spatula, sadar diri bantu-bantu Woyy! Ada seseorang perempuan yang sudah berumur menghampiri saya, tubuhnya masih tergolong sehat, bibir dan seluruh mulutnya merah hingga bagian dalam akibat sirih pinang, rambutnya memutih dicepol ke belakang, orang-orang disitu menyebutnya Oma Naomi. Perempuan itu menjabat tangan saya sambil berkata pelan “Kamu Islam eh?” (jangan dibayangin nada songong, kata ‘Eh’ nya itu logat tambahan mereka) saya jawab “Iya, mama” (masih belum tahu harus manggil Oma) lalu Oma Naomi mendekatkan mulutnya ke telinga saya lalu membisikan sesuatu “ASSALAMUALAIKUMMM” Suara Oma keraaaas sekaliii sampai telinga saya sakit. Iya, Oma Naomi memang agak terganggu pendengarannya, jadi ketika berbicara ia cenderung mengeluarkan suara yang keras, apalagi waktu itu di telinga saya. Akan tetapi saat itu saya terharuu mendengarnya, dan kemudian saya balas dengan “Wa’alaikumsalam” lalu dilanjutkan lagi “Maafkan Oma ‘eh, Oma tidak bisa dengar” sambil menunjuk-nunjuk telinganya. Saya manggut-manggut saja sambil tersenyum.

Oh iya, sebenarnya di Ala’ang ini ada tiga keluarga yang memeluk muslim. Mereka adalah para pendatang dari Sulawesi. Selama kami di sana, mereka banyak membantu kami. Ketika lebaran pun, kami juga merayakannya dengan mereka. Habis dijamu oleh warga Aimoli, lanjut di jamu keluarga ini, setelah itu keluarga nima (bapak) dan nife juga menyiapkan makanan untuk kami. Hahahah lebaran makan terooooosss.

1441339870551

Ini keluarga muslim yang ada di Alor

Soal wisata Alor, Wagelaaaaaa seehhh emang bagusss bangeet!! Lautnya beuh! Nih aku kasih tahu spot-spot wisata yang bisa kalian kunjungi ada Pulau Kepa, Pulau Buaya, Pantai Maimol, Pantai Mali, Desa Wisata Takpala, Kolam Bidadari, Pemandian Air Panas Tuti Adagai, Resto Seafood di Kalabahi, dan masih banyak lagi deh. Oh iya, kita juga ada program eksplor wisatanya gitu dan dulu kita pernah buatin akun Instagram ala-ala wisata alor gt, namanya @wanderingalor kalo gak salah. Sila kepoin aja yak kalau misal ingin berkunjung ke Alor. Kalau dari Jawa kesana dua kali naik pesawat, pertama tujuan Kupang dulu, baru pindah ke tujuan Alor. Bisa juga dari Kupang naik kapal ke Alor. Nih beberapa foto yang berhasil kukumpulin, maaf udah lama jadi fotonya pada gak tau kemana. Maaf juga ya foto-foto idul fitri di Aimoli tidak ada.

 

Rasanya satu postingan aja tentang Alor ini gak cukup. Banyak banget hal yang seru, mengharukan, unik, dan pelajaran yang dipetik, yang seharusnya bisa diceritakan. Sayang, waktu itu saya belum mau ngeblog atau bikin video yutub ala-ala, posting instagram aja kagak. Jadi yah sekarang mungut-mungut momen-momen itu deh. Tetapi sekali lagi Alor benar-benar memberikan warna baru, setidaknya memberikan pengalaman pertama kali keluar Pulau Jawa hahaha. Memberikan teman-teman dan keluarga baru dan arti hidup dan belajar untuk saling menghormati satu sama lain dan dan dan yang lainnya. Semoga postingan ini gak ngebosenin yha. Dah jangan berantem lagi soal perbedaan keyakinan, ramashooookkk !!!

Cerita Teman yang Kepo

20190212_152746_0001

Tidak ada yang salah ketika seseorang bertanya tentang “update” dari diri kita. Seperti “sekarang sibuk apa?” “sekarang tinggal dimana?” “sekarang lagi ngerjain apa?” pertanyaan macam ini kerap sekali kita jumpai di acara-acara reuni atau acara lebaran bareng keluarga. Yang acap kali pula memantik bara api dalam lubuk hati, sehingga yang ditanya itu suka sensi. Apalagi kalau pertanyaannya diawali dengan kata “kapan”—kapan nikah? Kapan lulus? Hadeeh. Semua orang juga tahu, yang kayak gini itu akan selalu ada pertanyaannya, tergantung kitanya sedang berada dalam fase apa. Nih yang belum lulus kuliah-ditanya: kapan lulus? Habis lulus-lanjut ditanya: sudah dapat kerja belum? Sudah kerja: Kapan nikah? Sudah menikah: kapan punya anak? Sudah punya anak: kapan nambah? Hadeeeeh tanya aja terooosss.

Suatu waktu teman saya-sebut saja Ningsih (tentu saja bukan nama asli) memposting sesuatu di media sosialnya, dia pengen aja nge-share sesuatu hal menarik yang baru saja dia temukan di suatu tempat. Dia tidak menceritakan apa yang dia lakukan disitu. Kemudian teman saya yang lain-sebut saja Sumi (bukan nama asli juga) tanya ke Ningsih “Eh kamu kerja disitu? Atau lagi ngapain?” nah si Ningsih ini dia gak mau jawab. Terus si Sumi curhat protes ke Lastri (teman saya juga) kalo dia nanya ke Ningsih tapi gak dijawab, kesal la dia! Jadilah si Lastri ini perantara bagi Ningsih dan Sumi. Dia bilang “Mbok ya dibales Sih, si Sumi” lah si Ningsih jawab lagi “Emang kalau dia tahu terus dia mau apa?” si Ningsih ini emang rada-rada si. Tetapi saya yang menyaksikan kejadian itu, agak setuju juga dengan Ningsih bahwa ada beberapa hal dalam hidup kita yang tidak perlu kita bagi ke khalayak. Tidak semuanya harus kita share ke publik. Kita juga butuh yang namanya privasi. Saya mengerti si Ningsih itu memang tidak ingin memberitahukan kegiatannya itu dan iya itu privasi dia. Kalau misal si Ningsih memang tidak mau memberitahu lalu kenapa kita mesti mempermasalahkannya.

Terlepas dari menyebalkannya si Ningsih, saya mencoba memahami dari sisi Sumi yang kelihatannya sangat peduli ini. Akan tetapi saya jadi berpikir, orang-orang cenderung sering bertanya perihal “update” tentang diri kita atau hal semacam ini—sebagaimana orang-orang dari lingkungan terdekat kita yang saya contohkan pada paragraf pertama, itu mereka memang perhatian/peduli sama kita atau cuman sekadar KEPO doang? Lalu beberapa pertanyaan lainnya muncul dibenak saya bagaimana cara membedakan orang yang bertanya karena memang peduli dengan kita atau hanya sekadar cuman pengen tahu doang? Dan emang kenapa si orang-orang pada kepo?

Saya mencoba mengumpulkan beberapa kemungkinan alasan-alasan dari beberapa pertanyaan yang membuat saya risau itu (enggak juga si). Saya sebutin alasan dulu aja ya! pertama, kepo itu sudah bawaan dari lahir, dari keluarga. Kayaknya gak usah dikomentarin deh, kentalnya hubungan darah membuat wajar saja kalau bapak ibunya kepo sama kegiatan anaknya, misalnya. Kedua, yang umum terjadi yaitu kepo dilakukan oleh orang yang tidak memiliki hubungan darah. Mereka-mereka ini kepo terhadap perkembangan seseorang. Biasanya terjadi pada kawan lama yang sudah lama tidak bertemu, atau bahkan beberapa orang sengaja mem-follow di medsos supaya tidak ketinggalan perkembangannya. Sesungguhnya kepo jenis ini bisa mengarah ke hal negatif, misalnya sengaja follow buat jadi bahan julid atau gossip. Lah kan gak bener. Sudah melanggar privasi orang, disalahin sama agama juga toh. Kepo juga bisa menandakan bahwa seseorang itu sedang kangen, tapi gengsi nanya langsung. Jadi biasanya orang-orang macem ini cuman bisa stalking di medsos. Kayak kamu yang masih suka kepoin mantan, Ups atau gebetan, sambil galau-galau ria di pojokan kamar “Duh dia udah punya pacar belum yha?” hayo ngaku!

Manusia itu memang dilahirkan dengan rasa keingintahuan tinggi, beberapa hewan juga ada yang begini. Rasa keingintahuan (curious) itu maknanya cenderung mengarah kepada hal positif, yaitu lebih dikaitkan pada rasa keingintahuan yang bersifat ilmiah. Makanya banyak ilmuan yang nyeleneh, punya teori, hukum atau penelitian aneh-aneh tetapi justru malah bisa dibuktikan kebenarannya, dan pemikiran anehnya ini sering membuka mata dunia tentang hal baru. Dari mana datangnya ide nyeleneh ini? Ya dari sebuah pertanyaan dulu dong. Kenapa begini dan begitu? Nah kalo yang ini bagus, tapi kalo keponya malah ngurusin kehidupan pribadi orang secara berlebihan, gimana tuh?

Kepo itu adalah suatu kepedulian. Orang gak bakal nanya kalao gak peduli, katanya si gitu gaess. Di jaman yang sudah mengalami pergeseran kebudayaan ini, sulit sekali menemukan orang-orang yang peduli. Contohnya aja jarang ada yang mau ngasih tempat duduk ke ibu-ibu tua di KRL. Jarang sekali orang saling bertegur sapa, semuanya sibuk sama urusan masing-masing. Tapi apakah ke-kepoan seseorang itu memang benar-benar didasarkan pada kepedulian? Memangnya kita bisa tahu dari mana? Kalo iya emang ada, trus kenapa ada orang yang kalo nanya itu ngeselin bangeeeet?

Para gaess ku yang budiman, orang yang peduli sama cuman kepo doang tuh ada ciri bedainnya, yang lagi-lagi saya rangkum dari internet dan tanya-tanya sama orang. orang peduli itu biasanya nanya langsung kalao pengen tahu, kalau kepo ya cuman pengen tahu doang dan malah setelah itu disebarkan. Orang peduli bakal ngasih pilihan untuk mau bercerita atau tidak, kalau kepo hadeeeh terus aja cecer tanya dan menggali-gali tanah informasi, tanya sana-sini sama orang lain. Untuk kamu yang tiba-tiba lagi kena masalah, biasanya orang kepo dating belum tentu bakal bantu, sementara orang yang benar-benar peduli itu pasti bakal bantu ngasih solusi. Orang kepo itu akan muncul ketika kita sedang ada sesuatu. Sementara kalau kita sedang tidak ada sesuatu apaa gitu biasanya mereka jarang dateng dan jarang kedengeran juga kabarnya. Berbeda dengan orang yang perhatian sama kita, dia akan tetap care dan selalu ada walau kita gak ada sesuatu.

Dunia digital yang kini mendarah daging ini membuat batas antara kehidupan yang bersifat privasi dan publik menjadi tidak jelas. Media sosial yang menampung berbagai kehidupan masyarakat berbagai lapisan tak pernah kehabisan ruang untuk menyimpan. Kita terkadang lupa, apa yang sudah dibagikan adalah milik publik. Contohnya si Ningsih tadi. Kalau dia ingin orang-orang tidak perlu tahu kenapa dia nge-share sesuatu. Hadeeeh!

Dunia kehidupan sosial di ranah digital ini sudah tidak bisa dilepaskan dari dunia nyata yang kita miliki. Saya pernah beberapa lama vakum dari kehidupan sosial di dunia maya. Semuanya off, mulai dari instagram, facebook, twitter hanya sesekali, dan whatsapp hanya balas chat orang penting saja. Hal ini saya lakukan karena saya lelah dengan segala yang ada disana dan menjadi kurang peka dengan kehidupan nyata di sekitar saya. Ketika itu, saya ingin lepas dari itu semua dan ingin kembali menikmati hidup bersama orang-orang yang ada di sekitar dan semua keadaan ruwet yang ada di sekeliling saya. Awalnya berpikir, tindakan ini cukup bijak. Sampai akhirnya setelah beberapa lama ada teman saya yang tiba-tiba menghubungi dan berkata “May, kamu apa kabar?”.

Setelah itu saya sih masih jawab, enggak kayak si Ningsih juga. Kalimat itu sangat sederhana, hanya bertanya kabar, tetapi terdengar seperti “May, you okay?” “Is there something happened?” “Lu masih idup kan?” jadi terdengar mengkhawatirkan. Saya tahu ini karena mengenal teman saya tersebut, dan saya bisa merasakan bahwa ia memang mengkhawatirkan saya dan peduli, bukan hanya sekedar kepo. Setelah itu saya jadi berpikir, apakah saya telah menarik diri terlalu jauh dari dunia maya? Apakah keputusan saya untuk off ini adalah keliru? Sebegitu pentingkah bahwa kita juga harus meletakkan ke-eksistensian kita di dunia maya? apakah kehidupan sosial kita di dunia nyata dan dunia maya itu harus balance (seimbang)?

Media sosial memang seolah memfasilitasi kita untuk bisa saling memberi kabar tanpa repot-repot bertanya. Kita tinggal follow aja liat story-nya seseorang. Niscaya kita bakal tahu apa aja yang dilakukan orang tersebut seharian dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Hal ini tentu menguntungkan bagi kamu-kamu yang masih gengsi bertanya, ingin tahu kabar mantan misalkan. Tapi berkat off nya saya ini, saya jadi tahu siapa yang benar-benar peduli dengan saya. Guys, mungkin bisa dicoba seperti cara saya untuk mengetahui siapa saja yang benar-benar peduli dengan kamu. Tapi harus siap-siap juga kehilangan berita viral atau followers wkwkw. Rasanya berasa kayak hidup di goa yang sunyi, tapi hidup jadi tentraaaaaam banget. Gara-gara ini saya masih off untuk beberapa sosmed, jadi saya cuman aktif beberapa aja sampai sekarang. Pusing tau main banyak sosmed dan liat keributan, bahkan jadi toxic.  Kalau gak kuat kayak saya, ya gak usah diikutin.

Ngomongin soal kepo dan peduli itu beda-beda tipis. Berkaca lagi pada kasusnya Ningsih dan Sumi. Disini saya tidak bisa mengambil sebuah kesimpulan. Akan selalu ada orang yang setuju dengan pendapat Ningsih, bahwa setiap orang butuh privasi dan berhak memilih mana hal-hal yang tak dan layak untuk dibagi. Pun, termasuk juga saya. Tetapi saya juga salut dengan macam orang seperti Sumi yang sudah peduli bertanya langsung pada Ningsih. Tetapi kalau yang bersangkutan tidak mau jawab juga ya coba dimengerti, mungkin dia memang ingin seperti itu. Kalau kata Sharon Martin seorang terapis dari San Jose mengatakan “Orang yang sering melanggar batasan privasi orang lain cenderung manipulatif, narsistik dan punya kesadaran diri yang rendah” jadi mereka cenderung menganggap sekitarnya lebih tidak berharga darinya dan tidak merasa bersalah ketika berlaku tidak baik kepada orang lain. Itu kata Sharon Martin loh ya, bukan kata saya. Makanya kepo nya jangan berlebihan, mendingan rasa kepedulian kita yang lebih ditingkatkan lagi.

Guys, peracaya deh sama aku. Kepo itu bikin nyesek tauk. Banyak ngeliatin kehidupan orang yang pamer ini pamer itu, kita jadi iri, hidup kita masih gini-gini aja soalnya. Apalagi kepo-in mantan atau gebetan yang udah jalan sama pacar baru nya Mak jleb nyossssshhh !!!!!!!