Featured

Pesona Babi Kutil: Sebuah Pengalaman Dalam Suatu Relawan Penelitian

DSCN0708

Menjadi mahasiswi biologi, saya akrab dengan banyak jenis penelitian, meskipun tidak semuanya saya jamah. Namun saya sedikitnya paham setiap kali dihadapkan dengan paper hasil publikasi penelitian ilmiah yang terbilang “asing” bagi masyarakat biasa. Banyak jenis-jenis penelitian yang diketahui dan sudah dipelajari manusia. Banyak dari jenis tersebut diaplikasikan ke banyak jenis-jenis objek kehidupan mulai dari hewan, tumbuhan dan bahkan organisme terkecil sekalipun. Banyak dari jenis tema penelitian tersebut dikombinasikan dengan disiplin ilmu lain, dengan prinsip kinerja suatu atau beberapa metode, dengan konsep penelitian terdahulu atau sekedar percobaan dengan beberapa variable. Mungkin kalau disebutkan satu-satu, cerita saya akan membosankan seperti ruang kuliah. Dari banyaknya tema, satu yang membuat saya tertarik. Saya tertarik mendalami konservasi, khusunya alam liar. Melihat alam sekitar yang ramah dengan ekosistem yang seimbang adalah keinginan saya. Dari situ mulai saya berangkat untuk mempelajari hal yang membuat jantung saya berdegup kencang. Beruntung, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah penelitian, melalui sebuah rekruitmen singkat dari pengelola. Chester zoo tepatnya. Saya direkrut sebagai tenaga volunteer. Mendapatkan posisi ini saja, saya sudah bersyukur. Setidaknya saya diizinkan untuk menimba ilmu bersama para rekan yang sudah expert, apalagi sekelas “Chester zoo”. Sepintas tentang Chester, adalah sebuah kebun binatang yang terletak di London, UK dan memiliki program konservasi serta riset yang mumpuni.

Dengan perasaan girang dan sedikit gugup saya berangkat menuju bogor untuk bertemu peneliti utama. Setelah mendapatkan briefing, kami memulai perjalanan kami menuju ke selatan pulau jawa, yaitu garut. Ada apa di Garut? Lalu apa yang kami lakukan disana? Pertanyaan itu muncul ketika teman-teman saya penasaran dengan apa yang akan saya kerjakan. Dengan santai saya menjawab “survey penelitian Babi Kutil”. “Hah, Babi?” “Terus diapain Babinya?” “Ditangkep?” “Kalo lu nanti diseruduk gimana?” “Lu kan kecil?” “Berapa banyak tim nya?” “Ada cowok nya gak?” Hahah. Ya berbagai macam-macam respon dari teman-teman, dan keluarga menjadi yang paling khawatir diantara mereka. Namun, selain respon tersebut, ada pula yang merespon dengan positif (karena memang kita bekerja dan memiliki passion yang sama), mungkin ada pula yang iri ingin mendapatkan kesempatan ini. Ya saya harus bersyukur. Pun saya juga berharap untuk makin banyak orang yang mendapatkan kesempatan ini untuk belajar.

Yang saya lakukan sebagai volunteer adalah untuk mensurvei keberadaan babi kutil. Mengapa Babi kutil? Karena hewan ini merupakan salah satu jenis yang dikategorikan “endangered” atau terancam keberadaannya di alam oleh IUCN. Sementara Indonesia sendiri belum memberikan status perlindungan terhadap hewan ini, sehingga jenis ini masih banyak diburu. Tentunya juga harus banyak dilakukan dokumentasi pada keberadaan hewan ini di alam. Agar dapat diketahui masih ada atau tidakkah hewan ini di alam. Babi kutil atau yang biasa disebut celeng gonteng oleh masyarakat sekitar memiliki bentuk tubuh yang sedikit berbeda dari babi hutan biasa yang sering disebut bagong. Babi bagong dikenal memiliki bentuk tubuh yang besar sedangkan Babi kutil tubuhny lebih kecil dan lebih pendek, namun tubuhnya cenderung memanjang serta tingginya kira-kira berkisar hingga lutut manusia.

Lokasi penelitian yang digunakan adalah cagar alam sancang, garut. Sedikit cerita mengenai cagar alam ini, merupakan rumah bagi banyak jenis satwa liar, tentu saja termasuk babi kutil, sayangnya untuk data daftar spesies yang hidup di kawasan ini belum terdokumentasi dengan sempurna. Kawasan ini memiliki hutan sekunder dan hutan mangrove serta berbatasan dengan perkebunan karet dan berakhir pada pantai yang menghadap selatan pulau jawa. Selama penelitian, saya tinggal di sebuah kantor cagar alam yang letaknya tidak jauh dari lokasi penelitian, yang juga dekat dengan obyek wisata berupa pantai cijeruk, kampung cibaluk, yang menawarkan pesona pantai yang tak kalah indah dengan pantai indonesia di luar pulau jawa sana. Menyenangkan sekali selama tinggal disana.

Seperti halnya kegiatan penelitian lainnya, pengambilan data sampel dan pemiihan metode harus disesuaikan dengan sifat dan perilaku hewan tersebut dan juga data apa yang akan diambil. Karena Babi Kutil termasuk hewan nocturnal atau hewan yang aktif pada malam hari, maka kami melakukan penelusuran survei pada malam hari di hutan. Sebetulnya kami juga melakukan kegiatan pada siang harinya untuk memasang kamera jebak (camera trap) yang disebar ke beberapa titik lokasi penelitian. Namun kami ke hutan pada siang hari hanya pada hari pemasangan kamera saja, selain itu kami melakukannya semua pada malam hari.

Bekerja menggunakan kamera ini pun adalah hal baru bagi saya. cukup mudah untuk mengoperasikan alat ini. tidak rumit karena tidak perlu menghubungkan dengan program lain, cukup dengan memberinya baterai alkali biasa serta mengecek ketersediannya dan memastikan kartu memori telah tertanam didalam kameranya. Tetapi dibutuhkan kemampuan untuk mengetahui angle yang baik untuk mengambil gambar. Beberapa lokasi dengan keberadaan semak yang tinggi harus dihindari dan juga sebaiknya dijauhkan dari panas. Kami juga harus menyembunyikan kamera tersebut dengan benda sekitar karena ternyata benda-benda seperti ini rawan dicolong warga. Duh orang indonesia.

Tidak mudah untuk melakukan survei mammal dan burung secara nocturnal. hewan-hewan ini justru cenderung takut dan mudah menghindar akan keberadaan manusia, sehingga tidak mudah untuk menemukan kelompok hewan ini. akan tetapi apabila sudah memiliki banyak pengalaman terjun ke lapangan dalam pengamatan secara langsung, maka dapat dipastikan dapat mahir dalam menemukan bahkan mengidentifikasi hewan tersebut.

Selama satu bulan, penuh dengan aktivitas keluar masuk hutan dan juga aktivitas “malam” (tapi bukan clubbing ya), ditemani suara burung dan suara serangga malam hari, dinginnya angin malam serta seberkas cahaya senter berfilter merah yang menerangi kami. Sementara pada siang hari, kami harus bersahabat dengan panas terik matahari yang menyengat kulit, juga hafal bau logam pembungkus, rantai dan gembok kamera yang basah oleh embun, serta beberapa kamera jebak pada punggung dan kamera digital pada tangan (kami perlu membawanya untuk dokumentasi). Kami tidak melakukan kegiatan pada siang hari setiap harinya, tapi setidaknya dalam satu bulan kami harus melakukan itu semua sebanyak 4 kali. Dikarenakan selain pemasangan, kami juga harus melakukan pemindahan kamera-kamera tersebut pada titik lokasi lainnya. Selama pemindahan tersebut kami harus melakukan pengecekan apakah selama benda itu terpasang pada lokasi yang dipilih terdapat babi yang tertangkap kamera? Ataukah hewan jenis lain yang tertangkap? Ada ataupun tidak kami harus tetap mencatatnya. Selain itu juga diperlukan melakukan pengecekan pada baterai dan segera menggantinya dengan yang baru apabila sudah habis dayanya. Tentulah baterai ini menjadi barang yang dibutuhkan.

Mungkin saat ini kamu sedang bermain dengan imajinasimu, membayangkan pada apa yang kami lakukan, atau mungkin bahkan berpikir betapa gilanya kami, betapa lelahnya melakukan itu semua. Lelah itu pasti. Semua jenis pekerjaan pastilah melelahkan. Bahkan untuk seorang model pun yang memiliki tugas hanya dengan berpose, tapi pasti terselip rasa lelah. Akan tetapi rasa lelah itu akan terasa berbeda, bila hasil jeri payah lelah kita memuaskan dan berhasil, pasti terasa menyenangkan. Ditambah dengan keberhasilan hasil kerja tersebut adalah hal yang paling kita sukai, membuatnya berkali-kali lipat nilainya. Itulah yang saya rasakan sebagai tenaga relawan. Meskipun rasa lelah menghampiri, tetapi senang rasanya dapat merasakan dan mengenal lebih dalam seperti apa rasanya jadi peneliti. Kegembiraan saya menjadi maksimal kala melihat hasil tangkapan video oleh kamera jebak yang menampilkan gambar Babi pada beberapa kamera yang saya pasang, meskipun itu belum bisa dipastikan apakah hewan tersebut berjenis babi kutil, dikarenakan posisi babi yang tertangkap tidak memperlihatkan wajahnya pada kamera. Tetapi itu sungguh diluar ekspektasi saya. akan lebih berkali-kali kali lipat hebatnya bila menemukan hewan itu pada saat survei malam. Tapi sayang, yang kami temui saat malam adalah hanya suaranya dan suara semak yang diterjang oleh makhluk tersebut. Hewan itu selalu cepat-cepat kabur menghilangkan diri dari pandangan kami. Setidaknya selama survei, terlihat beberapa ekor musang yang menghibur kami.

Menjadi seorang peneliti memang tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi dan juga prioritas- prioritas yang dikorbankan, jauh dari keluarga misalnya. Tetapi tugas ini adalah mulia. Indonesia sangat butuh tenaga-tenaga mulia macam ini, untuk membenahi dan mengelola lingkungan sekitar. Alam liar dan seisinya juga tentunya. Karena semua jenis-jenis makhluk hidup yang ada pada berbagai macam ekosistem di Indonesia adalah aset negara yang harus dilestarikan untuk masa depan. Tidak semua orang bisa menjadi peneliti dan butuh upaya yang besar pula untuk mencapai posisi tersebut. Untuk itu sekiranya kita dapat menghargai para peneliti yang telah bekerja keras.

 

Iklan
Featured

Wisata murah meriah: Menilik Kawanan Rusa di Kebun Gedung Negara, Cirebon

IMG-20170814-WA0000[1]Sekarang rakyat Cirebon tidak perlu pergi ke Istana Bogor atau Taman Safari untuk melihat Rusa. Ya, hewan ini bisa ditemui di Gedung Negara. Pemandangan sore hari di Gedung Negara ramai dengan barisan pengunjung di luar pagar dengan seikat kangkung dan wortel. Ya, ini adalah pemandangan yang sering dilihat apabila anda melintasi Bunderan Krucuk. Kawanan rusa ini menarik perhatian pengendara roda dua atau lebih yang melintas untuk bertandah di kebun rusa gedung negara. Pengunjung bisa memanfaatkan momen ini untuk bercengkrama dengan rusa sambil memberinya seikat kangkung ataupun wortel atau hanya sekedar mengambil gambar. Rusa-rusa ini sangat menggemaskan dan bersemangat dalam menyantap makanannya. Tidak perlu khawatir akan merogoh kocek anda lebih dalam layaknya tiket masuk kebun binatang yang mahal, cukup hanya dengan 3000 ribu rupiah untuk membeli makanan rusa, anda sudah bisa mengabadikan momen tersebut bersama keluarga, teman, ataupun pacar. Antusiasme warga Cirebon dengan adanya wisata ini sangat besar dan pengunjung yang datang pun terbilang ramai sekali, sampai-sampai pihak pengelola harus membatasi interaksi pengunjung selama 20 menit saja, karena saking banyaknya pengunjung yang datang. Wah, semoga tidak membuat macet jalanan kota Cirebon yah. Anyway, wisata dadakan dan murah ini pun adalah jenis wisata yang kaya akan sarat edukasi. Bagi anda yang memiliki putra atau putri yang masih kecil, tempat ini akan sangat cocok untuk dikunjungi bersama buah hati, anda dapat memanfaatkannya untuk mengajarkan anak mengenal jenis hewan dan menjadi penyayang binatang serta tidak takut pada hewan. Bagi anda yang belum memiliki buah hati, tak perlu risau, anda bisa saja berpartisipasi dengan rusa atau juga mengambil gambar dengan rusa. Selamat mencoba.

Featured

Hallo, Saya Maya Damayanti

Ini adalah kutipan pos.

Halo pemuda Indonesia. Ini adalah pos pertama saya. Mulai sekarang saya akan menggunakan platform ini untuk membagikan pengalaman saya terkait latar belakang yang saya punya sebagai biolog. Tidak hanya itu, blog ini akan dipenuhi dengan opini-opini dan pemikiran saya yang mungkin sedikit agak “liar” dalam menyikapi hal yang ada disekitar kita. Eits, saya juga orangnya suka hiburan, jadi saya akan berusaha membagikan sesuatu yang menarik seperti wisata, food atau tips-tips ringan untuk anda. So, hope you will enjoy this meals!

pos

Review Kursus, Asrama dan Biaya Hidup di Kampung Inggris, Pare

Global-English-Pare-4

Oke, sesuai janji gue di postingan sebelumnya, kali ini gue akan membagikan rincian biaya yang gue keluarkan selama di kampung inggris Pare, secara garis besarnya. Baca postingan sebelumnya disini A Story from Kampung Inggris, Pare.

Pertama, biaya kursus gue di Global English (GE) total Rp. 950.000,00 lewat eureka tour. Gue ngambil paket 1 bulan+asrama. Nah paket satu bulan ini dibagi beberapa jenis, kalau gue milih paket asrama B, yaitu paket yang bisa milih 6 program.  Anyway, ada 3 paket (A, B, C). Paket A (5 program), B (6 program), C (8 program).

Di Global English ini menawarkan fleksibilitas pemilihan program. Jadi kamu bisa ambil program sesuka kamu dan sesuai dengan kebutuhan. Mulai dari pronunciation. Speaking, grammar, toefl, ielts, dll. Levelnya juga berbeda-beda ditiap program masing-masing. Nanti bisa cek di website eureka ataupun website GE nya(ada di review google) programnya apa aja www.kampung-inggris.com.

Jadi begini, satu bulan itu terdiri dari 2 periode. Setiap periode dihitung per- 2 minggu.  Gue kan ngambil paket B (6 program), berarti belajarnya itu 3 program di 2 minggu pertama dan 3 program lainnya di 2 minggu selanjutnya, total 1 bulan kan. Ketika itu gue ngambil reading for toefl 2, grammar for toefl 2, dan listening for toefl 2 untuk 2 mingu periode pertama. Kemudian di periode selanjutnya gue ambil job interview, dan grammar for writing. Kalau JobIn ini dihitungnya 2 program yah (karena  dibagi menjadi dua kelas, pagi untuk kelas interview dan sore untuk kelas psikotest nya).

Memang milih programnya sesuai kebutuhan elu, tetapi menentukan levelnya itu kita harus placement test sebelumnya, untuk mengetahui seberapa kemampuan kita. Di GE kamu bisa banget belajar dari nol, cocok banget buat temen-temen SMA yang lagi liburan nunggu masuk universitas. Ketika sampai Pare, kalau menggunakan jasa travel biasanya kamu langsung diantar ke kantor GE, kayak gue yang waktu itu langsung dianterin dari stasiun kediri ke kantor jam 02.00 pagi (simak cerita gue sebelumnya yang terlantar pagi-pagi buta di depan kantor). Di kantor, dilakukan registrasi ulang (lunasin DP sih intinya). Setelah itu, kamu bakal diantar ke asrama. Asramanya ditentukan oleh pihak kantor, yang mana bakal jadi asramamu.  Barulah setelah kamu wara-wiri beres-beres di asrama, kamu bisa melakukan placement test untuk level program kamu. Tutor akan memberikan pengarahan level yang harus kamu ambil. Baru deh, kamu lapor ke kantor receptionist. Lembaga kursus GE ini termasuk yang besar sih geng, jadi banyak banget muridnya, banyak banget programnya juga. Belajarnya asik kok, cuman mungkin agak sedikit kesusahan aja buat kamu yang udah punya basic bahasa inggris tapi tidak secara teori banget. Kayak gue nih, saat placement test toefl, gue masuk ke level grammar toefl 2, nah pas masuk di kelas, pengetahuan gue tentang teori dan rumus-rumus di grammar toefl 1 lupa-lupa. Sebenernya gue bisa bahasa inggris, tapi  karena tahu aja dan asal ngomong aja, tanpa tahu aturanya seperti apa, rumusnya seperti apa. Jadi pas di kelas, kayak kurang nyambung awal-awalnya sama apa yang dibilang tutor. Ya gimana yah, soalnya kan, yang kayak gitu materi pas SMP, SMA udah lupa lah gue sekarang, tapi kalau ngomong atau jawab pertanyaan toefl bisa-bisa aja. Sama aja kayak gue ngerjain soal matematika terus bisa jawab dan benar, tapi ketika ditanya kenapa dan dari mana rumusnya, nah gue gak tahu wkkwkw. Cuman itu aja sih masalahnya. Jadi, menurut gue cocok banget sih buat kamu yang belajar dari nol, bakalan nyambung banget.

Ehmm perlu bahas tutor gak ya? Ya gitu tutor mah macem-macem karakternya. Program tidak cuman dilakukan di kelas, tapi di asrama juga ada program. Setiap pagi dan malam berupa conversation dan materi lainnya. Inget, di asrama ada tutor yang mendampingi dan juga mengawasi kalian, kalau kalian keceplosan speak bahasa hehe.

Kedua, kamu perlu biaya untuk sewa sepeda. Lokasi asrama dan lokasi belajar di kelas itu lumayan jauh kalau ditempuh jalan kaki. Gedung kelasnya juga berjauh-jauhan, gak disatu tempat aja. Mau gak mau harus sewa sepeda. Gue sewa sepeda di Ibu warung asrama gue, sekitar Rp. 150.000,00 selama sebulan. Habis itu gue tawar jadi 100 ribu. Tetapi kamu bisa menemukan yang lebih murah lagi sekitar 70 ribuan sebulan.

Untuk soal asrama, well jangan bayangin dengan harga kursus total segitu yang sudah plus biaya asrama, kamu bakal mendapat fasilitas wah. Enggaklah. Sebagai seorang yang lumayan sering bepergian (gak sering-sering banget sih), gue sedikitnya tahu macem penginapan. Selain sering terlantar, gue pernah nginep dari yang mulai kategori “paradise” sampai “nightmare” dari hotel sampe yang ecek-ecek, alhamdulillah pernah dan juga gue dulu nge kos pas kuliah. Jadi tahulah gimana ukuran sebuah tempat dan fasilitasnya. Yah seperti biasanya, sudah menerka akan seperti apa dengan biaya yang segitu murahnya. Murah loh itu menurutku kalau dibandingkan dengan tempat lain di luar Pare, di Kota lain, apalagi di Jabodetabek. Well, meskipun mungkin ada yang lebih murah dari pada itu di Pare, tapi belum gue cobain. Baru GE doang.

Asramanya biasa aja, seperti bangunan rumah atau kos-kosan biasa. Hanya saja, agak sedikit sempit karena harus berbagi ruangan untuk teman sekamar. Tergantung besar kamarnya, bisa sampai berapa orang. Kipas dan tivi ada dibeberapa titik saja di satu bangunan camp. Jangan ngarep dapat AC, pliss. Kamar mandi, ya biasa aja, yang jelas bersih karena ada tugas piket juga. Kalau terlihat jorok, itu berarti cerminan penghuninya hehe. Jadi guys, kalau kalian semisal tidak terbiasa dengan keadaan asrama yang biasa-biasa saja, misal kalian pengennya yang luar biasa, kalian harus membuat diri kalian senyaman mungkin. Gimana? Ya kalau kalian kepanasan ya bawa AC sendiri, kedinginan ya bawa selimut sendiri, pengen mandi pake bathub ya bawa bathub sendiri (gils gak mungkin). Intinya gitu deh, karena kan konsep yang ditawarkan dari kampung ini adalah konsep pendidikan, yang mana ini bukan pendidikan formal, jadi secukupnya. kampung inggris ini memang didesain untuk belajar, bukan untuk pariwisata.

Guys, kalian jangan khawatir soal makan sehari-hari. Makanan yang dijual rata-rata murah meriah. Kamu bakal sering menjumpai warung nasi pecel 5000an, nasi telur 5000an, nasi goreng 6000 an, bakso One Moon 7000an (favorit), gila seneng gak tuh orang Jakarta kesitu wkwk. Jajanan bejibun, gerobak-gerobak parkir di pengkolan dekat asrama gue,di pinggir-pinggir jalan, harganya juga standar. Apalagi ice kepal milo, berceceran dah tuh gerobak yang jual, tapi awas kena zonk (gak enak) wkwk. Café-café kekinian juga banyak. Banyak deh pilihannya.

Seperti yang sudah gue sampaikan sebelumnya, kalau kamu nyari buku buat belajar atau kamus, ada toko buku yang jual buku-buku dengan harga miring banget. Toko bukunya namanya “Toko Berkah” letaknya di depan kantor Mahesa. Contohnya nih satu buku oxford dictionary harganya 12 ribu, buku Toefl Cliff harganya 35 ribu. Kualitas kertasnya bukan kertas buram lagi. Gilak kan! Yang suka novel, disana pada dijual murah juga lho sekitar 15 ribu-an. Mantap.

Oh iya, karena menggunakan jasa jemput travel nambah biaya sekitar 70 ribu. But, kalian bisa cari atau gak usah pake jasa travel lagi. Biar lebih murah. Banyak tukang ojek yang bisa di lobby, ataupun disana ojek online merajalela. Gue aja pas pulangnya, naik grab sekitar 35 ribuan kalo gak salah. Tenang aja guys! Kalaupun ingin jalan-jalan sekitar kediri, misalnya lagi bosen, kamu bisa sewa motor juga kok, cuman gue kurang tahu harganya berapa.

Well guys, review ini gue buat berdasarkan pengalaman gue, dan gue cuman baru nyobain di GE aja. Padahal katanya ada yang lebih murah dan sama enaknya belajarnya. Gitu sih, kata abang penjual teh andalas deket asrama gue, abangnya baik.

Review ini juga gue buat dengan sejujurnya. Mungkin sedikit subjektif, hanya berdasarkan apa yang gue lihat dan apa yang gue rasakan. Tidak ada pula unsur mengiklankan GE ataupun Eureka Tour. Ini gue tidak mengambil seperserpun dari mereka. Ini semua murni dari gue. Menurut gue, Pare itu tempat yang asik memang buat belajar, ada lingkungan yang mendukung dan orang-orang yang bikin kita nyaman. Jatuh cintalah sama Pare.

Guys, tempat ini baik (recommended) buat yang pengen belajar, apalagi dari nol. Tetapi kalian harus benar-benar memastikan tujuan kalian apa sehingga setelah pulang dari situ kalian mendapatkan sesuatu.

Memiliki kemampuan berbahasa inggris adalah sebuah skill yang amat berguna. Seseorang yang bisa berbicara dan menulis dalam bahasa inggris sesungguhnya ia telah membuka jalan untuk menggenggam dunia di tangannya, dalam artian banyak kesempatan terbuka menanti, seperti mendapatkan beasiswa kuliah ataupun kesempatan berkarir di Negara maju. So, jangan ragu-ragu buat belajar.

Oke, segini aja review yang bisa gue bagi. Kalau kalian punya pertanyaan, bisa tanya lewat kolom komentar yah! Jangan lupa juga baca postingan sebelumnya tentang Pare.

Baca postingan sebelumnya A Story from Kampung Inggris Pare

Baca juga Pare dari Mataku 

sumber gambar visitpare.com

Pare dari Mataku

IMG-20180624-WA0002

Hi guys, duh maaf banget ya update nya lama lagi. Kali ini kita akan bahas tentang expectation vs reality. Orang-orang banyak bilang, semua orang yang ada di kampong ini menggunakan bahasa inggris dalam sehari-hari. Ekspektasi gue akan seperti itu, tetapi yang gue temukan justru membuat gue menurunkan kedua sudut bibir gue. Tidak seperti seketat yang gue bayangkan, para member (pelajar) memang diharuskan menggunakan bahasa inggris tetapi hanya dalam Camp English Area. Selebihnya kita bisa menggunakan bahasa. Para pedagang, masyarakat biasa, dan para penyedia jasa (laundry, ojek, dll) mereka semua masih menggunakan bahasa indonesia. Jika berbicara dengan beliau-beliau, para member diperbolehkan berbicara bahasa.

Mungkin kalian akan menemukan beberapa orang yang berkeliaran di jalan berbicara bahasa inggris pada kalian. Itu berarti mereka sedang mendapatkan punishment (hukuman). Well, punishment umumnya berlaku pada semua member di tempat kursus manapun. Hukuman harus dijalani bagi para member yang dengan sengaja berbicara menggunakan bahasa Indonesia atau “keceplosan” di asrama. Bentuk punishment-nya tiap camp pun berbeda-beda, ada yang berupa denda uang sampai speech di depan jalan atau asrama laki-laki. Hmm hati-hati deh kalau ngomong. Tapi ngomong aja deng kan biar belajar. Sebetulnya ada beruntungnya juga sih, aturan tersebut diberlakukan hanya di asrama. Para member jadi sedikit lebih bisa bernafas. Karena satu langkah keluar dari pintu gerbang camp, adalah satu langkah kebebasan hahaha.

Actually, deepest in my heart, hal seperti ini sangat disayangkan sih, Kampung inggris Pare sudah memiliki desain yang sangat sesuai untuk siapapun menguasai bahasa inggris dengan berbagai pilihan dan tawaran yang ada. Lalu mengapa tidak dimaksimalkan saja? Karena gue percaya seperti kata pepatah “study makes better, but practice makes perfect” tanpa latihan atau praktek, semua materi bahasa hanya omong kosong. Well, semuanya ada positif dan negatifnya juga sih. Tetapi gue pribadi berharap semoga kampong inggris pare menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya.

Ada beberapa hal lain yang melampaui ekspektasi gue. Kampong inggris pare sebetulnya menunjukkan sebuah tempat dengan konsep pendidikan yang sehat. Lu akan melihat pemuda-pemudi dengan tas-tas yang mereka selempangkan dibadan, berlalu-lalang dengan sepeda yang mereka kayuh. Jalanan-jalanan kecil penuh rumah makan murah meriah khas gaya kota-kota pelajar, banyak rumah-rumah yang bagian depannya lengkap dipasangi plang “menerima kos”, hingga took-toko buku dengan harga sangat miring. Pemandangan seperti ini tidaklah asing dimata gue. Sebuah penggambaran yang sering gue lihat persis ketika gue kuliah di Yogyakarta. Kota pelajar, memang menawarkan suasana kota yang nyaman dan tenang, setidaknya pelajar lebih ramah dibandingkan budak-budak industri. Dan hal ini sebetulnya di luar ekspektasi gue. Karena ada banyak, mungkin ratusan, tempat kursus yang berada di pare. Sehingga semua orang yang gue temui dijalan, pasti kebanyakan pelajar juga. Hal ini dibuktikan dengan keadaan yang semakin sepi ketika mendekati hari raya idul fitri. Jalanan lengang. Warung-warung tutup. Sesuai dugaan, mereka semua adalah pendatang.

Meskipun menurut pengamatan singkat dari mata gue, orang-orang yang menghuni kampong inggris itu pendatang, tetapi suasana kehidupan masyarakat jawa sangat kental terasa. Orang-orang yang baik dan ramah banyak gue jumpai disana. Intinya, pare itu adalah tempat yang enak banget buat belajar, enggak cuman belajar bahasa inggris aja. The atmosphere and the people are so nice. Gue yakin, siapapun bakal betah belajar disitu. Hanya saja, mungkin bisa dimaksimalkan lagi dalam beberapa aspek.

Apa yang gue dapat?

Yang paling utama dan jelas sih Ilmu. Tujuan mutlak bagi siapapun yang datang jauh-jauh ke tempat itu adalah untuk belajar, mendapatkan ilmu. Oke, gue mengambil kursus di Global English (GE) selama satu bulan. Gue ngambil academic toefl dan kelas regular grammar for writing dan job interview. Alasan kenapa milih GE, karena saran dari jasa travel juga sih dan juga di GE bisa bebas memilih program sesuai kebutuhan gue. Awalnya gue pengen menambah kemampuan writing and speaking, tetapi karena di GE ada kursus job interview, jadi makin tertarik deh. Untuk detail gimana belajar di GE bakal gue bagi dipostingan selanjutnya yah.

Belajar di GE ini bikin gue gak menyesal. Selain ilmu, gue disini juga belajar untuk koreksi diri. Gue orangnya seperti apa? Apa yang kurang dan lebih dari diri gue? Itu semua gara-gara gue ambil kelas JobInterview sih, jadi lebih diarahkan pada hal yang baik untuk kita ambil. Ketika itu tidak hanya diarahkan untuk bagaimana menjawab sebuah pertanyaan ketika wawancara kerja, tetapi juga lebih penanaman mind-set yang positif, membuka mata gimana harus mengejar mimpi, hal-hal positif dan motivasi-motivasi semacam itu deh. Cocok banget buat freshgrad kayak gue.

Selain ilmu, jelas banget dapat pengalaman. Pengalaman tinggal di tempat baru. Pertama kali ke Kediri, pertama kali tinggal di asrama, dan mendapatkan sahabat-sahabat baru. Disana gue banyak bertemu macem-macem orang yang semuanya pada seru dan asik! Kebanyakan temen-temen gue anak SMA sih, setidaknya begitu di asrama. Tetapi ngobrol sama mereka tuh enak. Semuanya mengalir, mereka seperti tidak mencemaskan apa-apa hidupnya (atau mungkin belum saatnya). Berbeda dengan gue yang kalau ketemu temen-temen seusia gue yang sering berbicara dilema di usia dewasa. Tapi pada dasarnya mereka semua baik kok. Anak-anak SMA itu masih polos dan nge-gemeshin. Orangnya unik-unik lagi. Ada yang suka K-Pop, ada yang mengidolakan tutor-tutor GE (Wkwkwk), ada yang ngaku sodaraan sama temennya tetapi gak ada jejak keturunan sama sekali, ada yang ngaku-ngaku saudaranya Taylor Swift, duh pusinglah. Tapi seru!

Gue juga ketemu temen-temen seumuran di kelas gue. Mereka semua berasal dari latar belakang yang berbeda, seru juga berbagi cerita sama mereka. Pokoknya orang-orang itu telah membuat gue membuka mata akan seperti apa indahnya dunia luar (selama ini gue cuman berkecimpung dengan orang dan dunia yang sebidang dengan gue haha).

Pengalaman gue ke Pare ini lebih seperti sebuah perjalanan sih. Gue disini lebih banyak mendapatkan pelajaran untuk hidup gue sih, dibandingkan tentang bahasa inggrisnya (ini juga gue dapet banyak). Tetapi gue suka itu. Ini sih arti traveling buat gue, bukan cuman bertemu dengan new places and faces, tetapi juga tentang refleksi diri gue seperti apa, sejauh apa gue bisa mengendalikan diri, dan membuat gue menyadari sekecil apa posisi gue di mata masyarakat.

A Story from Kampung Inggris, Pare, Kediri

IMG-20180625-WA0018

Hi guys, sudah lama tidak menyapa melalui tulisan dalam blog ini. Semoga kalian berada dalam keadaan yang sehat dan bahagia ketika membaca blog ku kembali (jangan bosen pliss). Well, gue kemarin terkendala beberapa hal untuk update blog dan gue juga kemarin baru aja selesai dari sebuah perjalanan menarik yang akan kubagi dalam postingan kali ini.

Iyap, gue kemarin baru kembali dari sebuah tempat yang amat dikenal banyak orang, terutama bagi kalangan pelajar dan mahasiswa. Semua orang mengenal tempat ini, karena kepopulerannya dalam berbahasa. Bukan dalam bahasa daerah seperti lainnya, tetapi dalam bahasa asing yang sudah familiar di telinga kita. Tempat yang gue kunjungi ini adalah sebuah kampung yang terkenal karena “ke-bahasa inggris-annya”. Sejatinya bahasa inggris adalah bahasa asing, sama sekali bukan bahasa ibu kita, tetapi bahasa ini sudah sangat familiar ditelinga para anak-anak, pelajar bahkan orang dewasa. Mereka langsung mengetahui bila seseorang sedang mengucapkan sebuah kata dalam bahasa inggris. Meskipun tidak paham artinya, tetapi setiap orang pasti tahu jenis ucapan dan kata-kata dalam bahasa inggris. Well, inilah salah satu kekuatan negeri dari ratu Elizabeth. Masyarakat Indonesia tidak salah, globalisasi dan keadaan yang mengharuskan kita mengenal itu semua. Ini bukan soal tentang bangga akan identitas atau jati diri, tetapi ini soal bertahan dalam keeksistensian untuk bertahan ditengah-tengah perkembangan dunia yang menggila.

Awalnya perjalanan ini lebih seperti “escape” melarikan diri dari kehidupan gue sejenak. Seorang freshgraduate seperti gue yang sedang menghadapi kebingungan dalam deraian ombak kehidupan (cie  wkwk) menganggap hal seperti ini akan memberikan keuntungan. Sepanjang perjalanan di kereta, gue selalu berpikir dan bergumam “Is it right to go there?” “Is it right decision?” “Bagaimana kalau gue melewatkan kesempatan emas lainnya?” kekhawatiran menyertai gue dalam balutan selimut yang melilit di kursi kereta. Khawatir akan melewatkan kesempatan (tawaran kerja, proyek dsb), khawatir dengan kondisi disana, apakah gue akan bisa melalui kursus dengan baik, bisa adaptasi dan punya teman.

Gue berangkat dari stasiun Cirebon Prujakan menuju stasiun Kediri. Berangkat pada pukul 16.00 hingga sampai pada pukul 02.00 pagi dini hari berikutnya. And it was really stupid arrived at that time! Jadi gue daftar course nya menggunakan jasa travel (Eureka Tour) alasannya supaya bisa dijemput dari stasiun langsung diantar menuju kampung parenya, butuh waktu sekitar 40 menit dari stasiun Kediri menuju Pare. Begitu sampai di stasiun, Eureka Tour langsung mengantarkan kita menuju tempat kursusnya masing-masing. Bayangkan saja, di pagi buta yang masih benar-benar buta, gue diturunin di depan kantor tempat kursus gue. Sebenarnya ketika di mobil ada sekitar lima orang, tetapi karena tempat kursus yang diambil beda-beda, jadilah gue diturunin sendiri-an (karena tidak ada penumpang lain yang satu tujuan dengan gue).

Sebetulnya gue sudah memperkirakan akan seperti ini, karena pada dasarnya gue kehabisan tiket untuk berangkat ke Kediri pada malam hari supaya sampai Kediri pada pagi hari atau siang besoknya. Eh malah dapat tiket berangkat sore jadi sampai sana dini hari. Ya begitulah hehe. Ketika sampai, supir travel membantu menurunkan barang-barang gue dari bagasi dan kemudian ia kembali untuk menginjakkan pedal gas. Suara “wuzzzz”dari mobil yang melaju meninggalkan gue, kemudian setelah itu hening. Gak ada yang bisa gue lakuin selain diam menunggu. Gak mungkin teriak-teriak mengetuk pintu kantor, percuma tidak akan ada nyahut, kalaupun sampe ada, hiii serem kali. Tapi karena gue dibilang sering terlantar kayak gitu, ya cuek aja, dan alhamdulillahnya gak ada yang berusaha jahatin gue. Sampai akhirnya baru ketemu teman kursus juga kira-kira selepas subuh. Not so bad!

Anyway guys, sebetulnya kalau lo punya kasus kayak gue (datang terlalu cepat wkwkkw) lo bisa menghubungi pihak travel atau asrama untuk menampung elu sementara, cuman gue anaknya gak perhatian aja dan bodo amat –an, jadi ya santai aja sob!

Seperti yang sudah gue bilang, gue daftar courses melalui jasa travel itu. So, gue melakukan semua transaksi dengan memilih jenis kursus yang diambil beserta pilihan lainnya seperti asrama dan fasilitas penjemputan menggunakan jasa travel itu. Untuk rinciannya gue akan bagi di postingan selanjutnya yah, karena nanti terlalu banyak bahasannya. Tetapi intinya gue mengambil kursus reguler dengan jangka waktu satu bulan di Global English (GE). Plus dengan asrama English area. Nih satu hal yang kalian harus tahu, kalian bisa memilih asrama yang non English area ataupun kalian tidak memilih untuk tinggal di asrama juga boleh kok, dengan kata lain nge-kos. Tapi ya kos-kosannya cari sendiri. Dan untuk English area camp, itu para member diwajibkan untuk menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar dalam keseharian. Mantep kan! Oh iya untuk detail tentang asrama juga akan gue bagi di postingan selanjutnya Review Kursus, Asrama dan Biaya Hidup di Pare. Jadi tungguin yah!

Aplikasi Identifikasi Reptil & Amfibi Praktis dan Konservatif

IMG-20180313-WA0009

Pernah terbesit bagaimana membedakan spesies katak satu dengan lainnya?
Ketika kamu sedang mengendarai motor dengan santai terkadang kamu menemukan bangkai kodok yang sudah kering dan gepeng di jalan atau kamu sedang berjalan-jalan di pematang sawah dan melihat katak-katak berendam dalam aliran air, bagaimana kenampakan keduanya? Apakah menurutmu mereka sama saja?

Bila diperhatikan lebih seksama, mereka berbeda lho. Setiap spesies katak atau hewan lain itu memiliki ciri khas atau karakter identifikasi masing-masing yang mana karakter ini adalah sebuah pembeda dari spesies lain. Ciri atau karakter identifikasi ini biasanya dapat dilihat secara morfologi atau kenampakan tubuh bagian luar. Coba kamu perhatikan kodok yang kamu temui di jalan itu memiliki bentuk tubuh yang bantet dan kulit kasar berbintil-bintil (bila kamu menemuinya dalam keadaan utuh dan belum gepeng). Sementara katak yang kamu temui di sawah biasanya akan memiliki kulit yang lebih halus dan bentuk tubuh yang lebih ramping. Dan bila ditelisik lebih lanjut sebetulnya kedua jenis yang saya contohkan tersebut berasal dari familia/suku yang berbeda lho.

Terus mengapa kita harus bisa membedakan spesies hewan satu dengan lain? Karena dengan membedakan satu dengan lainnya kita dapat mengetahui spesies/jenisnya. Dengan mengetahui jenisnya maka kita bisa mengenal informasi-informasi terkait biologinya. Kita bisa ambil contoh pada ular, sobat sekalian tau kan kalau tidak semua ular itu berbisa dan semua ular berbisa itu memiliki tingkat dan tipe bisa yang berbeda. Ada ular yang berbisa tinggi seperti King Cobra (Ophiopaghus Hannah) namun ada juga yang memiliki tingkat bisa menengah seperti Ular Pucuk (Ahaetulla prasina). Bila sobat atau kerabat sobat ada yang tergigit ular, cara terbaik untuk membantunya adalah membawanya ke rumah sakit, jangan dibawa ke dukun ya! Di rumah sakit si korban akan ditangani oleh tim medis dengan pemberian serum anti bisa. Akan tetapi, pemberian serum anti bisa harus disesuaikan dengan jenis bisa dari jenis ular yang menggigit. Beda spesies maka beda juga penanganan/pemberian serum anti bisa. Nah, untuk itu mengetahui jenis ular apa yang menggigit itu penting dalam kasus gigitan ular ini.

Sementara mengidentifikasi spesies reptil dan amfibi itu bukan kegiatan yang mudah. Hal inilah yang mendasari teman-teman dari Kelompok Studi Herpetologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada untuk membuat sebuah aplikasi berbasis android yang bisa membantu masyarakat dalam melakukan identifikasi jenis reptile dan amfibi.

Aplikasi ini diberi nama “Reptil & Amfibi Jogja” yang sudah rilis di playstore sejak 13 Maret 2018. Pada aplikasi ini tercantum informasi untuk identifikasi tidak hanya mengenai jenis-jenis ular (Serpentes), akan tetapi mencakup jenis-jenis herpetofauna lainnya seperti amfibi, kadal (Lacertilia), kura-kura (Testudinata). Semua herpetofauna yang ditampilkan dalam aplikasi mengacu pada data keanekaragaman jenis-jenis herpetofauna yang berada di D.I.Yogyakarta. Dalam aplikasi ini dimuat fitur berupa foto karakter identifikasi beserta informasi menarik tentang spesies yang disajikan.

Selain memudahkan bagi orang awam, aplikasi ini juga memudahkan untuk para penjelajah atau peneliti lapangan yang sering melakukan survei hewan di alam langsung. Karena kalian tidak perlu repot-repot untuk membawa buku panduan identifikasi yang tebal.

Itulah sedikit promosi, eh..review tentang aplikasi ini. Aplikasi ini dengan bangga dirintis dan dikembangkan oleh saya dan teman-teman saya di Biologi, UGM. Kalau teman-teman mau belajar tentang reptil & amfibi bisa didownload di playstore loh, gratis!!

Sedikit tentang Konflik Manusia dan Satwa Liar

natgeoindonesia

Sumber gambar: natinoalgeographic.co.id

Beberapa pekan lalu sering sekali baca berita muncul kasus manusia yang diserang harimau. Sejauh yang gue tangkap, kasus itu terjadi di kabupaten Palalawan, Indragiri Hilir, Riau dan Mandiling Natal, Sumatra Utara. Sebetulnya baca berita kasus semacam itu, membuat perasaan gadis pecinta binatang kayak gue campur aduk. Di satu sisi, gue prihatin dengan kondisi yang menimpa korban serangan, sementara di sisi lain merasa sedih harimau makin dibenci dan diperlakukan seperti yang terdapat pada berita.

Bagi yang belum tahu beritanya, gue ceritakan sedikit ya. Dilansir dari nationalgeographic.co.id (15/03/18) di Desa Bangkelang, kecamatan Batang Natal, kabupaten Mandailing natal, Sumatra Utara seorang warga diserang hingga mengakibatkan luka-luka. Dari kejadian ini, warga desa merasa resah dengan keberadaan harimau yang mengancam kehidupan mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk membunuh hewan langka ini dengan cara ditombak dan ditembak dengan peluru serta memajangnya di pasar dan menjadikan hal itu sebagai tontonan. Berikut foto yang beredar diinternet.

Berita lain dari Kabupaten Palalawan, Indragiri hilir, Riau, dua orang warga telah tewas diterkam seekor harimau. Berbeda dengan kasus di madina, keadaan warga Desa Pelangiran lebih tenang karena didampingi BBKSDA, meskipun kecemasan itu masih hadir diantara mereka karena harimau bernama bonita yang diduga menyerang Jumiati dan Yusri itu pun sampai saat ini belum tertangkap.

Sedih gak sih harimau digituin! Udah sedih dibunuh, kan harimau hewan langka dan terancam punah, ditambah diperlakukan seperti itu pula. Tetapi dari tindakan ekstrim para warga ini gue bisa mencium keresahan yang mereka rasakan.
Konflik antara satwa liar dan manusia tidak terjadi hanya pada harimau saja. Di Indonesia konflik lainnya terjadi pada buaya, komodo, orangutan dll. Hal seperti ini sering terjadi, diberbagai negara belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Penasaran gak sih kenapa bisa terjadi konflik?

Well sebab secara detilnya sih bermacam-macam ya. Tetapi yang jelas, kebanyakan penyebabnya adalah hilangnya habitat asli satwa yang mengakibatkan hilangnya mangsa atau sumber daya bagi satwa liar tersebut dan kemudian satwa-satwa tersebut mulai menempati habitat manusia. Seperti menempati kebun karena persediaan pakan satwa liar itu di habitatnya berkurang. Padahal kan sejatinya, habitat satwa liar dan manusia itu berbeda. Pasti ada alasan mengapa hewan-hewan ini malah mendekati pemukiman. Pasti ada alasan juga mengapa hewan-hewan ini menyerang manusia.

Seperti dikutip dari news.detik.com (15/0318), konflik satwa dan harimau di inhil, riau ini disebabkan habitat harimau rusak karena adanya perkebunan sawit dan hutan tanaman industri (HTI). Usut punya usut, ternyata lanskap kerumutan yang termasuk didalamnya suaka margasatwa kerumutan yang terletak di kabupaten pelalawan itu memiliki beragam flora dan fauna. Diantaranya macan dahan, harimau Sumatra dan juga monyet ekor panjang. Nah, didalam lanskap itu ternyata ada 15 korporasi HTI dan hak pengusaha hutan serta 7 korporasi sawit. Hmm.. melihat banyaknya usaha korporasi disana, sedikit muncul dugaan bahwa hal itu menjadi penyebab rusaknya habitat hutan harimau dan satwa liar didalamnya yah.

Satwa liar itu sebenarnya mereka takut lho sama manusia, mereka menganggap bahwa manusia adalah ancaman bagi mereka, oleh karena itu mereka akan menyerang siapapun dan apapun yang menurutnya adalah sebuah ancaman. Itu, secara teori, tetapi untuk kasus-kasus harimau Sumatra ini, gue sebetulnya gak berani bilang alasannya kenapa, karena gue gak melihatnya secara langsung dan tidak mengikuti studi penelitiannya. Oh iya, untuk mengetahui alasan mengapa terjadi konflik juga diperlukan studi penelitian lho, jadi tidak sembarangan memberi pendapat.

Balik lagi ke kesedihan gue terhadap harimau dan kasus penyerangan. Sebelum banyak korban berjatuhan dan sebelum harimau-harimau di Sumatra punah karena amarah keresahan manusia, konfilk ini harus segera ditangani. Kasus konflik semacam ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Studi mengenai harimau pun baik dari keberadaanya, populasi dan lainnya juga sudah sejak dahulu dilakukan. Upaya-upaya konflik pun sudah digancangkan pihak-pihak terkait. Lembaga pemerintah dan non pemerintah pun ikut berperan dalam melestarikan hewan langka tersebut.

Gue percaya pihak-pihak tersebut telah berupaya melakukan yang terbaik untuk melindungi harimau kita. Pun, gue tidak kehilangan empati terhadap warga-warga yang merasa dirugikan atau terancam. Hanya saja, sepertinya ada hal yang lebih baik dilakukan dari pada membunuh harimau, apalagi dengan membuatnya seperti tontonan macam itu. Lembaga-lembaga tersebut pasti tengah berjuang, mengerahkan tenaga dan pikiran mereka untuk mengantisipasi terjadinya konflik. Tidak mudah pasti menangani permasalahan semacam itu yang mana harus memikirkan keamanan manusia dan juga kelestarian satwa tersebut.

Artikel ini gue tulis bukan untuk ingin menanggapi atau memberikan pandangan soal kasus-kasus yang terjadi, enggak kok, ntar gue malah dibilang sotoy. Tulisan ini hanyalah ungkapan keperihatinan gue terhadap kasus yang ada. Pun, juga hanya sebatas pendapat pribadi yang tidak memihak atau mewakili golongan. Gue cuman mau menginformasikan sobat sekalian bahwa konflik itu tidak terjadi hanya pada antar manusia, golongan atau etnis saja, akan tetapi melainkan antar makhluk hidup. Dan sebagai manusia yang dikaruniai akal yang pintar dan biadab, seharusnya kita tidak bisa semena-mena terhadap makhluk lain dan juga ala mini.

In the final analysis it is difficult to blame wildlife for human-wildlife conflict, because the animals are simply, doing what animals do. On the other hand, if humans view wildlife as pests, as damaging to their livelihoods, or as a danger to their community or family, then wildlife is going to lose. The challenge for conservationists is to somehow change those attitudes by offering practical and effective solutions.Michael Hutchins. Pada akhirnya manusialah yang harus diberi penjelasan dan pemahaman, karena satwa itu mereka hanya melakukan apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan hidup.

Indonesia Darurat Konservasi Keanekaragaman Hayati

IMG-20180302-WA0003

Sumber gambar: POKJA Konservasi

Jakarta (02/03/18) dalam kegentingan kondisi keanekaragaman hayati Indonesia, POKJA Konservasi menandai DPR RI dan pemerintah untuk segera menuntaskan pembahasan RUU perubahan UU No. 5 Tahun 1990. Pasalnya, DPR RI belum menempatkan rancangan undang-undang perubahan UU No. 5 tahun 1990 sebagai prioritas utama. Sementara itu, kasus-kasus terkait konservasi terus bermunculan tiada henti dan semakin membuat resah publik sekaligus mengancam populasi biodiversitas Indonesia. Masih ingat dengan kasus penembakan orangutan yang membuat 130 buah peluru bersarang ditubuhnya? Itu hanya salah satu dari banyak kasus yang terjadi. Sebut saja mulai dari orangutan sebagai objek seksual, perdagangan satwa dilindungi, hingga pengunggahan dengan sengaja hasil perburuan di banyak akun social media sebagai rasa bangga atas penguasaan sumber daya alam dan tak lebih dari ego sebagai manusia. Tidak hanya itu, pembangunan pabrik atau kegiatan usaha yang berlokasi pada area konservasi menjamur serta pencurian sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional yang merajalela. IMG-20180304-WA0010

Seakan hukum tak mampu menyentuh mereka, pelaku-pelaku kejahatan ini tidak memiliki rasa takut atau terancam. UU No. 5/1990 tidak memberikan efek jera atau sarana pencegahan bagi pelaku tindak pidana konservasi. Kejahatan konservasi masa kini sudah semakin canggih dan terorganisir. Modus-modus baru yang bermunculan demi mengelabui petugas. Selama 27 tahun UU No. 5/1990 tidak pernah direvisi dan ancaman pidana yang dimuat dalam pasal tergolong sangat rendah. Tak heran, kejahatan dari tahun ke tahun semakin meningkat.

IMG-20180304-WA0005Revisi UU No. 5 Tahun 1990 telah disuarakan oleh Kelompok Kerja Konservasi (POKJA Konservasi) sejak tahun 2015. Sejak saat itu, proses konsultasi publik oleh DPR RI telah dilaksanakan. Tahun 2007-2008, Dewan Kehutanan Nasional telah melakukan konsultasi publik di berbagai daerah dan menghasilkan usulan yang konkret. Hingga akhirnya usulan revisi undang-undang itu diindahkan oleh DPR RI pada 5 Desember 2017, dengan dikeluarkannya RUU KSDAHE yang akan dibahas dengan pemerintah. Akan tetapi, usulan RUU KSDAHE yang diserahkan DPR berbeda dengan apa yang dikonsultasikan pada publik melalui rapat dengar yang diselenggarakan Komisi IV DPR.

Tentu hal ini memunculkan pertanyaan, mengapa? Untuk apa semua konsultasi publik itu diselenggarakan? Mungkinkah terselubung tujuan lainnya? DPR seharusnya dapat memberikan alasan sebenarnya. Seiring berjalannya waktu, saat ini DPR memiliki draf yang telah disepakati bersama. Namun, masih terdapat kelemahan di dalamnya. Hasil analisis POKJA Konservasi mencatat beberapa kelemahan diantaranya, i) pasal siluman yang berisi ketentuan perizinan eksploitatif yang berseberangan dengan semangat penguatan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, ii) pengakuan semua hak dan peran masyarakat adat iii) pengaturan sumber daya genetik yang masih menyisakan permasalahan iv) pengebirian ketetuan penegakan hukum dan v) tidak adanya penyelesaian yang solutif untuk mengakhiri konflik masa lalu terkait konservasi dan persoalan kelembagaan terkait sumber daya genetik. IMG-20180304-WA0007.jpgIMG-20180304-WA0011IMG-20180304-WA0006

Kelemahan-kelemahan ini seharusnya tidak menjadi alasan DPR dan Pemerintah untuk menunda pembahasan RUU KSDAHE di situasi keanekaragaman hayati yang genting ini. Walaupun perubahan UU No. 5 Tahun 1990 telah masuk dalam agenda program legislasi nasional dan draf RUU telah disampaikan kepada pemerintah, namun hingga kini nasib kejelasan perubahan undang-undang ini masih abu-abu. Sepatutnya kita mengetahui bahwa banyak hal yang harus dikerjakan oleh DPR dan Pemerintah, tetapi bukan berarti kita harus mengulur waktu hingga keanekaragaman hayati di negeri tercinta ini habis terkuras. Dua puluh tujuh tahun adalah waktu panjang yang dihabiskan hanya untuk menunggu kepunahan biodiversitas.

Oleh karena itu, POKJA Konservasi meminta kepada DPR RI untuk:

  1. Mempercepat proses pembahasan RUU KSDAHE agar segera dapat diundangkan tahun ini;
  2. Mengakomodasi masukan publik yang sudah pernah disampaikan dalam forum yang diselenggarakan, baik lisan maupun tulisan, agar terintegrasi dalam draf RUU KSDAHE. Jikapun masukan publik tidak dapat diakomodir, DPR RI patut dan seharusnya memberi alasan untuk menolak masukan publik;
  3. Memastikan bahwa semua pembahasan dilakukan secara transparan sehingga bisa dipertanggungjawabkan;
  4. Secara khusus kepada pimpinan DPR RI, untuk memutuskan agar proses pembahasan RUU KSDAHE dilanjutkan oleh Komisi IV DPR RI guna menjalin keberlanjutannya; dan
  5. Secara khusus kepada Komisi IV DPR RI, agar proaktif melanjutkan pembahasan yang selama ini telah berjalan.

IMG-20180302-WA0004

Henry Subagyo, Direktur eksekutif Indonesian Center of Environmental Law (ICEL), mengatakan “DPR harus segera menuntaskan pembahasan RUU KSDAHE di tahun 2018, mengingat kondisi darurat saat ini dimana banyak kasus yang tidak bisa lagi dijangkau oleh UU No. 5/1990”. Jika RUU ini segera dituntaskan, maka Indonesia akan terbantu dalam mencapai target-target konservasi di tingkat internasional, termasuk dimuat dalam Convention on Biological Diversity (CBD) dan dikenal sebagai Aichi Target, serta capaian Protokol Nagoya, dimana Indonesia telah menyepakati dan memberikan komitmen untuk berkontribusi dalam pencapaiannya.

Kebijakan Kantong Plastik 200 Perak (masih)?

PlasticBags

Gue belanja ke sebut saja Indomaret, tapi enggak dipungut biaya plastik 200 perak lagi tuh. Gue jadi berpikir kemanakah kebijakan itu sekarang? Diberhentikan kah? Padahal permasalahan sampah plastik khususnya di Indonesia masih banget jadi penyakit. Setelah gue telusuri, kebijakan plastik itu diberlakukan sejak Februari 2016 untuk diuji coba pada beberapa kota di Indonesia. Awal mula ketetapan kebijakan itu direspon positif oleh para pebisnis ritel. Beberapa warga pun ikut mendukung terhadap kebijakan ini. Meskipun pada pelaksanaan uji coba banyak pro-kontra didalamnya.

Mulai dari harga 200 perak yang sama sekali tidak menjadi beban dan dianggap tidak efektif, serta juga kesiapan yang belum matang untuk menerapkan kebijakan ini. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia sudah melakukan survei setelah diberlakukannya uji coba. Survei yang dilakukan april 2016 di 25 gerai ritel terkemuka di Jakarta mengatakan bahwa 200 rupiah itu belum efektif. Setuju gak sih, kalau 200 perak itu bukan apa-apa. Tanpa bermaksud untuk merendahkan kaum menengah kebawah, kebijakan ini kan baru diuji coba pada gerai ritel, para konsumen tidak akan merasa keberatan untuk berbelanja banyak karena jika mereka menghabiskan 5 kantong plastik berarti bayar 1000 rupiah doang kok, yang bahkan lebih mahal untuk biaya parkir.

Selain harga 200 perak yang dinilai tidak efektif itu, muncul pendapat lain yang tidak mendukung yaitu “kemanakah uang hasil konsumen beli plastik itu dilarikan?” ada banyak artikel yang menyebutkan hal itu, silahkan kamu bisa search di google sendiri, salah satunya dikutip dari forum kaskus.co.id. Memang hal ini juga harus kita perhatikan, meskipun hanya bernilai 200 tetapi kita perlu tahu kemana semua pundi-pundi itu dialokasikan. Karena kebijakan 200 perak ini pun, muncul pertanyaan lainnya dibenak konsumen “mengapa persoalan ini malah dibebankan pada masyarakat?” Well, ada hal yang harus gue lurusin dari artikel-artikel negatif dan pandangan serta pertanyaan-pertanyaan yang melawan kebijakan. Pemerintah tidak bermaksud membebankan konsumen untuk “membeli” plastik. Pemerintah mengajak konsumen untuk mengurangi konsumsi plastik, sehingga warga harus menggunakan tas belanja yang bisa digunakan berkali-kali dan tidak menggunakan plastik yang pada akhirnya dibuang dan menumpuk karena sulit terdegradasi. Maka dari itu, adalah konsekuensi bagi warga yang tidak menggunakan tas harus mengeluarkan uang untuk plastik.

Hai konsumen, pemerintah itu ingin mewujudkan Indonesia bebas sampah 2020. Makanya pemerintah akan senang bila kalian tidak menggunakan plastik sama sekali. Jadi, kalian kalau ingin belanja direncanakan dulu ya, supaya sekiranya kalian bisa bawa tas belanja sendiri.

YLKI memberikan rekomendasi bagi pemerintah untuk memberikan sosialisasi yang jelas mengenai kebijakan dan transparansi dana yang telah dikeluarkan konsumen untuk plastik berbayar. Selain itu, pihak ritel juga masih belum menyiapkan alternatif tas belanjaan, kalau pun ada juga mahal sekali, dan tidak setiap kasir memberikan penjelasan tambahan tentang kebijakan ini. Gue berpikir mungkin lebih baik kalau kantong plastik itu ditiadakan saja. Siapa yang setuju?

Karena sebetulnya guys, kebijakan ini benar berdampak loh. Menurut data dari hasil uji coba plastik berbayar ini telah berhasil 55% mereduksi jumlah sampah jenis ini, data ini diklaim oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Lingkungan. Bukan angka yang terlalu tinggi memang, tetapi setidaknya ada nilai yang menurunkan jumlah sampah plastik yang menumpuk. Berarti kita seharusnya bisa mewujudkan Indonesia bebas sampah plastik 2020, asalkan ada kerjasama antara pemerintah dengan kebijakan yang jelas dan pengusaha ritel yang mendukung serta masyarakat yang sadar akan kondisi lingkungan.

Kebijakan plastik berbayar ini kan sudah dicabut, kita ini sebetulnya menunggu ketetapan peraturan yang akan dikeluarkan KLHK untuk plastik berbayar ini. Dilansir dari liputan6.com, KLHK akan segera menerapkan kembali peraturan plastik berbayar. Menurut Kepala Subdirektorat Barang dan Kemasan KLHK, Ujang Solikin Sidik mengatakan draft mengenai kebijakan ini telah diserahkan kepada Menteri Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya Bakar, yang sampai saat ini masih dipertimbangkan beliau. Kebijakan yang diterapkan ada tiga pilihan lho, kantong plastik yang tetap berbayar, kantong plastik dihilangkan, atau mengeluarkan jenis kantong yang terbuat dari anyaman rotan atau kayu dengan harga yang mahal. Ada juga kemungkinan harga plastik lebih besar dari 200 perak, mengingat harga itu tidak efektif menekan kesadaran warga. Jadi, kita siap-siap aja ya guys dan ingat kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi sampah, maka sebaiknya kita dukung. Semoga saja peraturan yang akan dikeluarkan nanti menjadi lebih jelas soal sosialisasi dan transparansi dananya.

Lebih baik lagi dari pada menunggu peraturan kebijakan yang tidak tahu kapan akan dikeluarkan, kita bisa melakukannya dari sekarang. Dikit-dikit jangan pake plastik ya, lebih baik selalu membawa folding bag/tas belanjaan atau apalah sebutannya itu kemana-mana. Banyak kok online shop yang menjual tas belanja lucu-lucu dan keren-keren yang bisa kamu pakai berulang kali. Sampah plastik itu banyak banget memadat di laut yang mana juga mengganggu kehidupan biota laut. Contohnya penyu yang sering ditemukan memakan plastik, karena mengira plastik itu mirip dengan ubur-ubur dan plastiknya tidak bisa dicerna oleh sistem pencernaan penyu itu. Sedih deh. Selain itu, sampah plastik akan terurai ribuan tahun lamanya lho. Mulai dari sekarang ayo diet plastik!