Istimewa

Pesona Babi Kutil: Sebuah Pengalaman Dalam Suatu Relawan Penelitian

DSCN0708

Menjadi mahasiswi biologi, saya akrab dengan banyak jenis penelitian, meskipun tidak semuanya saya jamah. Namun saya sedikitnya paham setiap kali dihadapkan dengan paper hasil publikasi penelitian ilmiah yang terbilang “asing” bagi masyarakat biasa. Banyak jenis-jenis penelitian yang diketahui dan sudah dipelajari manusia. Banyak dari jenis tersebut diaplikasikan ke banyak jenis-jenis objek kehidupan mulai dari hewan, tumbuhan dan bahkan organisme terkecil sekalipun. Banyak dari jenis tema penelitian tersebut dikombinasikan dengan disiplin ilmu lain, dengan prinsip kinerja suatu atau beberapa metode, dengan konsep penelitian terdahulu atau sekedar percobaan dengan beberapa variable. Mungkin kalau disebutkan satu-satu, cerita saya akan membosankan seperti ruang kuliah. Dari banyaknya tema, satu yang membuat saya tertarik. Saya tertarik mendalami konservasi, khusunya alam liar. Melihat alam sekitar yang ramah dengan ekosistem yang seimbang adalah keinginan saya. Dari situ mulai saya berangkat untuk mempelajari hal yang membuat jantung saya berdegup kencang. Beruntung, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah penelitian, melalui sebuah rekruitmen singkat dari pengelola. Chester zoo tepatnya. Saya direkrut sebagai tenaga volunteer. Mendapatkan posisi ini saja, saya sudah bersyukur. Setidaknya saya diizinkan untuk menimba ilmu bersama para rekan yang sudah expert, apalagi sekelas “Chester zoo”. Sepintas tentang Chester, adalah sebuah kebun binatang yang terletak di London, UK dan memiliki program konservasi serta riset yang mumpuni.

Dengan perasaan girang dan sedikit gugup saya berangkat menuju bogor untuk bertemu peneliti utama. Setelah mendapatkan briefing, kami memulai perjalanan kami menuju ke selatan pulau jawa, yaitu garut. Ada apa di Garut? Lalu apa yang kami lakukan disana? Pertanyaan itu muncul ketika teman-teman saya penasaran dengan apa yang akan saya kerjakan. Dengan santai saya menjawab “survey penelitian Babi Kutil”. “Hah, Babi?” “Terus diapain Babinya?” “Ditangkep?” “Kalo lu nanti diseruduk gimana?” “Lu kan kecil?” “Berapa banyak tim nya?” “Ada cowok nya gak?” Hahah. Ya berbagai macam-macam respon dari teman-teman, dan keluarga menjadi yang paling khawatir diantara mereka. Namun, selain respon tersebut, ada pula yang merespon dengan positif (karena memang kita bekerja dan memiliki passion yang sama), mungkin ada pula yang iri ingin mendapatkan kesempatan ini. Ya saya harus bersyukur. Pun saya juga berharap untuk makin banyak orang yang mendapatkan kesempatan ini untuk belajar.

Yang saya lakukan sebagai volunteer adalah untuk mensurvei keberadaan babi kutil. Mengapa Babi kutil? Karena hewan ini merupakan salah satu jenis yang dikategorikan “endangered” atau terancam keberadaannya di alam oleh IUCN. Sementara Indonesia sendiri belum memberikan status perlindungan terhadap hewan ini, sehingga jenis ini masih banyak diburu. Tentunya juga harus banyak dilakukan dokumentasi pada keberadaan hewan ini di alam. Agar dapat diketahui masih ada atau tidakkah hewan ini di alam. Babi kutil atau yang biasa disebut celeng gonteng oleh masyarakat sekitar memiliki bentuk tubuh yang sedikit berbeda dari babi hutan biasa yang sering disebut bagong. Babi bagong dikenal memiliki bentuk tubuh yang besar sedangkan Babi kutil tubuhny lebih kecil dan lebih pendek, namun tubuhnya cenderung memanjang serta tingginya kira-kira berkisar hingga lutut manusia.

Lokasi penelitian yang digunakan adalah cagar alam sancang, garut. Sedikit cerita mengenai cagar alam ini, merupakan rumah bagi banyak jenis satwa liar, tentu saja termasuk babi kutil, sayangnya untuk data daftar spesies yang hidup di kawasan ini belum terdokumentasi dengan sempurna. Kawasan ini memiliki hutan sekunder dan hutan mangrove serta berbatasan dengan perkebunan karet dan berakhir pada pantai yang menghadap selatan pulau jawa. Selama penelitian, saya tinggal di sebuah kantor cagar alam yang letaknya tidak jauh dari lokasi penelitian, yang juga dekat dengan obyek wisata berupa pantai cijeruk, kampung cibaluk, yang menawarkan pesona pantai yang tak kalah indah dengan pantai indonesia di luar pulau jawa sana. Menyenangkan sekali selama tinggal disana.

Seperti halnya kegiatan penelitian lainnya, pengambilan data sampel dan pemiihan metode harus disesuaikan dengan sifat dan perilaku hewan tersebut dan juga data apa yang akan diambil. Karena Babi Kutil termasuk hewan nocturnal atau hewan yang aktif pada malam hari, maka kami melakukan penelusuran survei pada malam hari di hutan. Sebetulnya kami juga melakukan kegiatan pada siang harinya untuk memasang kamera jebak (camera trap) yang disebar ke beberapa titik lokasi penelitian. Namun kami ke hutan pada siang hari hanya pada hari pemasangan kamera saja, selain itu kami melakukannya semua pada malam hari.

Bekerja menggunakan kamera ini pun adalah hal baru bagi saya. cukup mudah untuk mengoperasikan alat ini. tidak rumit karena tidak perlu menghubungkan dengan program lain, cukup dengan memberinya baterai alkali biasa serta mengecek ketersediannya dan memastikan kartu memori telah tertanam didalam kameranya. Tetapi dibutuhkan kemampuan untuk mengetahui angle yang baik untuk mengambil gambar. Beberapa lokasi dengan keberadaan semak yang tinggi harus dihindari dan juga sebaiknya dijauhkan dari panas. Kami juga harus menyembunyikan kamera tersebut dengan benda sekitar karena ternyata benda-benda seperti ini rawan dicolong warga. Duh orang indonesia.

Tidak mudah untuk melakukan survei mammal dan burung secara nocturnal. hewan-hewan ini justru cenderung takut dan mudah menghindar akan keberadaan manusia, sehingga tidak mudah untuk menemukan kelompok hewan ini. akan tetapi apabila sudah memiliki banyak pengalaman terjun ke lapangan dalam pengamatan secara langsung, maka dapat dipastikan dapat mahir dalam menemukan bahkan mengidentifikasi hewan tersebut.

Selama satu bulan, penuh dengan aktivitas keluar masuk hutan dan juga aktivitas “malam” (tapi bukan clubbing ya), ditemani suara burung dan suara serangga malam hari, dinginnya angin malam serta seberkas cahaya senter berfilter merah yang menerangi kami. Sementara pada siang hari, kami harus bersahabat dengan panas terik matahari yang menyengat kulit, juga hafal bau logam pembungkus, rantai dan gembok kamera yang basah oleh embun, serta beberapa kamera jebak pada punggung dan kamera digital pada tangan (kami perlu membawanya untuk dokumentasi). Kami tidak melakukan kegiatan pada siang hari setiap harinya, tapi setidaknya dalam satu bulan kami harus melakukan itu semua sebanyak 4 kali. Dikarenakan selain pemasangan, kami juga harus melakukan pemindahan kamera-kamera tersebut pada titik lokasi lainnya. Selama pemindahan tersebut kami harus melakukan pengecekan apakah selama benda itu terpasang pada lokasi yang dipilih terdapat babi yang tertangkap kamera? Ataukah hewan jenis lain yang tertangkap? Ada ataupun tidak kami harus tetap mencatatnya. Selain itu juga diperlukan melakukan pengecekan pada baterai dan segera menggantinya dengan yang baru apabila sudah habis dayanya. Tentulah baterai ini menjadi barang yang dibutuhkan.

Mungkin saat ini kamu sedang bermain dengan imajinasimu, membayangkan pada apa yang kami lakukan, atau mungkin bahkan berpikir betapa gilanya kami, betapa lelahnya melakukan itu semua. Lelah itu pasti. Semua jenis pekerjaan pastilah melelahkan. Bahkan untuk seorang model pun yang memiliki tugas hanya dengan berpose, tapi pasti terselip rasa lelah. Akan tetapi rasa lelah itu akan terasa berbeda, bila hasil jeri payah lelah kita memuaskan dan berhasil, pasti terasa menyenangkan. Ditambah dengan keberhasilan hasil kerja tersebut adalah hal yang paling kita sukai, membuatnya berkali-kali lipat nilainya. Itulah yang saya rasakan sebagai tenaga relawan. Meskipun rasa lelah menghampiri, tetapi senang rasanya dapat merasakan dan mengenal lebih dalam seperti apa rasanya jadi peneliti. Kegembiraan saya menjadi maksimal kala melihat hasil tangkapan video oleh kamera jebak yang menampilkan gambar Babi pada beberapa kamera yang saya pasang, meskipun itu belum bisa dipastikan apakah hewan tersebut berjenis babi kutil, dikarenakan posisi babi yang tertangkap tidak memperlihatkan wajahnya pada kamera. Tetapi itu sungguh diluar ekspektasi saya. akan lebih berkali-kali kali lipat hebatnya bila menemukan hewan itu pada saat survei malam. Tapi sayang, yang kami temui saat malam adalah hanya suaranya dan suara semak yang diterjang oleh makhluk tersebut. Hewan itu selalu cepat-cepat kabur menghilangkan diri dari pandangan kami. Setidaknya selama survei, terlihat beberapa ekor musang yang menghibur kami.

Menjadi seorang peneliti memang tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi dan juga prioritas- prioritas yang dikorbankan, jauh dari keluarga misalnya. Tetapi tugas ini adalah mulia. Indonesia sangat butuh tenaga-tenaga mulia macam ini, untuk membenahi dan mengelola lingkungan sekitar. Alam liar dan seisinya juga tentunya. Karena semua jenis-jenis makhluk hidup yang ada pada berbagai macam ekosistem di Indonesia adalah aset negara yang harus dilestarikan untuk masa depan. Tidak semua orang bisa menjadi peneliti dan butuh upaya yang besar pula untuk mencapai posisi tersebut. Untuk itu sekiranya kita dapat menghargai para peneliti yang telah bekerja keras.

 

Istimewa

Wisata murah meriah: Menilik Kawanan Rusa di Kebun Gedung Negara, Cirebon

IMG-20170814-WA0000[1]Sekarang rakyat Cirebon tidak perlu pergi ke Istana Bogor atau Taman Safari untuk melihat Rusa. Ya, hewan ini bisa ditemui di Gedung Negara. Pemandangan sore hari di Gedung Negara ramai dengan barisan pengunjung di luar pagar dengan seikat kangkung dan wortel. Ya, ini adalah pemandangan yang sering dilihat apabila anda melintasi Bunderan Krucuk. Kawanan rusa ini menarik perhatian pengendara roda dua atau lebih yang melintas untuk bertandah di kebun rusa gedung negara. Pengunjung bisa memanfaatkan momen ini untuk bercengkrama dengan rusa sambil memberinya seikat kangkung ataupun wortel atau hanya sekedar mengambil gambar. Rusa-rusa ini sangat menggemaskan dan bersemangat dalam menyantap makanannya. Tidak perlu khawatir akan merogoh kocek anda lebih dalam layaknya tiket masuk kebun binatang yang mahal, cukup hanya dengan 3000 ribu rupiah untuk membeli makanan rusa, anda sudah bisa mengabadikan momen tersebut bersama keluarga, teman, ataupun pacar. Antusiasme warga Cirebon dengan adanya wisata ini sangat besar dan pengunjung yang datang pun terbilang ramai sekali, sampai-sampai pihak pengelola harus membatasi interaksi pengunjung selama 20 menit saja, karena saking banyaknya pengunjung yang datang. Wah, semoga tidak membuat macet jalanan kota Cirebon yah. Anyway, wisata dadakan dan murah ini pun adalah jenis wisata yang kaya akan sarat edukasi. Bagi anda yang memiliki putra atau putri yang masih kecil, tempat ini akan sangat cocok untuk dikunjungi bersama buah hati, anda dapat memanfaatkannya untuk mengajarkan anak mengenal jenis hewan dan menjadi penyayang binatang serta tidak takut pada hewan. Bagi anda yang belum memiliki buah hati, tak perlu risau, anda bisa saja berpartisipasi dengan rusa atau juga mengambil gambar dengan rusa. Selamat mencoba.

Istimewa

Hallo, Saya Maya Damayanti

Ini adalah kutipan pos.

Halo pemuda Indonesia. Ini adalah pos pertama saya. Mulai sekarang saya akan menggunakan platform ini untuk membagikan pengalaman saya terkait latar belakang yang saya punya sebagai biolog. Tidak hanya itu, blog ini akan dipenuhi dengan opini-opini dan pemikiran saya yang mungkin sedikit agak “liar” dalam menyikapi hal yang ada disekitar kita. Eits, saya juga orangnya suka hiburan, jadi saya akan berusaha membagikan sesuatu yang menarik seperti wisata, food atau tips-tips ringan untuk anda. So, hope you will enjoy this meals!

pos

[Review Buku] Filosofi Teras-Henry Manampiring

IMG_20191221_165227

…pada dasarnya semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, persepsi kita. Keduanya saling terkait, dan jika ada emosi negatif, sumbernya ya nalar/rasio kita sendiri (Henry Manampiring-filosofi teras).

Hi millenials, eh jangan pake millenials deng. Hi muda-mudi, tsssahhhh. Saya bawakan buku bagus buat kalian. Taraaaa “Filosofi Teras karya Henry Manampiring” hmm dari judulnya aja keknya berat yah, FILOSOFI. Gak kok.

Saya harus berterima kasih pada seorang teman yang telah merekomendasikan buku ini. Kupikir buku ini semacam buku-buku motivasi biasa, yang seringnya—kurang bisa diaplikasikan (dalam hidupku dan keseharianku) atau biasanya cuman sekedar kata-kata indah saja. Jauh dari ekspektasi, filosofi ini sangat realistis dan relevan dengan kehidupan kita—muda mudi di masa kini.

Terdiri dari 12 Bab dalam 312 halaman, buku ini sukses membuka mata saya dan menuntun saya pada ketenangan jiwa. Seperti menemukan matahari di tengah musim dingin. Saya, yang kala itu sedang menghadapi banyak masalah dan kecemasan yang berat, memutuskan pergi ke toko buku dan bertekad memahami apa itu filosofi teras? Beruntungnya saya menemukan buku ini, saya kini menjadi lebih tenang dan perlahan-lahan mampu mengatasi masalah saya sendiri. Ini asli, jujur dari hati. Saya tidak mencoba mendapatkan keuntungan dari ini. Lagian pembaca gue juga dikit haahahah.

Tapi beneran deh, aku jadi lebih bisa menerima dan tenang ketika dihadapkan pada sebuah masalah atau hal buruk yang menimpa. Padahal aku sendiri adalah orang yang sering ber-negative thinking, dan overthinking juga. Perlu diketahui juga, mengapa om henry manampiring menulis buku ini, karena awalnya beliau didiagnosa menderita Major depressive disorder atau mudahnya kita kenal dengan “depresi”. Dalam perjalanan untuk keluar dari depresinya, Om Piring menemukan sebuah konsep yang membantu beliau pulih dan lepas dari terapi obat psikiater. Kenapa si bisa sehebat itu? Yuk kita kenali yuk.

Apa si Filosofi Teras itu?

Disebut juga dengan Stoisisme atau  filosofi stoa (Om Piring menterjemahkannya dengan filosofi teras), adalah sebuah aliran filsafat yunani-romawi purba yang sudah berusia lebih dari 2000 tahun, tetapi masih relevan dengan kondisi manusia sekarang. Dalam stoisisme  dikenal sebuah konsep dikotomi kendali. Dikotomi kendali mengajarkan kita bahwa dalam hidup ini ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan tidak bisa kita kendalikan. Hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan yaitu cuaca, kekayaan, reputasi, karir, hubungan percintaan atau persahabatan, pandangan orang lain tentang kita dan sebagainya. Sementara hal yang bisa kita kendalikan sendiri yaitu opini, persepsi dan tindakan kita sendiri.

Menurut ajaran filosofi stoa ini, jika kita menaruh harapan atau berusaha mengendalikan hal-hal yang jelas-jelas tidak bisa kita kendalikan maka kita tidak akan merasa bahagia. Kita mungkin bangun tidur, bersemangat untuk mengejar karir. Akan tetapi seberapapun usaha kita untuk bersemangat tetap saja kita tidak bisa mengendalikan faktor-faktor luar seperti bos yang punya sentiment pribadi, subjektivitas soal definisi “kinerja yang baik”, rekan kerja yang dengki, atau peraturan-peraturan yang berubah. Dan kamu yang pernah patah hati, pasti tahu bahwa kita tidak bisa memaksakan rasa sayang pasangan. Kita bisa saja rajin memberi perhatian, kejutan, hal-hal manis, sampai se-bucin apapun, tetapi pada akhirnya perasaan pasangan kita ada dihatinya dan tidak bisa kita kendalikan. Jadi hal yang bisa kita lakukan dalam menghadapi hal-hal tersebut adalah persepsi kita, pikiran kita. Kita bisa memilih dan mengendalikan bagaimana respon dan perilaku kita terhadap hal-hal menyebalkan diatas. Intinya sih filosofi stoa tuh ngajarin kita untuk santuy aja! Emang ada hal diluar kendali kok, dan kita harus mengendalikan diri kita sendiri dengan santuy enggak buru-buru terbawa emosi.

Eits, jangan buru-buru berkesimpulan bahwa filosofi ini mengajarkan kita untuk pasrah. Filosofi stoa mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam. Artinya sebisa mungkin, di setiap situasi hidup, kita tidak kehilangan nalar kita dan berlaku seperti binatang, yang akhirnya berujung kepada ketidak bahagiaan.

Apa yang dirasakan setelah membaca dan sulitkah mempraktekannya?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, saya menjadi lebih tenang jika menghadapi situasi yang tidak enak hati. Lebih mudah merelakan sesuatu yang berjalan tidak sesuai harapan saya. Lebih menyadari bahwa saya cuman manusia biasa yang tidak semua hal bisa saya genggam. Saya menjadi lebih santuy, tidak mudah marah-marah dan baper. Saya menjadi lebih mengenali diri saya sendiri dan tidak sibuk memperhatikan orang lain (tentu saja sampai saat ini saya masih berprogres untuk mengaplikasikan filosofi stoa).

Filosofi stoa ini mengajarkan kita untuk bermental tangguh, cocok banget buat anak muda sekarang. Setiap bangun pagi, cobalah untuk membisikkan kepada diri bahwa hari ini akan ada puluhan, ratusan bahkan ribuan masalah yang datang diluar kendali dan kita harus siap berantisipasi untuk menerima dan merespon itu. Mungkin hari ini mood atasan tidak baik, mungkin rekan kerja berulah lagi, senior yang mengintimidasi, warung langganan makan siang tutup, di social media teman-teman pamer kehidupan mewahnya atau mantan pamer pacar barunya ahh elaaaaah. Semuanya bisa saja terjadi dalam satu hari, dan kita harus bisa mengendalikan diri kita supaya tidak terbawa emosi.

Untuk kamu-kamu yang lagi berusaha keluar dari jeratan masalah atau kecemasan dahsyat, semangat yah! I know it’s hard tapi yakin kamu bisa. Mulai sekarang cobalah untuk bisa mengidentifikasi sumber stresnya, coba tanyakan kenapa? Kalau kita bisa tahu sumbernya, maka kita bisa melawannya. Aku kutip lagi kata-kata diatas “…pada dasarnya semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, persepsi kita. Keduanya saling terkait, dan jika ada emosi negative, sumbernya ya nalar/rasio kita sendiri (Henry Manampiring-filosofi teras)” coba pikir lagi, jangan-jangan kita yang sering mengambil kesimpulan lebih cepat, atau kita yang kurang melihat pada fakta dan berspekulasi berlebihan. Selain itu, cobalah catat kegiatan atau hal-hal apa dalam hidup yang bisa atau pernah membuat kita bahagia. Misalnya ngobrol dengan seseorang, hobi dll. Lalu, lakukan aktivitas yang membahagiakan itu. Kamu bisa banget loh mendalami filosofi teras ini lewat baca bukunya langsung, karena ada banyak hal yang benar-benar relevan dengan kehidupan kita dikupas secara ringan.

Oh iya Dear, filosofi ini hanya sebuah konsep. Mungkin saja ini tidak cocok diaplikasikan ke semua kasus depresi. Saya bukan psikiater atau psikolog, cuman kebetulan baca buku ini aja. Kalau punya masalah yang lebih berat dan tidak bisa diselesaikan dengan bantuan filosofi stoa, please cerita and seek professional help atau kalau mau sekedar cerita ke aku juga bolehh kok.

 

TENTANG BODY POSITIVITY

Potret dari Fashionable Wanita Slang Penawaran

“May, jerawatmu banyak banget sih! jarang cuci muka?”

Komentar diatas adalah komentar yang biasa gue dengar dari sekeliling gue. Ya, muka gue jerawatan! Sebagai seorang yang sering mendengar ujaran tersebut, gue termasuk orang yang udah biasa aja denger kata-kata itu, meskipun gue sebelumnya risih banget dan malu kalau ada orang bilang gitu. Ditambah lagi gue selalu bisa menangkap ekspresi orang yang dihadapan gue ketika pertama kali ketemu, atau udah lama gak ketemu. Tidak semua dari mereka menyebutkan hal itu sih tetapi tetep aja gue bisa lihat gimana kagetnya atau aneh atau mungkin jijiknya mereka ngeliat muka gue.

Well, sebenarnya tidak ada maksud samsek untuk curhat yaa. Tapi disini gue mau ngejelasin kalau betapa kita atau masyarakat kita sangat kurang menghargai body positivity. Sering banget kan, kita para cewek mendapatkan komentar yang seringnya dianggap “guyonan” atau sekedar “basa-basi” tapi makjlebnya minta ampun. Nah yang ngasih komentar tuh kayak gak mikir gitu gimana perasaan orangnya.  Cewek-cewek hayoo kalian ngaku, kalian pasti insecure tiap kali diceletukin komentar semacam diatas kan?

Sebelum gue bahas lebih lanjut gue mau ngejelasin dulu ni Apa sih body positivity? yaitu pengertian bahwa semua tubuh – apapun bentuk, ukuran, warnanya – adalah sama berharganya. Tapi lebih dari itu, kita pulalah yang harus memperjuangkan untuk mencintai dan menghargainya. Jadi intinya adalah sebuah pola pikir yang menunjukkan seseorang mencintai dan menghargai tubuhnya. Kita (enggak cuman perempuan, laki-laki juga) sering banget merasa tidak puas dengan tubuh kita sendiri. Bawaannya kalau ngaca tuh langsung mengoreksi diri dan membandingkan dengan model iklan atau artis yang tubuhnya langsing, atau bahkan membandingkan dengan seseorang terdekat yang kita kenal. Setelah hal itu terjadi, banyak nih yang kemudian muncul rasa benci dengan tubuh kita sendiri. Waduh-waduh, benci dengan diri sendiri itu salah ya gaes.

Emang kenapa sih kalau wajah kita berjerawat? Emang kenapa sih kalau tubuh kita tidak langsing, tinggi, semampai? Apa iya kulit muka kita itu harus glowing? Kata siapa si cewek cantik itu yang tinggi, putih, mulus, langsing? Kata siapa, kata siapa? Hah?

Disini kita suka lupa bahwasannya setiap individu itu diciptakan unik dan berbeda-beda. Bukankah manusia terlahir tidak sempurna? Lu mau banget apa ngeliat semua orang kayak bidadari? Plak. Lagian ya, perempuan cantik menurut kalangan masyarakat kita seperti putih, tinggi, langsing itu termasuk anggapan belaka. Perlu diketahui kalau beauty standard tiap daerah itu berbeda-beda. Contoh di Negara asia (kebanyakan) ya kayak artis-artis korea, jepang gitu. Gak perlu gue jelasin lah ya. Sementara di amerika, model-modelnya kayak Kardashian family yang punya badan semok dan kulit coklat tanned gitu. Well, ada yang lebih mencengangkan juga kalau wanita di Nigeria dianggap cantik ketika mereka memiliki tubuh yang gemuk. Aneh, tapi begini adanya. Coba cek faktanya disini https://psychologyofeating.com/body-image-around-globe/. Artinya, bahwa beauty standard itu sebetulnya hanya asumsi atau anggapan-anggapan kelompok saja yang menentukan bagaimana seseorang dianggap cantik. Tidak ada standar pasti atau penilaian mutlak yang menentukan seseorang itu benar-benar menarik. Seperti yang sudah sering kita dengar bahwa kecantikan itu relatif.

Minggu yang lalu, saya iseng jogging di kampus saya yang dulu bersama teman saya. Kemudian ada seorang perempuan muda yang lebih muda menghampiri kami. Sama sekali tidak ada yang aneh dari dia. Kami saling bercerita, dia kemudian menceritakan alasannya mengapa ia belakangan ini rajin sekali jogging. Jawabannya karena ingin langsing! Teman-temannya atau entah seseorang dalam lingkungannya mengakatan demikian. “Aku gendut banget e Mbak, beratku 60 kg!” what’s in my head waktu itu, dia terlihat baik-baik saja. Dia tidak terlihat gendut yang berlebihan. Maksudku dia terlihat sehat dengan bentuk tubuh yang seperti itu. Kenapa dia harus menurunkan berat badan. Yang penting sehat!

Selain faktor orang-orang sekitar, media juga berperan dalam membentuk body image yang beredar di masyarakat kita. Media (berkali-kali) bikin kita insecure akan keadaan fisik kita, lewat iklan lah dll. Banyak orang jadi ikut-ikutan konsumsi produk-produk yang mungkin berbahaya, diet ekstrim, dan bahkan ada yang bela-belain pake aplikasi macem-macem untuk membuat penampilan lebih ok #plak.  

Gara-gara body image ini banyak orang mengalami depresi, anxious, bahkan memiliki eating disorder seperti anorexia dan bulimia.  Body image  adalah pandangan, kepercayaan dan persepsi seseorang terhadap fisiknya. Selain diri sendiri dan media yang membuat persepsi buruk tentang body image ini, sering kali kita, sebagai manusia atau orang luar juga melakukan body shaming! Ada salah satu teman saya yang mengalami depresi akibat body shaming ini. Sebut saja namanya Aldi (Nama samaran) seorang laki-laki. Kita pernah suatu waktu bercanda dengannya di grup whatsapp. Kemudian, tiba-tiba saja dia left grup. Kita semua tidak ambil pusing, “Ah baperan amat nih si Aldi” Emang kita suka jahat sih L . setelah dibujuk si Aldi mau balik lagi ke grup dan dia menjelaskan bahwa dia tidak suka dengan bercandaan fisik semacam itu. Dia menjelaskan bahwa dia pernah mengalami trauma dan membutuhkan waktu yang lama bagi dia untuk lepas dari traumanya. Barulah kita semua sadar bahwa apa yang kita lakukan itu salah. Padahal sejujurnya si Aldi ini gak bakal malu-maluin kalo dibawa kondangan! Wkwkwk tapi orang seperti itu juga bisa trauma karena body shaming.

Well, ini adalah pengingat bagi kita untuk tidak melakukan body shaming. Gak keren bro, bawa-bawa fisik. Nah, bagi kamu-kamu yang sering mengalami perlakuan diatas, cobalah untuk tidak ambil pusing dan lebih mencintai serta menerima keadaan diri kita. Gak ada yang salah dengan fisik kamu. Lebih baik rawat saja apa yang sudah dimiliki, lebih baik lagi tujuannya untuk kesehatan. Peduli dengan kesehatan seperti menjaga kebiasaan makan, olahraga dan pola hidup itu termasuk kegiatan mencintai diri sendiri atau self love lho! Karena kegiatan-kegiatan tersebut memang dibutuhkan oleh tubuh kita. Jadi cobalah untuk memberikan yang terbaik untuk tubuh sendiri. Soal persepsi orang-orang mengenai body image? Ah sudahlah, itu sudah menjadi sistem yang mengatur persepsi dunia tentang kecantikan. Akan sulit sekali bagi kita untuk mengubah sistem agar orang-orang lebih menghargai body positivity. Hal terbaik yang perlu kita lakukan adalah mencintai diri sendiri. Awalnya gue juga kesel dengan orang-orang. Lama kelamaan sih gue mulai tersadar dan nerima dengan segala keadaan gue. Bodo amat dengan komentar orang. Ini keadaan gue, ini diri gue.

Main ke MUSEUM MACAN

IMG_20191003_163756Holaa blog, lama banget nih tidak menulis… hehehe maklum ya, akhir-akhir ini banyak kesibukan. Banyak hal baru terjadi di hidupku, jadi aku harus menyesuaikan dan tidak sempat buat nge-blog hehehe. Ok, kali ini aku mau bercerita soal kunjungan aku ke Museum Macan nih. Beberapa waktu yang lalu ada urusan pekerjaan yang mengharuskan aku untuk pergi ke depok, Jakarta. Mumpung di Jakarta pula, aku ajak temanku untuk jalan-jalan. Kebetulan aku ada jadwal kosong tapi sudah terlanjur beli tiket, jadi ya harus nunggu sesuai tiket waktu pulangnya. Nah awalnya si, enggak kepikiran buat ke Museum Macan ini, tadinya malah pengen ke Seaworld Ancol. Tapi karena kejauhan dan beberapa hal lain, kita jadinya pergi ke museum macan yang berada di Kebon Jeruk. Ok kita langsung cerita ke detilnya aja. Duh maaf ya kalau tulisannya berantakan, karena sudah lama tidak menulis di blog.

Ok, pertama kali yang harus diketahui tentang Museum Macan ini adalah jangan terkecoh dengan namanya. Kalian pasti berpikir museum macan ini adalah museum yang memiliki koleksi tentang macan (harimau)! Salah sob, museum macan adalah kepanjangan dari Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN). Nah tuh, gitu ya harus diketahui itu dulu sebelum kesana. Jangan sampai nanti menyesal akibat dari ekspektasi yang tidak sesuai.

Namanya saja sudah modern and contemporary art ya jelaslah isinya tentang koleksi benda-benda seni. Kebanyakan koleksi dari museum ini adalah karya dari proyek-proyek besar yang dibuat oleh seorang seniman bernama Xu Bing. Jadi jangan heran kalau masuk kesini ada karya yang menampilkan aksara-aksara tionghoa. Jadi ada sebuah pameran yang memamerkan banyak tulisan kaligrafi aksara tionghoa yang terpampang di tembok dan ada juga yang dipamerkan dalam satu ruangan dengan kertas-kertas bertuliskan aksara tionghoa yang terjejer rapih dan indah. Anehnya, aksara ini bisa dibaca oleh pengunjung yang bahkan tidak bisa berbahasa tionghoa seperti saya.

IMG_20191003_160342

Usut punya usut, Xu Bing mencipkatan “spesies” baru dalam sistem kaligrafi yang menggabungkan kata-kata bahasa inggris dan karakter aksara tionghoa. Dia menuliskan kata dalam bahasa inggris dengan huruf latin biasa, tetapi huruf-huruf tersebut berbentuk seperti aksara tionghoa. Dalam pameran ini, pengunjung diajarkan cara membaca aksara tersebut dan juga mencoba berlatih menulis aksara yang diciptakan Xu Bing menggunakan tinta yang sudah disiapkan. Berikut contoh tulisan inggris dalam aksara tionghoa yang diciptakan Xu Bing.

IMG_20191003_160148

Selain dari pameran square word calligraphy, pada saat memasuki ruang pertama kali kamu akan disuguhi sebuah karya instalasi berupa simulasi karpet kulit harimau berukuran 40 kaki yang terbuat dari 660.000 rokok kelas premium. Mengapa tembakau? Xu Bing percaya bahwa tembakau adalah sebuah objek yang meresap- ia menyebar ke semua ruang, berakhir sebagai abu dan memiliki berbagai hubungan yang berbeda-beda dengan individu dan dunia secara luas- ke dalam bidang ekonomi, ketenagakerjaan, budaya, hokum, moralitas, kesehatan, keimanan, mode dan banyak lagi. Pokoknya gitulah penjelasannya, ada dibuku guide nya, nanti dikasih kok. Kalau dilihat seperti karpet kulit harimau tapi itu terbuat dari rokok-rokok yang disusun sedemikian rupa. Berikut gambarnya, map nyomot dari google karena lupa moto hehehe.

karpet harimau

Selain karya tersebut, ada pula karya sebuah lukisan yang dibentuk dari sampah-sampah yang berantakan, disusun dibalik sebuah kaca dan direfleksikan dengan bantuan lampu LED, hasilnya menjadi sebuah karya lukisan yang menakjubkan. Disini kita juga diberi kesempatan untuk membuat karya yang dapat dipajang pada cermin dan kemudian kita bisa melihat hasil akhirnya sendiri. Seru sih bikin-bikin, dari saya yang awalnya gak kepikiran sama sekali bikin apaa, terus otak-atik aja tuh sampahnya, eh hasilnya lumayan. Karya milik pengunjung lain juga bagus-bagus kok. Berikut lukisan Xu Bing dari sampah itu.

61360655-dffa-4d04-975b-3e9cb00abda0-1569938379

Saya harus memberikan pengakuan. Bahwa saya bukan seseorang yang paham di bidang seni. Saya penikmat seni tetapi saya tidak tahu apakah saya benar-benar menikmati semua koleksi yang ada di museum macan ini. Jadi, sekiranya penjelasan saya—yang sok tahu ini, tidak mudah dipahami, yam monmaap yaa gue juga gak ngerti wkwkwk. Disini aku cuman mau berbagi dan tempat ini recommended banget lho buat dikunjungi, apalagi bagi kamu-kamu yang penyuka seni.

Eits, ada satu bagian yang apiikk banget, yaitu Infinity mirror room-Briliance of the souls (2014). Dikutip dari buku guidenya “merupakan bagian dari seri Infinity mirror room yang pertama kali dibuat oleh seniman asal jepang (Yayoi Kusama), pada tahun 1965. Kusama pindah dari Tokyo ke New York pada tahun 1957, tempat di mana karya-karyanya yang provokati dan eksperimental dalam bentuk performans, film, patung, dan lukisan, mencerminkan semangat masa itu, menentang masyarakat yang konservatif melalui kemerdekaan seksual” ngerti gak?

IMG_20191003_164606

Ketika kembali ke jepang pada 1973, Kusama memilih tinggal di rumah sakit jiwa untuk menjaga agar kondisinya tetap stabil. Heh? Dalam khazanah kekaryaan kusama, pengulangan titik tidak hanya terkait dengan perasaannya yang terdalam, melainkan juga gagasan lainnya-ketidakterhinggaan dan kemusnahan. Keduanya dapat dialami di dalam Infinity mirror room. Hayoh ngerti gak gaes? Maap ya aku  juga kurang ngerti hehe, ini aku nyomot langsung dari buku panduannya. Tapi pokoknya Yayoi Kusama ini termasuk orang yang kondisi jiwanya tidak stabil kemudian dia mencurahkan karya-karyanya yang begitu hebat. Pokoknya gitu dah.

Emang Infinity mirror room kek apa sih? Jadi Infinity mirror room merupakan sebuah ruangan yang terbuat dari kaca (cermin). Selain itu terpasang bola-bola lampu yang warna dan intensitasnya selalu berubah. Cahaya lampu tersebut dipantulkan pada tiap sisi ruangan dan berulang tak terhingga sampai hilang dari pandangan. Biar lebih paham-langsung lihat pada gambar aja yaa!!

 

Ok, segitu aja dari aku!! Terima kasih sudah mau baca!!

Belajar Toleransi dari Pulau Alor

1451466960698

Rasanya sudah basi sih kalau saya ngomongin ini. Sudah 4 atau 3 tahun yang lalu saya alami. Tetapi kemarin salah satu keluarga saya di Alor membuat story di whatsapp, disitu ia memposting foto kami dan keluarga, ingatan saya jadi kembali memutar wajah-wajah dan momen-momen yang telah tercipta pada waktu itu.

Di judul saya sudah sebut Pulau Alor. Iya ini pengalaman saya ketika saya berada di Pulau Alor. Tahu Pulau Alor? Coba cek peta atau google maps nya dulu. Kamu akan dihantarkan pada sebuah pulau cantik nan indah yang masuk dalam propinsi Nusa Tenggara Timur. Sebetulnya mereka itu bukan keluarga saya sih. Saya hanya pendatang yang berharap bisa mengabdikan diri sembari mendapatkan nilai dari kampus hehe, iya ini program KKN dari kampus saya hehe. Jangan salah, meskipun begitu perjalanan ini sungguh memberikan pelajaran berharga yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh saya.

Saya tinggal di sana selama dua bulan, seingat saya sejak pertengahan Bulan Ramadhan tahun 2015. Tim dari kampus kami disebar ke tiga desa yaitu Ala’ang, Aimoli dan Alila. Penduduk Ala’ang mayoritas memeluk Kristen, sementara penduduk Aimoli dan Alila sebagian penduduknya ada yang memeluk Islam. Ketika itu saya ditempatkan di Desa Ala’ang.

Saya seorang muslim dan berjilbab. Selama di sana saya tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari warga dan mereka sangat menghormati saya ketika beribadah. Bahkan nife (ibu) saya di rumah turut membangunkan saya dan menyiapkan makanan untuk sahur. Jadilah saya harus semangat menjalani puasa ditengah teriknya matahari Alor, panasnyaaaaa ya Allah, yang tiap kita lewat ke warung lihat ale-ale dingin aja itu menggoda. Tapi aman-aman aja kok puasanya hihi. Perhatian nife kepada saya dan teman-teman ini memang bikin baper, hih diginiin ama nife aja aku baper, gimana sama kamu #plak.

Sebenernya saya agak enggak enak si ke nife, beliau jadi harus lebih memperhatikan makanan dan hal-hal lain untuk kita yang hidupnya penuh dengan aturan ini. Pernah nife tiba-tiba nyuruh saya buat nyembelih ayam coba (karena kita punya aturan sembelih sendiri), saya enggak berani. Btw, ayamnya milik nife sendiri, jangan tanya soal beli ayam potong di super market! Meskipun sering bedah hewan tapi tetep aja kalau nyembelih dari hidup-hidup saya gak berani. Beraninya bius lewat kloroform atau alkohol aja hih! Jadilah teman saya cowok yang turun tangan. Btw lagi, ada 15 orang di tim kita yang tinggal dengan nife, jadinya beliau kerepotan ngurusin kita. Kasian sih ampe nife kayak kecapekan gitu, ya kita juga bantu-bantu nyiapin juga kok.

Pernah waktu itu ada perayaan kepala desa baru, ya semacam acara penobatan gitu deh. Jadilah satu desa itu sibuk, kaum pria ikut bantu-bantu di bagian luar rumah (dekor dll) sementara kaum wanita ya di dapur. Nife berpesan kepada saya dan teman-teman untuk ikut bantu-bantu masak di bagian kambing. Maksudnya nife si biar kita enggak deket-deket dengan bagian babi. Padahal saya sebenarnya penasaran gimana si babi itu diolah, penasaran lihat ngolahnya aja lho ya… gak ikut makan.

Soal kebaikan nife dan warga Alaang ini masih dibilang biasa aja guys. Hal yang lebih mencengangkan dan membuat saya terharu terjadi ketika hari raya idul fitri. Puasa saya di sana, ya otomatis lebaran juga di sana. Ini adalah kali pertama saya lebaran tidak dengan keluarga, Tetapi merayakan lebaran di Alor juga tidak kalah seru. Karena Ala’ang mayoritas kristen, jadilah kita sholat idul fitri di masjid besar Desa Aimoli. Jalan kaki lah kita ramai-ramai. Yah ibadah itu berjalan seperti sholat ied pada umumnya, hingga tiba waktu khutbah ada yang berbeda. Kan setelah sholat ied itu ada ceramahnya kan, jamaah harus dengerin ceramahnya dong. Tetapi tiba-tiba ada warga kristen yang datang masuk ke masjid bersama dengan satu teman kami yang katolik. Jadi, 15 orang tim kami dari Ala’ang itu semuanya muslim kecuali satu orang teman saya, dia pemeluk katolik. Ketika hari raya itu, teman saya turut serta ikut kami ke Desa Aimoli, tetapi dia hanya diam menunggu di luar masjid. Kemudian datanglah warga kristen dan teman saya ini diajak untuk masuk masjid. Dia bingung dan ragu-ragu “Tapi, Bapa…” kemudian Bapak-bapak itu berkata “Masuk saja, semua ceramah agama itu baik” Wahh, INI BENAR-BENAR LANGKA.

Kami semua pun ikut terkejut ketika teman saya masuk. Setelah bertanya pada imam masjid dan beberapa warga yang menjamu kami setelah sholat, mengatakan bahwa itu memang kebiasaan mereka. Jadi gaess, di Desa Aimoli itu ada dua dusun, Dusun satu memeluk Islam dan dusun satunya lagi memeluk Kristen. Setiap kali ada perayaan agama seperti hari raya idul fitri ini, perwakilan warga kristen selalu diundang untuk datang, begitu pula sebaliknya. Ketika warga kristen merayakan natal atau perayaan lainnya, perwakilan warga muslim juga selalu diundang. Teman saya berceloteh “Wah, gue gak pernah lihat hal kayak gini, bahkan di Jawa” bener juga sih dia bilang, di Jawa banyak orang sibuk berselisih soal agama. Tapi jauh dari hingar bingar kemajuan peradaban, Alor sudah punya contoh kerukunan yang lebih indah.

Tidak hanya alamnya saja yang membuat saya kagum dengan Alor, tetapi persaudaraannya telah memukau saya. Karena inilah saya memutuskan untuk menceritakan kembali kisah ini meskipun sudah bertahun-tahun yang lalu. Melihat carut-marut perselisihan identitas di negeri ini yang memuakkan, apalagi diwarnai dengan politik, HADEEEEEEHHH!!!

Kegiatan kami selama dua bulan itu sih utamanya adalah program KKN yang berorientasi pada produksi perikanan dan pertanian. Di sana (di Desa Ala’ang) pertaniannya cukup subur, banyak jenis sayur tumbuh dan lebih besar ketimbang sayur yang saya temui di Pasar dekat rumah. Jangan dikira di sana susah air. Di Ala’ang sumber air su dekat. Alhamdulillah banget. Selain itu ada program pendidikan, ngajar anak-anak SD. Program kesehatan juga ada, perbaikan beberapa infrastruktur. Duh banyak deh. Sehari-sehari selain program, kegiatan kita main sama anak-anak, ngerumpi dengan mama-mama, bantu-bantu di desa dan gereja. Pernah waktu itu, ada kegiatan kerja bakti memperbaiki barang-barang di gereja. Kami yang perempuan ikut membantu di dapur menyiapkan makanan untuk bapak-bapak yang berkerja di luar, dibantu juga oleh teman-teman saya.

Itu adalah kali pertama saya masuk ke dapur gereja. Saya yang memakai jilbab ini memicu perhatian mereka, mereka melempar senyum kepada saya dan teman-teman lain. Kemudian berkenalan satu persatu dan dengan sigap tangan kami langsung meraih pisau atau spatula, sadar diri bantu-bantu Woyy! Ada seseorang perempuan yang sudah berumur menghampiri saya, tubuhnya masih tergolong sehat, bibir dan seluruh mulutnya merah hingga bagian dalam akibat sirih pinang, rambutnya memutih dicepol ke belakang, orang-orang disitu menyebutnya Oma Naomi. Perempuan itu menjabat tangan saya sambil berkata pelan “Kamu Islam eh?” (jangan dibayangin nada songong, kata ‘Eh’ nya itu logat tambahan mereka) saya jawab “Iya, mama” (masih belum tahu harus manggil Oma) lalu Oma Naomi mendekatkan mulutnya ke telinga saya lalu membisikan sesuatu “ASSALAMUALAIKUMMM” Suara Oma keraaaas sekaliii sampai telinga saya sakit. Iya, Oma Naomi memang agak terganggu pendengarannya, jadi ketika berbicara ia cenderung mengeluarkan suara yang keras, apalagi waktu itu di telinga saya. Akan tetapi saat itu saya terharuu mendengarnya, dan kemudian saya balas dengan “Wa’alaikumsalam” lalu dilanjutkan lagi “Maafkan Oma ‘eh, Oma tidak bisa dengar” sambil menunjuk-nunjuk telinganya. Saya manggut-manggut saja sambil tersenyum.

Oh iya, sebenarnya di Ala’ang ini ada tiga keluarga yang memeluk muslim. Mereka adalah para pendatang dari Sulawesi. Selama kami di sana, mereka banyak membantu kami. Ketika lebaran pun, kami juga merayakannya dengan mereka. Habis dijamu oleh warga Aimoli, lanjut di jamu keluarga ini, setelah itu keluarga nima (bapak) dan nife juga menyiapkan makanan untuk kami. Hahahah lebaran makan terooooosss.

1441339870551

Ini keluarga muslim yang ada di Alor

Soal wisata Alor, Wagelaaaaaa seehhh emang bagusss bangeet!! Lautnya beuh! Nih aku kasih tahu spot-spot wisata yang bisa kalian kunjungi ada Pulau Kepa, Pulau Buaya, Pantai Maimol, Pantai Mali, Desa Wisata Takpala, Kolam Bidadari, Pemandian Air Panas Tuti Adagai, Resto Seafood di Kalabahi, dan masih banyak lagi deh. Oh iya, kita juga ada program eksplor wisatanya gitu dan dulu kita pernah buatin akun Instagram ala-ala wisata alor gt, namanya @wanderingalor kalo gak salah. Sila kepoin aja yak kalau misal ingin berkunjung ke Alor. Kalau dari Jawa kesana dua kali naik pesawat, pertama tujuan Kupang dulu, baru pindah ke tujuan Alor. Bisa juga dari Kupang naik kapal ke Alor. Nih beberapa foto yang berhasil kukumpulin, maaf udah lama jadi fotonya pada gak tau kemana. Maaf juga ya foto-foto idul fitri di Aimoli tidak ada.

 

Rasanya satu postingan aja tentang Alor ini gak cukup. Banyak banget hal yang seru, mengharukan, unik, dan pelajaran yang dipetik, yang seharusnya bisa diceritakan. Sayang, waktu itu saya belum mau ngeblog atau bikin video yutub ala-ala, posting instagram aja kagak. Jadi yah sekarang mungut-mungut momen-momen itu deh. Tetapi sekali lagi Alor benar-benar memberikan warna baru, setidaknya memberikan pengalaman pertama kali keluar Pulau Jawa hahaha. Memberikan teman-teman dan keluarga baru dan arti hidup dan belajar untuk saling menghormati satu sama lain dan dan dan yang lainnya. Semoga postingan ini gak ngebosenin yha. Dah jangan berantem lagi soal perbedaan keyakinan, ramashooookkk !!!

Cerita Teman yang Kepo

20190212_152746_0001

Tidak ada yang salah ketika seseorang bertanya tentang “update” dari diri kita. Seperti “sekarang sibuk apa?” “sekarang tinggal dimana?” “sekarang lagi ngerjain apa?” pertanyaan macam ini kerap sekali kita jumpai di acara-acara reuni atau acara lebaran bareng keluarga. Yang acap kali pula memantik bara api dalam lubuk hati, sehingga yang ditanya itu suka sensi. Apalagi kalau pertanyaannya diawali dengan kata “kapan”—kapan nikah? Kapan lulus? Hadeeh. Semua orang juga tahu, yang kayak gini itu akan selalu ada pertanyaannya, tergantung kitanya sedang berada dalam fase apa. Nih yang belum lulus kuliah-ditanya: kapan lulus? Habis lulus-lanjut ditanya: sudah dapat kerja belum? Sudah kerja: Kapan nikah? Sudah menikah: kapan punya anak? Sudah punya anak: kapan nambah? Hadeeeeh tanya aja terooosss.

Suatu waktu teman saya-sebut saja Ningsih (tentu saja bukan nama asli) memposting sesuatu di media sosialnya, dia pengen aja nge-share sesuatu hal menarik yang baru saja dia temukan di suatu tempat. Dia tidak menceritakan apa yang dia lakukan disitu. Kemudian teman saya yang lain-sebut saja Sumi (bukan nama asli juga) tanya ke Ningsih “Eh kamu kerja disitu? Atau lagi ngapain?” nah si Ningsih ini dia gak mau jawab. Terus si Sumi curhat protes ke Lastri (teman saya juga) kalo dia nanya ke Ningsih tapi gak dijawab, kesal la dia! Jadilah si Lastri ini perantara bagi Ningsih dan Sumi. Dia bilang “Mbok ya dibales Sih, si Sumi” lah si Ningsih jawab lagi “Emang kalau dia tahu terus dia mau apa?” si Ningsih ini emang rada-rada si. Tetapi saya yang menyaksikan kejadian itu, agak setuju juga dengan Ningsih bahwa ada beberapa hal dalam hidup kita yang tidak perlu kita bagi ke khalayak. Tidak semuanya harus kita share ke publik. Kita juga butuh yang namanya privasi. Saya mengerti si Ningsih itu memang tidak ingin memberitahukan kegiatannya itu dan iya itu privasi dia. Kalau misal si Ningsih memang tidak mau memberitahu lalu kenapa kita mesti mempermasalahkannya.

Terlepas dari menyebalkannya si Ningsih, saya mencoba memahami dari sisi Sumi yang kelihatannya sangat peduli ini. Akan tetapi saya jadi berpikir, orang-orang cenderung sering bertanya perihal “update” tentang diri kita atau hal semacam ini—sebagaimana orang-orang dari lingkungan terdekat kita yang saya contohkan pada paragraf pertama, itu mereka memang perhatian/peduli sama kita atau cuman sekadar KEPO doang? Lalu beberapa pertanyaan lainnya muncul dibenak saya bagaimana cara membedakan orang yang bertanya karena memang peduli dengan kita atau hanya sekadar cuman pengen tahu doang? Dan emang kenapa si orang-orang pada kepo?

Saya mencoba mengumpulkan beberapa kemungkinan alasan-alasan dari beberapa pertanyaan yang membuat saya risau itu (enggak juga si). Saya sebutin alasan dulu aja ya! pertama, kepo itu sudah bawaan dari lahir, dari keluarga. Kayaknya gak usah dikomentarin deh, kentalnya hubungan darah membuat wajar saja kalau bapak ibunya kepo sama kegiatan anaknya, misalnya. Kedua, yang umum terjadi yaitu kepo dilakukan oleh orang yang tidak memiliki hubungan darah. Mereka-mereka ini kepo terhadap perkembangan seseorang. Biasanya terjadi pada kawan lama yang sudah lama tidak bertemu, atau bahkan beberapa orang sengaja mem-follow di medsos supaya tidak ketinggalan perkembangannya. Sesungguhnya kepo jenis ini bisa mengarah ke hal negatif, misalnya sengaja follow buat jadi bahan julid atau gossip. Lah kan gak bener. Sudah melanggar privasi orang, disalahin sama agama juga toh. Kepo juga bisa menandakan bahwa seseorang itu sedang kangen, tapi gengsi nanya langsung. Jadi biasanya orang-orang macem ini cuman bisa stalking di medsos. Kayak kamu yang masih suka kepoin mantan, Ups atau gebetan, sambil galau-galau ria di pojokan kamar “Duh dia udah punya pacar belum yha?” hayo ngaku!

Manusia itu memang dilahirkan dengan rasa keingintahuan tinggi, beberapa hewan juga ada yang begini. Rasa keingintahuan (curious) itu maknanya cenderung mengarah kepada hal positif, yaitu lebih dikaitkan pada rasa keingintahuan yang bersifat ilmiah. Makanya banyak ilmuan yang nyeleneh, punya teori, hukum atau penelitian aneh-aneh tetapi justru malah bisa dibuktikan kebenarannya, dan pemikiran anehnya ini sering membuka mata dunia tentang hal baru. Dari mana datangnya ide nyeleneh ini? Ya dari sebuah pertanyaan dulu dong. Kenapa begini dan begitu? Nah kalo yang ini bagus, tapi kalo keponya malah ngurusin kehidupan pribadi orang secara berlebihan, gimana tuh?

Kepo itu adalah suatu kepedulian. Orang gak bakal nanya kalao gak peduli, katanya si gitu gaess. Di jaman yang sudah mengalami pergeseran kebudayaan ini, sulit sekali menemukan orang-orang yang peduli. Contohnya aja jarang ada yang mau ngasih tempat duduk ke ibu-ibu tua di KRL. Jarang sekali orang saling bertegur sapa, semuanya sibuk sama urusan masing-masing. Tapi apakah ke-kepoan seseorang itu memang benar-benar didasarkan pada kepedulian? Memangnya kita bisa tahu dari mana? Kalo iya emang ada, trus kenapa ada orang yang kalo nanya itu ngeselin bangeeeet?

Para gaess ku yang budiman, orang yang peduli sama cuman kepo doang tuh ada ciri bedainnya, yang lagi-lagi saya rangkum dari internet dan tanya-tanya sama orang. orang peduli itu biasanya nanya langsung kalao pengen tahu, kalau kepo ya cuman pengen tahu doang dan malah setelah itu disebarkan. Orang peduli bakal ngasih pilihan untuk mau bercerita atau tidak, kalau kepo hadeeeh terus aja cecer tanya dan menggali-gali tanah informasi, tanya sana-sini sama orang lain. Untuk kamu yang tiba-tiba lagi kena masalah, biasanya orang kepo dating belum tentu bakal bantu, sementara orang yang benar-benar peduli itu pasti bakal bantu ngasih solusi. Orang kepo itu akan muncul ketika kita sedang ada sesuatu. Sementara kalau kita sedang tidak ada sesuatu apaa gitu biasanya mereka jarang dateng dan jarang kedengeran juga kabarnya. Berbeda dengan orang yang perhatian sama kita, dia akan tetap care dan selalu ada walau kita gak ada sesuatu.

Dunia digital yang kini mendarah daging ini membuat batas antara kehidupan yang bersifat privasi dan publik menjadi tidak jelas. Media sosial yang menampung berbagai kehidupan masyarakat berbagai lapisan tak pernah kehabisan ruang untuk menyimpan. Kita terkadang lupa, apa yang sudah dibagikan adalah milik publik. Contohnya si Ningsih tadi. Kalau dia ingin orang-orang tidak perlu tahu kenapa dia nge-share sesuatu. Hadeeeh!

Dunia kehidupan sosial di ranah digital ini sudah tidak bisa dilepaskan dari dunia nyata yang kita miliki. Saya pernah beberapa lama vakum dari kehidupan sosial di dunia maya. Semuanya off, mulai dari instagram, facebook, twitter hanya sesekali, dan whatsapp hanya balas chat orang penting saja. Hal ini saya lakukan karena saya lelah dengan segala yang ada disana dan menjadi kurang peka dengan kehidupan nyata di sekitar saya. Ketika itu, saya ingin lepas dari itu semua dan ingin kembali menikmati hidup bersama orang-orang yang ada di sekitar dan semua keadaan ruwet yang ada di sekeliling saya. Awalnya berpikir, tindakan ini cukup bijak. Sampai akhirnya setelah beberapa lama ada teman saya yang tiba-tiba menghubungi dan berkata “May, kamu apa kabar?”.

Setelah itu saya sih masih jawab, enggak kayak si Ningsih juga. Kalimat itu sangat sederhana, hanya bertanya kabar, tetapi terdengar seperti “May, you okay?” “Is there something happened?” “Lu masih idup kan?” jadi terdengar mengkhawatirkan. Saya tahu ini karena mengenal teman saya tersebut, dan saya bisa merasakan bahwa ia memang mengkhawatirkan saya dan peduli, bukan hanya sekedar kepo. Setelah itu saya jadi berpikir, apakah saya telah menarik diri terlalu jauh dari dunia maya? Apakah keputusan saya untuk off ini adalah keliru? Sebegitu pentingkah bahwa kita juga harus meletakkan ke-eksistensian kita di dunia maya? apakah kehidupan sosial kita di dunia nyata dan dunia maya itu harus balance (seimbang)?

Media sosial memang seolah memfasilitasi kita untuk bisa saling memberi kabar tanpa repot-repot bertanya. Kita tinggal follow aja liat story-nya seseorang. Niscaya kita bakal tahu apa aja yang dilakukan orang tersebut seharian dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Hal ini tentu menguntungkan bagi kamu-kamu yang masih gengsi bertanya, ingin tahu kabar mantan misalkan. Tapi berkat off nya saya ini, saya jadi tahu siapa yang benar-benar peduli dengan saya. Guys, mungkin bisa dicoba seperti cara saya untuk mengetahui siapa saja yang benar-benar peduli dengan kamu. Tapi harus siap-siap juga kehilangan berita viral atau followers wkwkw. Rasanya berasa kayak hidup di goa yang sunyi, tapi hidup jadi tentraaaaaam banget. Gara-gara ini saya masih off untuk beberapa sosmed, jadi saya cuman aktif beberapa aja sampai sekarang. Pusing tau main banyak sosmed dan liat keributan, bahkan jadi toxic.  Kalau gak kuat kayak saya, ya gak usah diikutin.

Ngomongin soal kepo dan peduli itu beda-beda tipis. Berkaca lagi pada kasusnya Ningsih dan Sumi. Disini saya tidak bisa mengambil sebuah kesimpulan. Akan selalu ada orang yang setuju dengan pendapat Ningsih, bahwa setiap orang butuh privasi dan berhak memilih mana hal-hal yang tak dan layak untuk dibagi. Pun, termasuk juga saya. Tetapi saya juga salut dengan macam orang seperti Sumi yang sudah peduli bertanya langsung pada Ningsih. Tetapi kalau yang bersangkutan tidak mau jawab juga ya coba dimengerti, mungkin dia memang ingin seperti itu. Kalau kata Sharon Martin seorang terapis dari San Jose mengatakan “Orang yang sering melanggar batasan privasi orang lain cenderung manipulatif, narsistik dan punya kesadaran diri yang rendah” jadi mereka cenderung menganggap sekitarnya lebih tidak berharga darinya dan tidak merasa bersalah ketika berlaku tidak baik kepada orang lain. Itu kata Sharon Martin loh ya, bukan kata saya. Makanya kepo nya jangan berlebihan, mendingan rasa kepedulian kita yang lebih ditingkatkan lagi.

Guys, peracaya deh sama aku. Kepo itu bikin nyesek tauk. Banyak ngeliatin kehidupan orang yang pamer ini pamer itu, kita jadi iri, hidup kita masih gini-gini aja soalnya. Apalagi kepo-in mantan atau gebetan yang udah jalan sama pacar baru nya Mak jleb nyossssshhh !!!!!!!

Semoga Gue Gak Dipenjara Setelah Nulis Ini #Curhat

20190122_004250_0001

Cerita ini sedikit berbeda dari cerita-cerita lapangan saya sebelumnya baca di sini. Kenapa beda? Mungkin pada dasarnya sama, tetapi institusi tempat kita bernaungnya-lah yang membuat survei ini sedikit berbeda. Sebetulnya lebih cocok disebut perusahaan sih ketimbang menggunakan kata institusi.

Well, kita ulik soal awal mula saya ikut survei ini dulu ya. Sebenernya kalau sekarang dipikir-pikir lagi sih, saya bingung kenapa dulu saya ikut survei ini? karena saya gak kebayang seperti  apa kegiatannya. Survei apa sih? Dari tadi gak disebut. Bingung yha? Survei pendataan flora dan fauna di suatu lokasi, sayangkuh.

Berawal dari perasaan bosan dengan pekerjaan yang setiap hari menghadapi laptop dan duduk manis–tapi lama-lama bikin pantat dan punggung sakit. Ditambah dengan tekanan tugas yang membabi buta, saya bener-bener jenuh waktu itu. Gak perlu dijelasin kan seperti apa kerjaannya, gak penting deh! Pokoknya jenuh banget dah! Sama rutinitas bagai kuda itu, dan setiap hari naluri ke-lapangan-an saya selalu berbisik halus di kepala “Kapan ke lapangan lagi?” yah setelah itu yang saya lakukan adalah cuman narik napas dalam terus diam.

Singkat cerita, pada suatu hari, saya nyang udah kepalang nyidam udara segar buka grup wassap. Disitu tertera lowongan surveyor biologi untuk, duh lupa isinya gimana, pokonya mah tentang lowongan buat anak biologi. Ciee ada lowongan buat anak biologi (biasanya jarang). Sempet mikir, tapi hajar aja tuh, pepet langsung contact personnya.

Alhamdulillah, akhirnya saya dapat tuh pekerjaannya. Tapi ni gaess, sampai mendekati hari kita mau berangkat aja-informasi tuh maceeeeeeet banget, kayak jalur pantura pas mudik lebaran. Semuanya gak jelas. Segala sesuatunya belum fix, padahal bentar lagi mau berangkat. Padahal juga kan ini adalah perusahaan jasa konsultan lingkungan. Seharusnya sih manajemennya jelas gitu. Saya benciii banget dengan ketidak jelasan ini. Siapa sih yang suka dengan ketidak jelasan? Atau perlu saya balik pertanyaannya, siapa sih yang tidak suka dengan kepastian? Hiyahiyahiya. Tapi ya akhirnya tetap dijalani saja, karena emang nyidam udara seger kan, dari pada gak punya kerjaan juga ye kan ye kan ye kan.

Bagi saya, pegiat lingkungan yang masih amatir beginiyang kalau tiap email korespondensi sama bule-bule ngakunya sebagai early career conservationist (biar keliahatan keren)—yang sok-sokan menghujat industri kelapa sawit padahal belum paham benar seperti apa komoditinya, nah ini adalah kali pertamanya punya pengalaman survei keanekaragaman hayati dengan perusahaan. Apalagi sebagai bagian dari konsultan lingkungan. Yah kelihatan kan kalo saya masih amateur. Awalnya hati saya sumringah, karena dipikir-pikir kegiatan ini bakal memberikan pengalaman kerja lapangan yang baru, kan biasanya sama lembaga NGO tuh. Tapi lama-kelamaan yo tetep mbatin. Mbatin kenapa sih, May?

Pertama, karena ini yang punya perusahaan konsultan jadinya segala macem hal itu dibuat agak ribet. Maksudnya, dikit-dikit ada prosedur yang harus diikuti. Ditambah lagi mitra kerjanya juga perusahaan tambang, mau gak mau mereka juga punya aturan atau hal yang disebut safety what (saya gak ngerti namanya apa?) yang harus dipatuhi, kalo enggak! bisa-bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misal kecelakaan kerja dan sebagainya. Contohnya nih, setiap kali kita memasuki wilayah kerja (hutan) kita wajib menggunakan APD, apa itu? APD adalah kepanjangan dari Alat Perang Dasar. Wkwk canda deng! Emangnya kita mau perang? Gak dong. APD itu adalah Alat Pelindung Diri, jadi semacam alat-alat yang didaulat akan melindungi kita (HAH Kita!) dari segala hal yang tidak diinginkan itu, seperti helm, safety shoes, googles dll. Padahal sih pakenya ribet banget Ya Allah. Tuh, lu harus pake itu, kalo enggak? Mamam dah bakal dimarahin babang-babang disono.

Sebetulnya hal-hal seperti itu tidak perlu dipermasalahkan (seperti perdebatan kecil kita #wkwk), cuman kan biasanya kita (hah kita!) melakukan survei itu segala halnya mengikuti dan mengutamakan kebutuhan penelitian. Ya entah waktu, lokasi, metode, dan sebagainya. Wah tetapi ini cenderung instan, semuanya serba cepat, beda dengan penelitian biasanya yang cenderung memakan waktu lama. Bukan berarti data yang diambil itu tidak bisa dipertanggung jawabkan dan bukan berarti juga penelitian biasa tidak mengutamakan keselamatan loh ya. Tetapi memang begitulah adanya mereka. Saya gak bermaksud menjelek-jelekan konsultan dan mengagung-agungkan penelitian non konsultan. Saya hanya berbagi pandangan

Namanya konsultan lingkungan gaes, mereka ini pasti berpartner dengan sebuah perusahaan. Sejatinya, mereka adalah penyelamat, kalau gak ada konsultan mereka bisa kalang kabut dipertanyakan soal monitoring lingkungan sama Dirjen LHK. Intinya sih untuk urusan perijinan, seperti tertulis dalam PP No. 27 Tahun 2012 tentang ijin lingkungan, setiap pemilik bisnis harus memiliki ijin lingkungan sebelum melakukan operasional. Untuk memiliki ijin tersebut, mereka harus menyusun dokumen AMDAL atau UKL-UPL. Nah peran konsultan itu membantu menyusun dokumen tersebut. Jadi konsultan itu akan melakukan analisis berbagai bidang terkait dalam aktivitas perusahaan dan juga memberikan solusi bagi dampak lingkungan yang akan ditimbulkan.

Iya lah! Sudah pasti, mereka harus melakukan monitoring setiap tahun dan melaporkannya kepada Dirjen LHK. Kalau saja mereka tidak melakukan hal ini bisa-bisa ijin perusahaan akan dicabut. Hal itu tentu bukanlah masalah bagi perusahaan, mereka mampu mengeluarkan biaya berapapun asalkan ijin tetap berjalan, yaiyalah perusahaan tambang getoh!

Yang dikhawatirkan adalah ijin dicabut akibat hasil survei yang tidak sesuai atau menunjukan hasil eksploitasi yang parah. Makanya sering nih jasa konsultan malah membuat data yang  sesuai dengan “pesanan” dari perusahaan. Padahal seharusnya konsultan tersebut bersifat independen dan tidak memihak perusahaan.

Well guys, untungnya perusahaan konsultan tempat saya bekerja itu independen. Disini saya juga gak akan bercerita tentang kebobrokan internal mereka apa gimana. Iya sebenernya karena saya gak berani si huhu. Saya juga gak tahu seberapa bagus sih pengelolaan ekosistem di perusahaan tambang ini, karena saya juga bukan seorang ekspert dibidang ini. Kan saya cuman surveyor (tapi bacot mulu dari tadi hahahha).

Jadi nih saya adalah tenaga rendahan surveyor di sebuah konsultan lingkungan di sebuah kota istimewa di Jawa (masih gak berani juga nyebut kotanya). Ya namanya surveyor, saya yak mau-mau aja disuruh ngedata ini ngedata itu, pokoke pekerja lapangan deh! Saya gak banyak ikut campur soal menilai apakah dari hasil monitoring ini si perusahaan yang menyewa jasa kita ini telah mengelola ekosistem di area mereka dengan baik? Daaan sekali lagi I am not an expert in this field, tetapi ketika kamu tanya ke saya sebagai seorang pecinta lingkungan yang nanggung—seperti apa pandangan saya terhadap pengelolaannya mereka (perusahaan tambangnya)? Waaaah saya gak tahu kata apa yang harus saya ucapkan. Ketika saya tahu lokasi dan mitra perusahaan adalah tambang, saya sedikitnya sudah menduga pasti ada jeleknya (buat lingkungan). Jadi gak kaget banget si. Lama-kelamaan kesedihan menjalar dan kekecewaan menyelimuti jiwa konservasionis saya.

Jujur, pengalaman survei ini tuh seru buat saya. Pertama kalinya saya ketemu elang bolak-balik (cupu kan baru pertama kali), lihat burung-burung, biasanya cuman merhatiin herpet doang atau mentok mammal itu kukang, dan untuk pertama kalinya gue ketemu Ujang. Siapa tuh? Ujang itu kodok, tapi iseng kita kasih nama Ujang (teman saya si yang iseng), lucu yah. Ujang itu ternyata adalah spesies baru yang baru banget dipublikasikan tahun 2018 dalam jurnal Zootaxa edisi 26 Juli 2018. Awalnya kodok ini tadinya dianggap si Kodok Api atau Kodok Merah (Leptophryne cruentata) tapi setelah diteliti lagi oleh ahli peneliti taksonomi herpetologi LIPI, Mas Amir Hamidy, ternyata spesies ini berbeda. Karakter yang membedakan itu dilihat dari corak di badan yang berwarna kuning, sementara kembarannya punya corak warna merah. Nama asli Ujang itu Leptophryne javanica. Seneng dong saya ketemu ini pertama kali, saya bisa pamer ke temen-temen sesama penyuka herpet—yang mereka semua nyangka itu adalah kodok merah, padahal bukan wkwk.

Sayangnya, saya ketemu Ujang ini hanya pada satu lokasi yaitu di sebuah sungai. Tapi keadaan sungainya sudah tidak jelas, gak ada airnya dan kalau kamu ingin melewati sungainya harus hati-hati, bisa-bisa nanti kena jebakan batman alias kedua kaki bisa saja masuk terperangkap ke dalam lumpur. Lokasi sungainya dekat dengan rig pengeboran pulak #plak. Kasian si Ujang teh!

Saya denger-denger juga kalau nanti mau dibuat lokasi pengeboran baru yang jalurnya dibuat dari sungai si Ujang itu. Saya jadi kepikiran, terus kalau dibuat jalan, terus si Ujangnya teh harus kemana? Apa nanti mereka benar-benar memperhatikan nasib Ujang? Kok saya gak yakin. Melihat keadaan sekarang saja, saya jarang melihat revegetasi atau apalah itu istilahnya, gimana sama Ujang. Saya jadi khawatir mikirin Ujang.

Kenapa saya khawatir? Pasalnya kembarannya Ujang ini (Leptophryne cruentata) termasuk hewan yang terancam punah dan masuk dalam daftar lindungan Undang-Undang. Masuk status IUCN dalam kategori Critically Endangered alias terancam banget banget. Berarti populasi mereka dikit dong di alam. Nah sementara Ujang kan baru banget ditemuin tahun 2018, ya belum ada lah data populasinya. Mana kita tahu statusnya dia terancam apa kagak. Tetapi, kalau berkaca dari kembarannya yang terancam punah itu termasuk kodok yang sensitif terhadap perubahan lingkungan, ya si Ujang kemungkinan mirip sifatnya. Lah si Ujang malah tinggal di tempat begitu, kan kesian. Tapi yasudah, karena si Ujang ini kemarin sudah masuk data kami, berdoa saja semoga pihak perusahaan mitra akan memperhatikan nasib Ujang dan juga spesies-spesies lainnya.

Akan tetapi nih gaes, keberadaan konsultan lingkungan tuh memang harus ada, harus ada yang membantu perusahaan-perusahaan tersebut. Kalau dirasa artikel ini (curhatan saya ini) terlalu memojokkan konsultan lingkungan dan perusahaan mitra, mbok diabaikan saja. Saya juga tahu kok tidak semua konsultan seperti itu, tidak semua perusahaan tambang juga pengelolaannya buruk. Mereka juga patut diperhitungkan keberadaannya. Seperti perusahaan tambang mitra kami ini adalah perusahaan tambang geothermal di Pulau Jawa. Perusahaan tambang geothermal atau mungkin lebih akrab disebut PLTPB, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi—ini merupakan proyek besar yang nantinya digadang sebagai pemasok listrik untuk Pulau Jawa dan Bali. Tuh, kita juga butuh listrik kan. Jangan boros make listrik makanya!

Konsultan tempat saya bekerja juga telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Saya juga merasa lucu kenapa saya cerita begini, iya karena saya khawatir sama Ujang aja. Lucu ya saya, wildlife enthusiast tapi malah gabung ke perusahaan.

Saya ini bukan cuman ingin sambat (mengeluh) saja, bukan cuman ingin berkeluh kesah di sini karena gak punya tempat atau seseorang buat dicurhatin  atau bahkan cari sensasi. Tapi saya juga ingin menunjukkan bahwa saya mendapatkan pengalaman berharga. Sama kok seperti pengalaman-pengalaman lapangan saya sebelumnya. Pekerjaan saya ini—bergabungnya saya dengan perusahaan ini adalah hal yang saya syukuri. Selain karena telah memberikan penghidupan, saya juga belajar banyak hal. Belajar mengurangi sambat salah satunya, belajar biar gak ngilang di hutan, dst. Hal yang saya sukai dalam pekerjaan ini adalah The People. Bekerja di lapangan memaksa saya untuk menyadari seberapa besar kemampuan saya, memahami dan menghargai seseorang termasuk mengontrol diri serta bagaimana bekerja sama dengan tim. Semuanya belum tentu saya dapat dipekerjaan lain. The People yang saya maksud adalah anggota tim saya (tim biologi), bagian admin, dapur, driver, anggota tim lain, babang-babang dan bapak-bapak dari pihak perusahaan mitra, pokoknya semua orang yang sudah berinteraksi dengan saya secara langsung di lapangan. Mereka bukanlah partner, tetapi mereka adalah guru. Guru yang mengajarkan saya hal-hal baru dan hal-hal yang saya tidak bisa saya cari di tempat lain atau pada orang lain. Mereka telah menambahkan bumbu kedewasaan dalam diri saya. Semoga mereka selalu berada dalam keadaan baik-baik saja di mana pun berada.

Anyway, begitulah curahan hati saya. Terima kasih sudah mau mendengarkan. Semoga ini tidak terdengar seperti curhatan sampah anak SMA. Maaf kalau membosankan. Oh iya, postingan ini sepertinya hanya akan terpasang beberapa minggu saja, setelah itu akan segera dihapus. Gak etis aja rasanya nge-bad mouthing perusahaan tempat saya bekerja. Btw, saya sudah tidak bekerja di sana lagi si. Tapi tetep aja takut kalau tiba-tiba dituntut. Gak kuat sewa lawyer. Semoga saya gak dipenjara wkwkwk. Ok, sampai ketemu di mimpi indah yak, eh maksudnya di blog selanjutnya. Jangan lupa sering-sering jenguk kalau perkara udah masuk polisi (amit-amit-amit-amit).

Mengapa Kita Harus Mengkonservasi Keanekaragaman Hayati?

20181229_194732_0001Hi, lama lagi tak bersua. Wuh susah banget nih untuk konsisten dan disiplin memposting di blog. Yah namanya juga manusia. Tetapi yang penting Alhamdulillah saya bisa bersua dengan kalian lagi disini. Well kali ini saya akan membagikan sebuah pandangan yang sebetulnya sudah lama disuarakan oleh orang-orang, tetapi beberapa dari kita masih belum memahami betul maknanya. Apa sih itu? Cekidot.

Tulisan kali ini diawali dengan sebuah pertanyaan besar, persis kayak di judul (maaf gak click bait) “Mengapa kita harus mengkonservasi keanekaragaman hayati?” Kenapa tuh? Ada yang tahu? Sabar yah, kita akan bahas ini (dari pandangan saya).

Kita sering melihat aktivis lingkungan yang sibuk kesana kemari untuk mengunjungi banyak tempat dalam kegiatan semacam kampanye, berbicara pada siapapun yang mereka temui tentang keselarasan ekosistem dan kehidupan alam liar serta nasib keanekaragaman hayati di masa depan. Setelah itu, tak lupa mengambil gambar dan memposting di laman website, beranda instagram dan membuat sebuah cuitan di twitter dengan tagar #Konservasi, itu semua dilakukan agar masyarakat luas bisa mengerti betapa pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati. Beratus-ratus jumlah like, comment dan retweet mewarnai hasil kerja keras mereka. Saya sering menemukan orang-orang macam ini, yang tentunya sebenarnya mereka adalah teman-teman saya sendiri dan saya sangat mengapresiasi dengan apa yang mereka kerjakan, empat jempol deh buat mereka. Hanya saja, masih banyak ataupun mungkin beberapa dari kita yang masih tidak peduli dengan apa yang mereka kerjakan ataupun tidak perduli dengan apa yang mereka percayai.

Kenapa sih harus repot-repot melindungi keanekaragaman hayati?

Kita, kenapa harus repot-repot menjaga atau melestarikan alam? Kenapa saya harus peduli sama hutan sementara saya tinggal di kota? Ngapain harus capek-capek melindungi keutuhan alam sementara kita bisa memanfaatkannya untuk kesejahteraan perekonomian masyarakat Indonesia? Untuk apa sih kita harus takut kehilangan keanekaragaman hayati? Wow pertanyaan-pertanyaan begini yang membuat aktivis lingkungan amatir seperti saya jadi mikir. Pasalnya, seorang teman mengajukan pertanyaan menarik semacam itu kepada saya, dan butuh waktu yang lama untuk membuatnya puas.

Jawaban yang pertama dan utama terlintas dipikiran adalah karena masing-masing spesies itu bermanfaat atau memiliki peran bagi kehidupan. Banyak yang bisa disebutkan untuk menjelaskan bagian ini. Seperti satwa-satwa di hutan yang berperan dalam penyebaran biji dsb. Tetapi kenyataannya tidak semua species itu kita ketahui manfaatnya. Saya benci mengakui ini, tetapi saya seperti kehabisan kata untuk mengungkapkannya. Kasarannya, mereka bertanya untuk apa sih ada kadal dimuka bumi ini? Nah saya harus mikir keras lagi!

Guys, pandanglah dunia ini sebagai sebuah sistem. Setiap entitas dan makhluk di dalamnya saling terhubung ke dalam suatu kesatuan, tak terkecuali manusia. Sejak jaman purbakala, manusia sudah hidup bergantung dari alam. Berburu, berpindah-pindah, dan bertahan hidup dalam cuaca yang ekstrim. Hingga dewasa kini kita tumbuh dan mengubanya menjadi tempat yang lebih baru, menjadi tempat yang penuh asap. Tetapi hingga kini pun kita masih tetap bergantung dari hasil alam. Kita butuh air, udara, tanah yang subur untuk buah-buahan yang kita makan, dan jangan lupakan obat-obatan yang kita perlukan, semuanya disediakan oleh alam. Lalu alam sendiri pun perlu melakukan regulasi untuk mejaga kesehatannya. Ia harus menjaga segala hal yang ada pada dirinya tetap seimbang. Menjaga sesuatunya tetap dalam koridor. Jika salah satu dari satwa-satwa itu punah maka sesungguhnya koridor-koridor itu kacau. Sebuah konsep jaring-jaring makanan telah berulang-ulang kali dijelaskan di bangku sekolah dasar. Padi dimakan tikus, tikus dimakan ular dan ular mati kemudian terurai kembali ke dalam tanah. Sebagai contoh, jikalau populasi ular menurun, hal yang akan terjadi adalah meledaknya populasi tikus dan padi akan semakin habis akibat tikus. Bisa jadi setelah itu terjadi krisis pangan. Sebuah studi oleh The Economics of Ecosystems and Biodiversity, TEEB, yang disponsori oleh PBB, menjelaskan bahwa kepunahan spesies dan ekosistem membuat perekonomian global merugi triliunan dolar per tahun. Kerugian itu didapuk mencapai US$ 2-5 triliun per tahun, terutama di wilayah paling miskin dunia.

Satu paket dengan bentang alam biologi dan Nilai estetikanya

Selain manfaat yang diberikan spesies, ada pula manfaat yang diberikan dari keseluruhan ekosistem. Berbicara mengenai konservasi biodiversitas itu tidak akan bisa dipisahkan dengan konservasi ekosistem dan bentang alam biologi. Untuk bisa mengkonservasi spesies atau sumber keanekaragaman hayati, perlu juga dilakukan untuk mengkonservasi seluruh area ekosistem. Jadi jika kita ingin mengkonservasi orangutan, kita juga harus sepaket mengkonservasi habitatnya dan juga seisinya. Sebagai contoh nih, kamu ingin mempertahankan semua singkong yang tumbuh di kebunmu. Maka kamu juga harus mempertahankan kebunmu dari serangan hama, pencuri atau investor yang ingin mendirikan sebuah pusat perbelanjaan di atas tanah itu. Karena, satwa liar juga makhluk hidup, mereka membutuhkan tempat tinggal beserta isinya yang menyediakan sumber makanan dan kebutuhan lainnya. Sama seperti manusia yang membutuhkan tempat tinggal. Tetapi manusia bertumbuh lebih cepat, mendesak satwa-satwa liar itu menuju kepunahan.

Dengan mempertahankan tempat di mana spesies dapat hidup, berarti kita telah mengkonservasi spesies beserta sumber genetiknya guys. Ketika kita kehilangan suatu spesies dalam ekosistem, dalam artian punah, kita juga kehilangan kesempatan untuk menguji potensi senyawa spesies tersebut. Intinya setiap habitat alami mengandung sumber daya alam yang bisa jadi adalah investasi kehidupan manusia di masa depan. Sebagai contoh nih, suatu spesies tumbuhan hidup di hutan tertentu, setelah diteliti ternyata tumbuhan ini berkhasiat untuk menyembuhkan kanker. So, dengan mem-preseve hutan tersebut, berarti kita juga telah mengkonservasi sumber genetik tumbuhan tersebut. Bayangkan jika kita semua tidak peduli, kanker bisa saja tidak pernah ditemukan penawarnya. Tetapi seandainya kita sadar akan hal itu dan sabar untuk melestarikannya, kita bisa gunakan tumbuhan tersebut sebagai penyembuh kanker di masa mendatang, jadilah kita telah melakukan investasi kesehatan di masa depan.

Setiap area ekosistem juga takkan bisa kita enyahkan dan tak bisa tergantikan dari muka bumi. Ekositem alami adalah tempat terbaik untuk menyimpan pelbagai sumber daya genetik. Sebuah hutan adalah laboratorium alami yang menyimpan pengetahuan menakjubkan, setiap elemen, setiap aliran, setiap jengkalnya menunggu untuk diungkap rahasianya.

Guys, suatu ekosistem alami adalah tempat bermain bagi peneliti dan juga sumber inspirasi bagi banyak seniman, budayawan atau sastrawan seperti Sapardi Djoko Damono dalam puisi-pusinya. Salah satu jenis tempat terbaik bagi anak-anak untuk belajar. Tidak hanya dalam ilmu biologi, ekologi, zoologi atau botani tetapi juga media pembelajaran untuk geografi, sejarah, dan juga literatur.

Segi pemanfaatan selalu menjadi alasan utama, tetapi nilai estetika juga menjadi hal yang tidak bisa ditampik. Akui saja, hutan, pantai dan padang rumput adalah tempat yang terbaik untuk “melarikan diri” dari tekanan kehidupan kota yang menyebalkan. Tidakkah dunia ini akan lebih indah dengan burung-burung bernyanyi di sela pepohonan, atap hutan yang hijau dengan cahaya matahari mengintip melalui celahnya, monyet-monyet bergelantungan di dahan pohon, dan warna-warni ikan bercengkerama menghiasi terumbu karang.

Semua orang suka berwisata ke Raja Ampat, di mana ekosistem terumbu karang terbaik di dunia ada disana. Siapa yang tidak suka berjalan di padang savanna Baluran? atau mengagumi keajaiban pulau komodo, menyemangati tukik untuk kembali ke laut lepas pada suatu acara pelepasan di Bali, serta para pendaki gunung yang tidak pernah bosan untuk menaklukan satu puncak demi puncak untuk menyatu dengan keindahan alam yang mereka temukan. Semua ini adalah bukti nyata pemberian nilai estetika dari bentang alam hayati yang tidak bisa dielakkan. Ditambah lagi dengan iklim tropis yang benar-benar memberi anugrah atas nikmat kemelimpahan keanekaragaman hayati yang maha dahsyat. Siapa yang tidak bisa menikmatinya?

Nilai moral

Setelah mendengarkan jawaban dari poin manfaat dan estetika, sayangnya teman saya itu belum puas. Semua alasan dari poin pemanfaatan bisa diterima, tetapi tidak semua orang menganggap bahwa kelelawar, ular, bekicot, atau laba-laba memiliki nilai keindahan. Lebih buruk lagi diantara mereka malah sangat membenci atau menderita phobia semacamnya. Atau apa sih sesunggunya peran kadal di alam? Sama halnya juga mereka tidak berpikir bahwa rawa gelap penuh ancaman buaya atau ekosistem jelek lainnya adalah tempat terbaik untuk berlibur.

Argumen mengenai poin pemanfaatan pun tidak sepenuhnya menghilangkan keraguan. Beberapa spesies atau ekosistem tidak dapat kita lihat perannya secara langsung. Sebagaimana contoh kasus, suatu hutan yang memiliki jenis tanaman penyembuh kanker. Kemudian para konservasionis berpikir untuk segera mengupayakan langkah konservasi hutan ini karena akan berguna dalam penyembuhan kanker di masa depan. Akan tetapi hal ini sering tidak cukup meyakinkan seseorang dengan pola pikir yang berorientasi pada uang. Mereka berpendapat lebih baik memanfaatkan semua isi hutan tersebut di masa sekarang. Siapa yang tahu apa yang menimpa kita di masa depan? Memiliki tanaman penyembuh kanker mungkin baik untuk 30 tahun dari  sekarang, tetapi setelah 30 tahun itu bisa saja kanker sudah bisa dicegah kemunculannya. Mungkin saja dalam 30 tahun mendatang, bukan kanker yang membunuh kita tetapi mungkin wabah lain atau bencara nuklir.

Dalam kasus ini, keputusan untuk mempertahankan suatu area atau menghancurkan suatu spesies sama saja dengan memberi keputusan untuk membunuh seseorang. Seperti ada seorang yang patut untuk dibunuh karena kejahatan yang tak termaafkan. Eksekutor bisa saja urung membunuh seseorang tersebut karena alasan penjahat itu bisa memberikan keuntungan baginya seperti uang, kesenangan dll. Sementara beberapa orang tidak mau mengotori tangannya untuk membunuh orang tersebut karena alasan moral dan etika. Sama sekali bukan hal yang dibenarkan untuk membunuh seseorang baik secara moral ataupun hukum agama. Pun begitu juga dengan spesies. Jadi kenapa kita masih ragu?

Referensi

Brewer, R. 2004. The science of ecology second edition. Saunders Colledge Publishing. USA

Indrawan, M., R.B. Primack dan J. Supriatna. 2007. Biologi konservasi. Buku obor. Jakarta

BBC Indonesia. 2010. Pertemuan PBB soal keanekaragaman hayati. https://www.bbc.com.indonesia/majalah/2010/10/101018_biodiversitymeeting. Diakses tanggal 29 Desember 2018.